• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

perjanjian lama 4



1. Penindasan oleh Kusyan-Risyataim Diakhiri oleh Otniel (Hak 3:8-11*) 

2. Penindasan oleh Eglon Diakhiri oleh Ehud (#/TB Hak 3:12-30*) 

3. Orang Israel Diselamatkan dari Ancaman Orang Filistin oleh Samgar (Hak 3:31*) 

4. Penindasan oleh Yabin dan Sisera Diakhiri oleh Debora dan Barak (Hak 4:1-5:31*) 

5. Penindasan oleh Orang Midian Diakhiri oleh Gideon (Hak 6:1-8:35*) 

6. Perampasan Kekuasaan oleh Abimelekh (Hak 9:1-57*) 

7. Tola Sebagai Hakim Atas Israel (Hak 10:1,2*) 

8. Yair Sebagai Hakim (Hak 10:3-5*) 

9. Penindasan oleh Orang Amon Diakhiri oleh Yefta (Hak 10:6-11:40*) 

10. Peperangan Antara Orang Gilead dengan Suku Efraim (Hak 12:1-7*) 

11. Ebzan Sebagai Hakim (Hak 12:8-10*) 

12. Elon Sebagai Hakim (Hak 12:11,12*) 

13. Abdon Sebagai Hakim (Hak 12:13-15*) 

14. Simeon dan Orang Filistin (Hak 13:1-16:31*) 

 

III. KEADAAN KACAU PADA ZAMAN PARA HAKIM (HAK 17:1-21:25*) 

A. Penyembahan Berhala oleh Mikha dan Perpindahan Suku Dan (Hak 17:1-18:31*) 

B. Kejahatan di Gibea dan Pertempuran Melawan Suku Benyamin (Hak 19:1-21:25*) 

 


RUT 

 

Kitab ini dinamakan menurut tokoh wanita  yang dikisahkan olehnya, seorang wanita  Moab 

yang sesudah kematian suaminya pergi ke Betlehem bersama ibu mertuanya yang sudah janda. Rut 

menduduki tempat yang penting di dalam sejarah Israel sebab dia menjadi nenek moyang dari Raja 

Daud (Rut 4:18-22) dan Yesus (Mat 1:15).  

 

TANGGAL PENULISAN DAN PENULISNYA 

 

Tanggal penulisan kitab ini tidak diketahui. Para sarjana Alkitab menemukan beberapa petunjuk 

mengenai waktu penulisan itu di dalam kitab ini (Rut 4:17,22), yaitu bahwa kitab ini tidak mungkin 

ditulis sebelum abad kesepuluh sM. Penulis merasa perlu untuk menjelaskan beberapa kebiasaan 

tertentu yang ia anggap kuno (Rut 4:6-8), suatu kenyataan yang menunjukkan bahwa kitab ini ditulis 

sesudah kebiasaan ini  tidak dipakai lagi.  

 

Berapa tahun sesudah masa Daud baru kitab ini ditulis hanya bisa diduga. Sekalipun beberapa  sarjana 

memberi tanggal sampai abad keempat sM, banyak sarjana lainnya memberi tanggal sebelum masa 

pembuangan. Robert Pfeiffer mencatat, "Sifat yang umum dari kosa kata dan susunan kalimat 

Ibraninya, pemakaian ungkapan idiomatis kuno yang ada dalam prosa terbaik Perjanjian Lama… serta 

gaya penulisan yang benar-benar klasik dapat dikemukakan sebagai pendukung bagi sebuah tanggal 

penulisan yang lebih dini" (Introduction to the Old Testament, hlm. 718). Sekalipun demikian, 

Pfeiffer memilih tanggal sekitar 400 sM dan ia berpendapat bahwa seorang penulis yang berbakat dari 

masa yang kemudian bisa saja menulis kitab ini mengikuti pola yang sudah ada sebelumnya.  

 

Edward Young yang meminta perhatian pada soal tidak disebutnya nama Salomo di dalam silsilah, 

berpendapat bahwa seorang penulis yang belakangan pasti akan memperluas silsilah itu sampai 

sesudah masa Daud, sebab  itu kitab ini mungkin ditulis pada suatu saat dalam pemerintahan Daud 

(Introduction to the Old Testament, hlm. 358).  

 

Talmud (Baba Bathra, 14b) menyebut Samuel sebagai penulis kitab ini; pandangan ini tidak dianut 

lagi oleh kalangan sarjana Yahudi maupun Kristen. Seperti halnya di dalam Kitab-kitab sejarah 

Perjanjian Lama lainnya, kita tidak dapat menyebut satu pun pengarang yang dikenal sebagai penulis 

kitab ini. Hal ini tentu saja tidak mengurangi nilai rohani dan keindahan sastra dari episode yang 

berasal dari masa hakim-hakim ini, yang berhasil diabadikan seorang penulis Yahudi tidak dikenal.  

 

 DI DALAM LITURGI YAHUDI, Gulungan Naskah Rut dibacakan pada Hari Pentakosta.  

 

LATAR BELAKANG SEJARAH. 

 

Periode Hakim-hakim merupakan masa penuh gejolak dan keresahan. Persaingan di antara suku dan 

penindasan asing telah melemahkan Israel secara politis, dan kemudian penyembahan berhala telah 

menghisap kekuatan moral dari bangsa yang telah mengalami kuasa Allah pada saat eksodus dari 

Mesir ini. namun , kisah Rut menampilkan sisi kehidupan yang berbeda dari masa ini. Di sini kita 

membaca tentang kebahagiaan dan kesedihan dari sebuah keluarga yang saleh dari Betlehem. Rut, 

seorang wanita  Moab yang menjadi penyembah Allah Israel, menunjukkan iman dan kesetiaan 

yang sangat langka pada waktu itu di Israel. Sesudah kesedihan akibat kematian suaminya, Rut 

kembali ke Betlehem bersama ibu mertuanya lalu akhirnya menikah dan berbahagia dengan Boas. 

Dengan demikian dia menjadi nenek moyang Daud.  

 

RUT 

 

I. KELUARGA ELIMELEKH PINDAH KE MOAB (RUT 1:1-5) 

II. JANDA ELIMELEKH DAN MENANTUNYA KEMBALI DARI MOAB (RUT 1:6-18) 

III. NAOMI DAN RUT TIBA DI BETLEHEM (RUT 1:19-22) 

IV. RUT IKUT MENUAI DI LADANG BOAS (RUT 2:1-23) 

V. RUT MENEMUKAN SEORANG PENEBUS (RUT 3:1-18) 

VI. BOAS MENIKAHI RUT (RUT 4:1-17) 

VII. RUT MENJADI NENEK MOYANG DAUD (RUT 4:18-22) 

 

I & II SAMUEL 

  

Judul kedua kitab ini berasal dari nama tokoh utamanya di awal I Samuel. Kata Ibrani SAMUEL 

memiliki banyak arti. Sekalipun demikian, arti yang pertama kali diusulkan oleh sarjana bahasa Ibrani 

dari Jerman, Gesenius, "Nama Allah" tampaknya masih menduduki peringkat paling banyak dianut 

para sarjana Alkitab.  

 

TANGGAL PENULISAN DAN PENULISNYA 

 

Seperti halnya Kitab Perjanjian Lama lainnya, tanggal penulisan kedua kitab ini tidak diketahui 

dengan pasti. Sebagian dari kesulitan untuk menentukan tanggal penulisan ini  terletak pada 

kenyataan bahwa sebagian besar peristiwa yang ada  di dalamnya terjadi sesudah kematian 

Samuel. Bagian awal dari I Samuel mungkin ditulis sekitar tahun 1000 sM, sisanya kira-kira 

tiga.puluh hingga lima puluh tahun kemudian. Sekalipun Talmud menyebutkan bahwa Samuel yaitu  

penulisnya, sangat mungkin sang nabi hanya menulis bagian-bagian sejarah Israel yang terjadi 

sebelum masa purna baktinya dari jabatan sipil. Ada yang berpendapat, pendapat ini cukup menarik, 

bahwa Abiatar menulis sebagian besar Kitab pertama dan kedua Samuel, khususnya bagian-bagian 

yang membahas kehidupan di istana Daud. Abiatar sangat dekat dengan kemunculan dan nasib baik 

raja besar Israel itu sebab  dia ikut beberapa waktu bersama Daud dalam pelariannya. Abiatar juga 

berasal dari keluarga imam sehingga memiliki kemampuan untuk menulis dan mencatat. Pendapat 

yang lain mengatakan bahwa salah satu murid dari salah satu sekolah yang didirikan Samuel telah 

melanjutkan tugas yang dimulai gurunya.  

 

LATAR BELAKANG SEJARAH 

 

Panggilan Samuel untuk menjadi nabi dan hakim Israel merupakan sebuah titik balik yang kuat di 

dalam perkembangan Kerajaan Allah Perjanjian Lama. Pada masa peralihan dari kepemimpinan para 

hakim pilihan Allah ke masa kerajaan, Samuel mempunyai tugas amat besar untuk memimpin 

pembangunan kembali kesatuan sosial dan religius bangsa itu. Dia merupakan alat yang dipakai Allah 

untuk mendirikan kerajaan Israel pada saat krisis nasional yang hebat ini, yang pentingnya hanya bisa 

ditandingi oleh pengalaman eksodus saja. Tugas Samuel ialah memimpin Israel keluar dari masa 

hakim-hakim dan memasuki masa raja-raja.  

 

Dia menyelesaikan tugas para hakim bukan dengan kekuatan fisik tangannya saja, namun dengan 

kuasa rohani dari ucapan dan doanya. Dia juga meletakkan landasan bagi jabatan nabi dan 

mengembangkan jabatan ini  hingga mencapai tingkatan imamat dan kerajaan. Sejak saat itu, 

para nabi memelihara dan mengasuh kehidupan rohani bangsa itu dan merupakan sarana melalui siapa 

kehendak Allah disampaikan kepada pemimpin dan kepada warga .  

 

 

I & II SAMUEL 

 

 

I. KEHIDUPAN DAN PELAYANAN SAMUEL (1SAM 1:1-7:17) 

A. Kelahiran dan Masa Kanak-kanak Samuel (1Sam 1:1-4:1a) 

B. Tabut Perjanjian Dirampas dan Kembali (1Sam 4:1b; 1Sam 7:1) 

C. Kemenangan Atas Orang Filistin (1Sam 7:2-17) 

 

II. KEHIDUPAN DAN MASA TUGAS SAUL (1SAM 8:1-14:52) 

A. Israel Meminta Seorang Raja (1Sam 8:1-22) 

B. Kehidupan Politik Saul (1Sam 9:1-12:25) 

C. Perang Kemerdekaan (1Sam 13:1-14:52) 

 

III. KEHIDUPAN DAN MASA TUGAS MULA-MULA DAUD (1SAM 15:1-31:13; 2SAM 1:1-

20:26) 

A. Saul Ditolak oleh Samuel (1Sam 15:1-35) 

B. Daud Diurapi Sebagai Raja (1Sam 16:1-13) 

C. Daud di Istana Saul (1Sam 16:14-19:17) 

D. Daud dalam Pelarian (1Sam 19:18-31:13) 

E. Daud Raja di Hebron (2Sam 1:1-4:12) 

F. Daud Raja di Yerusalem (2Sam 5:1-8:18) 

G. Kehidupan Daud di Istana (2Sam 9:1-20:26) 

 

IV. HARI-HARI TERAKHIR DAUD (2SAM 21:1) 

A. Kelaparan (2Sam 21:1-14) 

B. Tindakan-tindakan Kepahlawanan (2Sam 21:15-22) 

C. Mazmur Daud (2Sam 22:1-51) 

D. Wasiat Daud (2Sam 23:1-7) 

E. Tindakan-tindakan Kepahlawanan (2Sam 23:8-39) 

F. Sensus dan Tulah (2Sam 24:1-25) 

 


I & II RAJA-RAJA 

 


Kitab yang dikenal dengan I dan II Raja-Raja dinamakan demikian menurut isinya. Di dalam 

Septuaginta, para raja Ibrani asli dianggap sebagai kesinambungan dari yang dibahas di dalam Kitab 

Samuel. Kitab ini dibagi menjadi dua bagian dan diberi judul Kerajaan Ketiga dan Kerajaan Keempat. 

Yerome, sekalipun tetap mempertahankan pembagian ini di dalam Vulgatanya, menyebutkan kedua 

bagian ini hanya Kitab Raja-Raja.  

 

Kedua kitab ini jelas merupakan satu kesatuan, mencakup sejarah Israel sejak masa pemerintahan 

Salomo hingga pecahnya negeri itu pada zaman Zedekia. Yang dibahas di dalamnya ialah jatuh 

bangunnya bangsa Israel di bawah perjanjian dengan Allah dengan menunjukkan dosa-dosa para raja 

yang melanggar perjanjian itu dan menghasilkan pembuangan Israel dan Yehuda.  

 

TANGGAL PENULISAN DAN PENGARANGNYA 

 

II Raja-Raja diakhiri dengan dilepasnya Raja Yoyakhin dari penjara pada tahun ketiga puluh tujuh 

dari masa pemenjaraannya-sekitar 562/561 sM. Kitab ini tidak mungkin sudah selesai ditulis sebelum 

tanggal itu, juga tidak mungkin sesudah 536 sM, yaitu tahun kembalinya sebagian tawanan dari Babel 

sebab  peristiwa itu tidak disebut sama sekali. sebab  kitab ini merupakan satu kesatuan dan bukan 

hasil tulisan beberapa orang penulis dalam kurun waktu yang berbeda-beda, maka tanggal penulisan 

kitab ini yaitu  di antara 562-536 sM.  

 

sebab  pelepasan Yoyakhin hanya penting bagi orang Yahudi yang ditawan di Babel, kita dapat 

berkesimpulan bahwa I & II Raja-Raja ditulis oleh seorang tawanan Yahudi yang hidup di wilayah 

Babel.  

 

SUMBER-SUMBER TULISAN 

 

Penulis dengan jelas mengemukakan bahwa dia memakai beberapa  dokumen sumber untuk menyusun 

sejarah ini:  

1) Kitab Riwayat Salomo (1Raj 11:41);  

2) Melihat acuan-acuan tentang Riwayat Raja-raja Yehuda (mis. 1Raj 14:29) dan riwayat Raja-raja 

Israel (1Raj 14:19).  

Dokumen-dokumen pertama yang dipakai untuk menyusun sejarah para Raja Yehuda tidak pernah 

tercampur dengan dokumen-dokumen sejarah para Raja Israel. sebab  itu kita dapat mengetahui 

bahwa setiap dokumen yang disebutkan di atas merupakan dokumen tersendiri. Semua kutipan dari 

dokumen-dokumen ini  menunjukkan bahwa setiap dokumen berisi bahan yang jauh lebih banyak 

daripada yang dikemukakan di dalam kitab Raja-Raja ini.  

 

beberapa  penulis tertentu yang menghasilkan dokumen-dokumen pertama disebutkan untuk kita pada 

nas-nas yang paralel di dalam I dan II Tawarikh: Natan, sang nabi, Ahia orang Silo dan Ido (2Taw 

9:29); Semaya sang nabi dan Ido sang pelihat (2Taw 12:15*);  Ido sang nabi (1Raj 13:22); Yesaya 

sang nabi (2Taw 26:22; 32:32); Yehu (1Raj 16:1*). sebab  dokumen sumber informasi ini  

berisi nubuat, bukan hanya catatan sejarah, di sini kita berhadapan dengan catatan blak-blakan 

mengenai perbuatan para raja. Tidak akan ada analis kerajaan yang berani menulis fakta-fakta jelek 

tentang Daud atau Yerobeam I sebagaimana dikemukakan di sini.  

 


TUJUAN DAN MAKSUD PENULISAN 

 

Sekalipun perhatian utama penulis yaitu  kerajaan Daud, dia membahas masalah sampingan terlebih 

dahulu, yaitu kerajaan di Israel. Sesudah itu baru dia kembali membahas kerajaan Daud. Sekalipun 

bangsa itu mengenali dokumen-dokumen berisi nubuat tentang sejarah ini, jumlahnya terlalu banyak, 

tebal dan membosankan untuk dapat langsung menunjukkan kepada umat itu tentang kehendak Allah; 

oleh sebab  itulah Kitab Raja-Raja ditulis.  

 

Dengan memakai beberapa  kutipan dari berbagai dokumen ini , penulis menyusun sejarah bangsa 

pilihan itu dalam kaitan dengan perjanjian Yehova (Kel 19:3-6). Mereka tidak boleh memiliki allah 

lain selain Tuhan (Kel 20:2-6). Penyembahan berhala dan patung dianggap sebagai dosa yang paling 

buruk di dalam kitab-kitab ini, yang setelah berkali-kali dilakukan orang Israel akhirnya membuat 

mereka dibuang sebagai tawanan. Bahasa yang dipakai di, dalam kitab-kitab ini bisa dikatakan 

bersifat "Deuteronomis" sebab Kitab Ulangan berbicara dengan cara yang sama terhadap dosa yang 

sama yang dikutuk dalam Kitab Raja-Raja I & II. Penulis Kitab Raja-Raja mengangkat sejarah Israel 

dan Yehuda di depan para tawanan itu untuk mengajar mereka bahwa satu-satunya jalan menuju 

kebebasan yaitu  bertobat dari penyembahan berhala, kembali kepada Allah, melaksanakan apa yang 

diperintahkan di dalam perjanjian dan kembali mengandalkan janji-janji Allah. Penulis berusaha 

membangkitkan keyakinan mereka akan kebenaran pengajaran ini dan memperteguh keyakinan 

mereka itu.  

 

Di dalam kaitannya dengan perjanjian, para nabi itu merupakan utusan Allah yang bertugas 

mengingatkan bangsa itu akan ketetapan-ketetapan dari perjanjian ini , serta merupakan alat 

Allah untuk mengawasi pelaksanaannya. Tugas mereka yaitu  berusaha membuat bangsa itu setia 

kepada perjanjian dengan memakai peringatan, ancaman dan janji (bdg. Yer 7:13; 11:1-8). Di dalam 

Kitab Raja-Raja ini para raja dinyatakan sebagai baik atau jahat ditinjau dari kesetiaan atau 

penyimpangan mereka terhadap perjanjian.  

 

LATAR BELAKANG SEJARAH.  

 

Bangsa Israel merupakan bangsa kuno pertama yang mengembangkan ilmu sejarah yang benar. 

Bangsa lainnya seperti Asyur, Babilon dan Mesir memang menyusun juga catatan-catatan sejarah, 

namun hanya bangsa Het saja di antara bangsa-bangsa non-Yahudi yang berusaha menulis Sejarah.  

 

Pada zaman pemerintahan Daud kekuasaan Mesir sudah pudar sedang  Asyur lemah, sehingga 

Israel diapit oleh negeri-negeri yang lemah. Sekalipun demikian, tidak lama kemudian Asyur bangkit 

di bawah pimpinan Tiglat-Pileser III (juga dinamakan Pul dalam 2Raj 15:19; tahun 745-727 sM). 

Pada tahun 721 sM Samaria jatuh sebab  serangan Salmaneser dan Sargon. Belakangan, di bawah 

pimpinan Sanherib, Asyur menyerbu Yehuda dan berhasil menduduki banyak kota, namun mereka 

gagal menguasai Yerusalem sebab ada ancaman pasukan Mesir di belakang. Esarhadon dan 

Asurbanipal kemudian berhasil memperluas wilayah kekuasaan Asyur sampai ke Mesir.  

 

Pada zaman Yosia, Firaun Nekho meminta tolong kepada Asyur untuk melawan Babilon di 

Karkhemis, namun kedua kekuatan itu berhasil dikalahkan. Tidak lama kemudian Nebukadnezar yang 

memperoleh kemenangan menyerbu Palestina dan pada serangan ketiga ke arah Yerusalem dia 

berhasil menjarah dan memusnahkan kota itu serta menawan penduduknya (586 sM).  

 

 

I & II RAJA-RAJA 

 

 

.I KERAJAAN SEJAK SALOMO HINGGA REHABEAM (1RAJ 1:1-11:43) 

A. Salomo Naik Takhta (1Raj 1:1-2:46) 

1. Usaha Adonia Naik Takhta Digagalkan (1Raj 1:1-53) 

2. Perkataan Terakhir dan Kematian Daud (1Raj 2:1-11) 

3. Salomo Menyingkirkan Saingan-saingannya (1Raj 2:12-46) 

B. Hikmat dan Kekayaan Salomo (1Raj 3:1-4:34) 

1. Pernikahan Salomo dengan Putri Firaun (1Raj 3:1) 

2. Penyembahan dan Penglihatan Salomo (1Raj 3:2-15) 

3. Hikmat Salomo Ditampilkan (1Raj 3:16-28) 

4. Pengaturan Kerajaan (1Raj 4:1-28) 

5. Rangkuman Tentang Hikmat Salomo (1Raj 4:29-34) 

C. Kegiatan Membangun oleh Salomo (1Raj 5:1-9:28) 

1. Persiapan Membangun Bait Allah (1Raj 5:1-18) 

2. Pembangunan Bait Allah (1Raj 6:1-38) 

3. Istana Salomo dan Bangunan Lainnya (1Raj 7:1-12) 

4. Perlengkapan Bait Suci (1Raj 7:13-51) 

5. Pentahbisan Bait Allah (1Raj 8:1-66) 

6. Pengesahan Perjanjian Daud (1Raj 8:1-66) 

7. Rangkuman Kegiatan Membangun yang Dilakukan Salomo (1Raj 9:10-28) 

D. Masa Kejayaan Salomo (1Raj 10:1-29) 

1. Kunjungan Ratu Syeba (1Raj 10:1-13) 

2. Kemuliaan dan Kekuasaan Kerajaan Salomo (1Raj 10:14-29) 

E. Kemurtadan, Kemunduran dan Kematian Salomo (1Raj 11:1-43) 

1. Ketidaksetiaan Salomo kepada Allah (1Raj 11:1-13) 

2. Musuh dan Perpecahan yang Akan Datang (1Raj 11:14-40) 

3. Kematian Salomo (1Raj 11:41-43) 

 

.II KERAJAAN YANG TERPECAH, DARI REHABEAM SAMPAI KEJATUHAN ISRAEL 

(1RAJ 12:1-2RAJ 17:41) 

A. Antagonisme Mula-mula Antara Israel dengan Yehuda, dari Yerobeam Hingga Omri (1Raj 

12:1-16:28) 

1. Pecahnya Kerajaan (1Raj 12:1-33) 

2. Pemerintahan Yerobeam I dan Kematiannya (1Raj 13:1-14:20) 

3. Yehuda di Bawah Pemerintahan Rehabeam, Abiam dan Asa (1Raj 14:21-15:24) 

4. Israel di Bawah Pemerintahan Nadab, Basya, Elah, Zimri dan Omri (1Raj 15:25-16:28*) 

B. Mulai Ahab Hingga Yehu Naik Takhta (1Raj 16:29-2Raj 9:10) 

1. Awal Pemerintahan Ahab di Israel (1Raj 16:29-34) 

2. Pelayanan Elia dan Panggilan Elisa (1Raj 17:1-19:21) 

3. Masa Akhir Pemerintahan Ahab dan Kematiannya (1Raj 20:1-22:40) 

4. Yehuda di Bawah Pemerintahan Yosafat (1Raj 22:41-49) 

5. Israel di Bawah Pemerintahan Ahazia dan Yoram (1Raj 22:50-2Raj 1:1) 

6. Masa Akhir Elia Sampai Pengangkatannya ke Surga (2Raj 1:2-2:11) 

7. Elisa Diperkenalkan (2Raj 2:12-25) 

8. Yoram Menyerang Moab (2Raj 3:1-27) 

9. Pelayanan Elisa sebagai Nabi (2Raj 4:1-8:15) 

10. Masa Pemerintahan Yoram dan Ahazia di Yehuda (2Raj 8:16-29) 

11. Yehu Diangkat Menjadi Raja Israel (2Raj 9:1-10) 

 

C. Dari Yehu Hingga Hancurnya Kerajaan Israel (2Raj 9:11) 

1. Masa Pemerintahan Yehu (2Raj 9:11-10:3) 

2. Atalya dari Yehuda (2Raj 11:1-20) 

3. Yehuda di Bawah Pemerintahan Yoas (2Raj 11:21-12:21) 

4. Israel di Bawah Pemerintahan Yoahas dan Yoas (2Raj 13:1-25) 

5. Yehuda di Bawah Pemerintahan Amazia dan Azarya (2Raj 14:1-22) 

6. Masa Pemerintahan Yerobeam II di Israel (2Raj 14:23-29) 

7. Masa Pemerintahan Azarya di Yehuda (2Raj 15:1-7) 

8. Masa Pemerintahan Zakharia, Salum, Menahem, Pekahya, dan Pekah di Israel (2Raj 15:8-

31) 

9. Yehuda di Bawah Pemerintahan Yotam dan Ahas (2Raj 15:32-16:20) 

10. Kehancuran dan Pembuangan Israel (2Raj 17:1-41) 

 

.III KERAJAAN YEHUDA HINGGA KEHANCURAN AKHIR BANGSA ISRAEL  

  (2RAJ 18:1-   25:30) 

A. Kerajaan di Bawah Pemerintahan Hizkia (2Raj 18:1-20:21) 

1. Aneka Pembaharuan yang Diadakan Hizkia (2Raj 18:1-12) 

2. Luput dari Dua Serbuan Sanherib (2Raj 18:13) 

3. Hizkia Jatuh Sakit dan Kesembuhannya (2Raj 20:1-11) 

4. Utusan Merodakh-Baladan (2Raj 20:12-19) 

5. Kematian Hizkia (2Raj 20:20,21) 

B. Pemerintahan Manasye dan Amon (2Raj 21:1-26) 

1. Kejahatan dan Kematian Manasye (2Raj 21:1-18) 

2. Dosa-dosa dan Kematian Amon (2Raj 21:19-26) 

C. Pembaharuan di Yehuda dan Israel oleh Yosia (2Raj 22:1-23:30) 

D. Hari-hari Terakhir Yehuda (2Raj 23:31-25:26) 

1. Pemerintahan dan Penawanan Yoahas (2Raj 23:31-34) 

2. Masa Pemerintahan Yoyakim dan Serbuan Nebukadnezar (2Raj 23:34-24:7) 

3. Masa Pemerintahan Yoyakhin dan Pembuangannya (2Raj 24:8-16) 

4. Masa Pemerintahan Zedekia (2Raj 24:17-20) 

5. Pengepungan dan Kejatuhan Yerusalem (2Raj 25:1-21) 

6. Gubernur Boneka, Gedalya (2Raj 25:22-26) 

E. Penutup: Pembebasan Yoyakhin (2Raj 25:27-30) 

 

 


I & II TAWARIKH 

 

Di dalam Alkitab Ibrani, Kitab Tawarikh berjudul dibrê hãy-yamîm, "Rangkaian kejadian” 

(harfiahnya, kabar) dari zaman itu." Jurnal sejarah lainnya, yang kini sudah tidak ada lagi, seperti 

Dibre Hay-yamim Raja Daud" (1Taw 27:24) memakai istilah yang sama ini. sebab  itu judul ini  

berarti "catatan tahunan," atau "Tawarikh," sebagaimana diusulkan oleh Yerome, salah satu Bapa 

Gereja, dan dipakai hingga sekarang. Kitab I dan II Raja-Raja menyebutkan catatan tahunan yang 

sama dengan judul "Dibre Hay-yamim raja-raja Israel" (mis. 1Raj 14:19) "raja-raja Yehuda" (1Raj 

14:29). Namun, sebutan-sebutan itu tidak mungkin mengacu pada kedua Kitab Tawarikh yang 

sekarang, yang baru ditulis sekitar seratus tahun sesudah Kitab Raja-Raja, sehingga menimbulkan 

kesan adanya kitab sejenis lainnya yang hilang.  

 

Kedua kitab ini pernah hanya merupakan satu kitab saja. Pembagian yang ada sekarang menjadi dua 

jilid muncul saat  Perjanjian Lama diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani yang dibuat sekitar tahun 

150 sM, sekalipun sekarang semua Alkitab mengikutinya, termasuk juga kitab-kitab yang memakai 

bahasa Ibrani. Selain itu, dalam pengaturan kanon pertama, Kitab Tawarikh diletakkan pada akhir 

Perjanjian Lama. Dengan demikian dalam Luk 11:51 Kristus berbicara tentang semua sahid dari 

Habil di dalam kitab pertama (Kej 4) hingga Zakharia di kitab terakhir (2Taw 24).  

 

TANGGAL PENULISAN DAN PENULIS.  

 

Penulis Tawarikh tidak mengemukakan kapan, atau oleh siapa, kedua kitab ini ditulis. Kitab-kitab ini 

mencatat rangkaian peristiwa hingga Koresy mengeluarkan ketetapan pada tahun 538 sM yang berisi 

izin bagi orang-orang Yahudi untuk kembali ke tanah kelahiran mereka (2Taw 36:22). Selain itu, 

daftar keturunan mereka menyebut cucu Raja Yekhonya, yaitu Zerubabel (1Taw 3:19), yang 

memimpin orang Yahudi kembali pada tahun 537 sM. Penulis kemudian mengisahkan keturunan 

Zerubabel hingga dua orang cucunya, yaitu Pelaca dan Yesaya (1Taw 3:21), atau hingga sekitar tahun 

500 sM. Menyusul empat nama orang-orang yang hubungannya dengan Raja Yekhonya tidak 

disebutkan dengan jelas. namun  keluarga dari tokoh terakhir, yaitu Sekhanya (1Taw 3:21) ditelusuri 

terus sampai kepada tujuh buyutnya (1Taw 3:24). Jadi, jika Sekhanya merupakan orang yang hidup 

sezaman dengan Raja Yekhonya yang lahir pada tahun 616 sM, maka empat angkatan tambahan ini 

menuntun kita hingga sekitar tahun 500 sM sebagai, tanggal penulisan yang paling awal bagi Kitab-

kitab Tawarikh ini berlandaskan pada bukti yang ada di dalam naskah Tawarikh itu sendiri.  

 

Sekalipun demikian, asal-usul Kitab Tawarikh ini ditunjukkan secara kuat oleh hubungannya yang 

erat dengan sebuah Kitab Perjanjian Lama lainnya, yaitu Kitab Ezra, yang melukiskan rangkaian 

peristiwa sejak ketetapan yang dikeluarkan oleh Raja Koresy hingga tahun 457 sM. Tradisi Ibrani 

menegaskan bahwa Ezra menulis Kitab Tawarikh dan Kitab Ezra, kesimpulan mana dibenarkan oleh 

hasil penelitian akademis modern dari William F. Albright (JBL, 40 1921, hlm. 104-124); dan kedua 

kitab ini  memiliki gaya penulisan dan jenis laporan yang sama. Hal ini tampak dari seringnya 

ada daftar dan daftar keturunan, penekanan yang sama pada ritual upacara, dan juga perhatian yang 

besar terhadap Taurat Musa. Selain itu, ayat-ayat penutup Kitab Tawarikh (2Taw 36:22,23) diulang 

kembali sebagai ayat-ayat pembuka Kitab Ezra (1Taw 1:1-3a). Semua ini tampaknya untuk 

menunjukkan bahwa Kitab Tawarikh dan Kitab Ezra merupakan satu sejarah yang berkesinambungan 

yang telah disusun oleh Ezra pada sekitar tahun 450 sM. Kenyataan bahwa Kitab II Tawarikh berakhir 

di tengah-tengah ketetapan Koresy menunjukkan bahwa pada saat Ezra diilhamkan untuk menulis 

Kitab Tawarikh sebagai bagian akhir dari Perjanjian Lama, ia dengan sengaja menuntun pembacanya 

kembali kepada Kitab Ezra. Bagian yang kedua dari tulisannya ini Ia tampaknya sudah diletakkan 

oleh Allah di dalam kanon Alkitab sebagai kelanjutan catatan sejarah dari Kitab Raja-Raja. 

Page 34 of 130

Selanjutnya, sebab  Kitab Ezra terpisah dari Kitab Tawarikh di dalam susunan Alkitab Ibrani oleh 

otobiografi dari Nehemia yang menyebut tentang Raja Darius II yang memerintah sejak 423 sM  

(Neh 12:22), maka kita dapat menentukan tanggal penggabungan Kitab Tawarikh dan ditutupnya 

kanon Perjanjian Lama pada sekitar tahun 420 sM.  

 

Jika Ezra (Ezr 7:6) yaitu  penulis dari Kitab-kitab Tawarikh ini, maka kedudukannya sebagai ahli 

kitab sangat mungkin menjelaskan pengetahuan yang cukup mendalam mengenai sumber-sumber 

sejarah yang ada saat  itu di dalam kedua kitab ini. Sumber-sumber ini  termasuk tulisan dari 

nabi-nabi awal seperti Samuel, Natan, Gad (1Taw 29:29), Ahiya, Ido, Semaya (2Taw 9:29; 12:15), 

Yehu putra Hanani (2Taw 20:34) dan nabi-nabi yang kemudian seperti Yesaya (2Taw 32:32) dan 

Hosai (2Taw 33:19-ASV). Acuan utama dari penulis Kitab Tawarikh ini yaitu  "kitab raja-raja 

Yehuda dan Israel" (2Taw 16:11; 25:26, dll.) bersama dengan "tafsiran (midras) Kitab Raja-Raja" 

(2Taw 24:27). namun  sekalipun kedua Kitab Tawarikh ini sering kali mengikuti Kitab Raja-Raja 

secara cukup cermat, Kitab Raja-Raja yang ada pada kita tidak mungkin merupakan sumber masukan 

yang dimaksudkan ini . Sebab ayat-ayat seperti 1Taw 9:1 dan 2Taw 27:7 menyebutkan Kitab 

Raja-Raja" sebagai sumber masukan tambahan bagi beberapa  daftar keturunan tertentu atau beberapa 

peperangan yang tidak dicantumkan di dalam Kitab Raja-Raja yang ada pada kita. Acuan utama ini 

pastilah merupakan catatan istana yang lebih luas lagi dan kini sudah tidak ada, yang juga 

mencantumkan beberapa  tulisan nubuat dari Yehu (2Taw 20:34) atau beberapa  pasal dari Yes 36; 37; 

38; 39 (2Taw 32:32). Dari sumber inilah Kitab Raja-Raja dan Tawarikh mendapat  masukan 

utamanya (bdg. Yes 36; 37; 38; 39 dengan 2Raj 18:13-20:19 dan 2Taw 32).  

 

Semangat Ezra untuk memantapkan Taurat Musa (Ezr 7:10) telah membuatnya kembali dari Babel ke 

tengah-tengah masyarakat Yahudi di Palestina pada tahun 458 sM. Ezra langsung mengambil 

beberapa  tindakan untuk menghidupkan kembali penyembahan di Bait Allah (Ezr 7:19-23,27; 

8:33,34) dan untuk meniadakan pernikahan campur yang telah dilakukan oleh beberapa  orang Yahudi 

dengan para tetangga mereka yang kafir (Ezr 9; 10). Dalam kaitan dengan kekuasaan besar yang 

diberikan kepada Ezra oleh raja Persia (Ezr 7:18,25), Ezra rupanya merupakan orang yang mengawali 

dibangunnya kembali tembok-tembok pelindung Yerusalem (Ezr 4:8-16). Baru setelah Ezra 

didampingi oleh Nehemia pada tahun 444 sM, tembok-tembok Yerusalem sungguh-sungguh dibangun 

kembali (Ezr 4:17-23; Neh 6:15,16) dan Taurat Musa diakui sepenuhnya oleh masyarakat (Neh 8). 

namun  bahwa yang menjadi tujuan penulis Tawarikh ialah pembangunan kembali teokrasi tampak dari 

ciri-ciri kitab itu sendiri.  

 

Dibandingkan dengan kisah-kisah sejarah yang lain di dalam Kitab Kejadian, I dan II Samuel, serta I 

dan II Raja-Raja, Kitab Tawarikh yang bertujuan memelihara kemurnian bangsa dan agama, dijejali 

dengan daftar keturunan (mis: 1Taw 1; 2; 3; 4; 5; 6; 7; 8; 9). Juga sebab  kedua kitab ini bertujuan 

untuk memelihara imamat dan penyembahan yang benar, kitab ini memberi  lebih banyak 

penekanan pada Taurat Musa, Bait Allah (1Taw 22) dan pada Tabut Perjanjian, orang-orang Lewi 

serta para penyanyi (1Taw 13;  15;  16). Kitab ini tidak menyebutkan kegiatan para raja (II Sam. 9; 

1Raj 3:16-28) dan juga kisah yang panjang tentang para nabi (seperti 1Raj 17:1-22:40 atau 2Raj 1:1-

8:15). Penekanan khusus pada jabatan imam membuat kedua kitab ini digolongkan dalam bagian 

ketiga (tulisan-tulisan) di dalam kanon Ibrani, terpisah dari I. 2Raj 1*1 Samuel serta I dan II Raja-raja 

yang dengan penekanannya pada hal-hal moral menempatkan mereka sebagai kitab nabi-nabi di 

bagian yang kedua. akhirnya tujuan penulisan kedua kitab ini, yaitu memberi semangat bagi mereka 

yang telah hilang harapan akibat penderitaan masa pembuangan, menjelaskan mengapa kitab-kitab ini 

mengisahkan serangkaian kemenangan yang Allah berikan pada zaman kejayaan Yehuda dahulu 

(2Taw 13;  14;  20;  25). Tujuan penulisan ini juga menjelaskan mengapa beberapa  kegagalan Daud 

(2Sam 1; 2; 3; 4) tidak disebutkan di dalam Kitab Tawarikh ini, juga beberapa  dosa dan 

kekalahannya yang belakangan (II Sam, 11-21) serta berbagai kegagalan Salomo (1Raj 11) dan 

seluruh lembaran hitam lainnya di dalam sejarah kerajaan Yehuda.  

Page 35 of 130

sebab  ciri-ciri ini , sebagian besar pengritik non-Injili terhadap Perjanjian Lama saat ini 

menolak kedua Kitab Tawarikh ini sebab  dianggap merupakan propaganda orang Lewi abad ke-5 

dengan beberapa  revisi yang luas (dan bertentangan) yang dilaksanakan sampai sekitar tahun 250 sM 

(demikian Adam C. Welch, Robert Pfeiffer dan W. A. L. Elmslie). Dikatakan bahwa kitab ini tidak 

mungkin merupakan sejarah yang aktual namun sekadar "peristiwa yang seharusnya terjadi" (IB, III: 

341). Angka-angka yang besar seperti satu juta orang Etiopia yang menyerbu (2Taw 14:9) dianggap 

sebagai mustahil. Sekalipun demikian, penjelasan-penjelasan yang bisa dibenarkan, dapat 

dikemukakan terhadap keberatan-keberatan semacam itu (lih. pembahasan di bawah atau Edward J. 

Young, An Introduction to the Old Testament, hlm. 388-390). Lagi pula, kecaman ini berlandaskan 

pada penolakan liberalisme sebelumnya bahwa Musa yang menulis Pentateukh, yang upacara-upacara 

di dalamnya dibenarkan di dalam kedua Kitab Tawarikh ini. Peneliti Alkitab yang tidak percaya 

dengan demikian sebelumnya terpaksa harus mengemukakan alasan-alasan yang menyanggah 

keaslian sejarah kedua kitab ini. namun , beberapa  penggalian purbakala di Ugarit kuno telah 

membenarkan keaslian dari ritual-ritual ini  di Kanaan pada zaman Musa (J. W. Jack, The Ras 

Shamra Tablets: Their Bearing On the Old Testament, hlm. 29 dst.). Albright mencatat adanya 

beberapa  pernyataan sejarah di dalam kedua Kitab Tawarikh ini yang telah dibenarkan keasliannya 

oleh penggalian purbakala (BASOR 100, 1945 hlm. 18). Selanjutnya yaitu  penting bahwa sekalipun 

kedua Kitab Tawarikh ini menekankan sisi yang baik dari sejarah Israel, kedua kitab ini juga tidak 

menutup mata terhadap kegagalan-kegagalannya. Justru dianggap bahwa sisi yang lain ini  sudah 

diketahui oleh para pembacanya (seperti di 1Taw 22:8; 28:3), sehingga mereka terus menekankan, 

misalnya, pengurapan kedua atas Salomo yang lebih mendorong semangat (I Taw. 1Taw 29:22) atau 

perilaku mula-mula Daud yang lebih bisa dijadikan teladan (2Taw 17:3). Berbagai hukuman yang 

dinubuatkan dalam I dan II Raja-Raja serta harapan-harapan para imam dalam I dan II Tawarikh 

sama-sama benar dan sama-sama diperlukan. Moralitas dalam Kitab Raja-Raja yaitu  pokok, namun , 

penebusan dalam Kitab Tawarikh lebih merupakan ciri khas iman Kristen.  

 

 

I TAWARIKH 

 

 

I. DAFTAR KETURUNAN (1TAW 1:1-9:44) 

A. Para Leluhur (1Taw 1:1-54) 

B. Yehuda (1Taw 2:1-4:23) 

1. Kaum Hezron (1Taw 2:1-55) 

2. Keluarga Daud (1Taw 3:1-24) 

3. Kaum Yehuda Lainnya (1Taw 4:1-23) 

C. Simeon (1Taw 4:24-43) 

D. Suku-suku Trans-Yordan (1Taw 5:1-26) 

E. Lewi (1Taw 6:1-81) 

F. Enam Suku Lainnya (1Taw 7:1-8:40; 9:35-44) 

1. Aneka Rangkuman (1Taw 7:1-40) 

2. Benyamin (1Taw 8:1-40; 9:35-44) 

G. Penduduk Yerusalem (1Taw 9:1-34) 

 

II. MASA PEMERINTAHAN DAUD (1TAW 10:1-29:30) 

A. Latar Belakang: Kematian Saul (1Taw 10:1-14) 

B. Kenaikan Daud Menjadi Raja (1Taw 11:1-20:8) 

1. Daud Mapan di Yerusalem; Pahlawan-pahlawannya (1Taw 11:1-12:40) 

2. Tabut Perjanjian Dicari (1Taw 13:1-14) 

3. Merdeka dari Gangguan Filistin (1Taw 14:1-17) 

4. Tabut Perjanjian Dibawa ke Yerusalem (1Taw 15:1-16:43) 

5. Nubuat Natan (1Taw 17:1-27) 

6. Penaklukan dan Pengaturan (1Taw 18:1-17) 

7. Kemenangan-kemenangan Atas Amon (1Taw 19:1-20:3) 

8. Peperangan-peperangan Filistin (1Taw 20:4-8) 

C. Masa akhir Daud (1Taw 21:1-29:30) 

1. Sensus (1Taw 21:1-30) 

2.  Persiapan-persiapan Bait Allah (1Taw 22:1-19) 

3. Pengaturan Orang Lewi (1Taw 23:1-26:32) 

4. Pengaturan Penduduk (1Taw 27:1-34) 

5. Kata-kata Terakhir (1Taw 28:1-29:30) 

 

 

II TAWARIKH 

 

 

I. MASA PEMERINTAHAN SALOMO (2TAW 1:1-9:31) 

A. Penobatan Salomo (2Taw 1:1-17) 

B. Bait Suci Salomo (2Taw 2:1-7:22) 

1. Persiapan (2Taw 2:1-18) 

2. Pembangunan (2Taw 3:1-4:22) 

3. Penahbisan (2Taw 5:1-7:22) 

C. Kerajaan Salomo (2Taw 8:1-9:31) 

1. Keberhasilan-keberhasilannya (2Taw 8:1-18) 

2. Kemegahannya (2Taw 9:1-31) 

 

II. KERAJAAN YEHUDA (2TAW 10:1-36:23) 

A. Pembagian Kerajaan (2Taw 10:1-11:19) 

B. Para Pemimpin Yehuda (2Taw 12:1-36:16) 

1. Rehabeam (2Taw 12:1-16) 

2. Abia (2Taw 13:1-22) 

3. Asa (2Taw 14:1-16:14) 

4. Yosafat (2Taw 17:1-20:37) 

5. Yoram (2Taw 21:1-20) 

6. Ahazia (2Taw 22:1-9) 

7. Atalya (2Taw 22:10-23:21) 

8. Yoas (2Taw 24:1-27) 

9. Amazia (2Taw 25:1-28) 

10. Uzia (2Taw 26:1-23) 

11. Yotam (2Taw 27:1-9) 

12. Ahas (2Taw 28:1-27) 

13. Hizkia (2Taw 29:1-32:33) 

14. Manasye (2Taw 33:1-20) 

15. Amon (2Taw 33:21-25) 

16. Yosia (2Taw 34:1-35:27) 

17. Yoahas, Yoyakim, Yoyakhin, Zedekia (2Taw 36:1-16) 

C. Pembuangan (2Taw 36:17-23) 

 

 


EZRA 

  

Kitab Ezra, seperti halnya Kitab Rut, Ayub, Ester dan lain-lain, dinamakan menurut tokoh utamanya. 

Orang Yahudi menganggap kitab ini satu dengan Kitab Nehemia (bdg. Talmud, Teks Masoret, 

Yosefus), namun pengulangan Ezr 2 di dalam Neh 7 menunjukkan bahwa kedua kitab ini pada 

mulanya merupakan dua kitab yang berbeda. Di dalam LXX, Kitab Ezra dan Nehemia dinamakan 

Esdras B untuk membedakannya dengan kitab apkokrif Esdras A (yang berisi 2Taw 35:1 hingga 

seluruh Kitab Ezra, ditambah Neh 7:73-8:11*, dengan berbagai perbedaan dan tambahan).  

 

TANGGAL PENULISAN DAN KEPENULISAN 

 

Sekalipun penulis kitab ini tidak disebutkan, dan narasi di dalamnya memakai kata ganti orang 

pertama dan ketiga, sangat mungkin Ezra sendirilah yang menulis kitab ini dengan memakai beberapa  

ketetapan, surat dan daftar keturunan sebagai narasumber. Beberapa dokumen Babel memakai cara 

narasi semacam ini sehingga perubahan pemakaian kata ganti orang tidak merupakan petunjuk bahwa 

penulisnya berbeda. Juga kenyataan bahwa penulis menyebut dirinya sebagai "ahli kitab, mahir dalam 

Taurat Musa" (Ezr 7:6) tidak bisa dipakai sebagai petunjuk bahwa Ezra bukan penulisnya (bdg. Bil 

12:3).  

 

sebab  Ezra hidup hingga zaman Nehemia (Neh 7:73-8:8; 12:36), dia memiliki cukup banyak waktu 

untuk menyelesaikan kitab ini di antara April 456 sM, pada saat rangkaian peristiwa di Ezr 10:17-44 

terjadi, dan musim panas tahun 444 sM, pada saat Nehemia tiba di, Yerusalem dari istana Persia. 

Robert Dick Wilson (’ Ezra-Nehemiah," ISBE, II, 1083) mengemukakan bahwa bahasa Ibrani yang 

dipakai Ezra lebih mirip dengan yang dipakai dalam Daniel, Hagai dan Tawarikh daripada yang 

dipakai penulis Yesus bin Sirakh (sebuah kitab apokrif yang ditulis sekitar tahun 180 sM), dan bahwa 

bagian-bagian tertentu Kitab Ezra yang memakai bahasa Aram (Ezr 4:7-6:18; 7:12-26) sangat mirip 

dengan bahasa Aram dari papirus Elefan yang berasal dari abad kelima sM.  

Kitab Ezra mencatat penggenapan janji Allah kepada bangsa Israel melalui Yeremia bahwa Dia akan 

membawa mereka kembali ke negeri mereka sesudah pembuangan selama tujuh puluh tahun. Melalui 

pertolongan dan perlindungan tiga orang raja Persia (Koresy, Darius dan Artahsasta) dan 

kepemimpinan tokoh-tokoh Yahudi yang perkasa seperti Zerubabel. Yosua, Hagai, Zakharia dan Ezra, 

pembangunan kembali Bait Suci dapat diselesaikan dan penyembahan yang benar di Yerusalem dapat 

dipulihkan.  

Enam pasal pertama meliput rangkaian peristiwa selama dua atau tiga tahun pertama pemerintahan 

Raja Koresy (538-530 sM) dan enam tahun pertama dari masa pemerintahan Raja Darius I (521-486 

sM). Empat pasal yang terakhir (ditambah Ezr 4:7-23) mencatat rangkaian peristiwa selama bagian 

pertama masa pemerintahan Artahsasta I (464-423 sM). Raja Kambises (530522 sM) dan Smerdis 

(522 sM) tidak disebutkan, dan hanya satu ayat saja (Ezr 4:6) yang menyebut Raja Ahasyweros (486-

465 sM). Jadi, sekalipun delapan puluh tahun yang penting dari sejarah Persia di bawah dinasti 

Akhaemenes dijangkau oleh kitab Ezra, hampir tidak ada sebutan tentang delapan tabun pertama yang 

penting di antara tahun 515 sM dan 457 sM, saat  mana orang Persia melakukan dua usaha yang 

besar namun gagal untuk menaklukkan Yunani dan rangkaian peristiwa dalam Kitab Ester terjadi.  

saat  adegan di dalam kitab ini dimulai, orang Yahudi baru saja menyaksikan jatuhnya kerajaan 

Neo-Babel yang mereka benci, pada tahun 539 sM, oleh Koresy raja Persia. Daniel baru saja diberi 

kedudukan terhormat oleh Darius orang Media yang ditugaskan oleh Koresy untuk memerintah 

wilayah Neo-Babel (Dan 5:30-6:2).  


EZRA 

 

 

I. PARA TAWANAN KEMBALI DARI BABEL (EZR 1:1-2:70) 

A. Ketetapan Raja Koresy (Ezr 1:1-4) 

B. Persiapan untuk Mengadakan Perjalanan Pulang (Ezr 1:5-11) 

C. Orang-orang yang Kembali (Ezr 2:1-70) 

 

II. PEMBANGUNAN KEMBALI BAIT SUCI DIMULAI (EZR 3:1-4:24) 

A. Mezbah dan Dasar (Ezr 3:1-13) 

B. Perlawanan Terhadap Pembangunan (Ezr 4:1-24) 

 

III. PEMBANGUNAN DISELESAIKAN (EZR 5:1-6:22) 

A. Pekerjaan Pembangunan Dilanjutkan (Ezr 5:1-5) 

B. Surat Tatnai kepada Darius (Ezr 5:6-17) 

C. Ketetapan Koresy dan Darius (Ezr 6:1-12) 

D. Bait Suci Diselesaikan (Ezr 6:13-22) 

 

IV. PERJALANAN EZRA KE YERUSALEM (EZR 7:1-8:36) 

A. Ezra Diperkenalkan (Ezr 7:1-10) 

B. Surat Artahsasta kepada Ezra (Ezr 7:11-28) 

C. Perjalanan ke Yerusalem (Ezr 8:1-36) 

 

V. REFORMASI BESAR (EZR 9:1-10:44) 

A. Laporan yang Menyedihkan dan Doa Ezra (Ezr 9:1-15) 

B. Pernikahan Campuran Ditinggalkan (Ezr 10:1-17) 

C. Daftar Orang-orang yang Beristri wanita  Asing (Ezr 10:18-44) 

 

 

 

NEHEMIA 

 

Seperti halnya Kitab Ezra, kitab ini judulnya juga disesuaikan dengan nama tokoh utamanya. Lihat 

pendahuluan Kitab Ezra untuk mengetahui lebih lanjut tentang hubungan antara kedua kitab ini dan 

hubungan kedua kitab ini dengan kitab apokrif Esdras A.  

Kenyataan bahwa seluruh narasi ditulis dalam bentuk orang pertama tunggal di banyak bagian 

merupakan bukti bahwa kitab ini ditulis oleh Nehemia sendiri. Di bagian-bagian yang menyebut 

Nehemia dengan memakai bentuk orang ketiga tunggal (Neh 8:8; 10:1; 12:26,47) dapat dijelaskan 

sesuai dengan kepenulisannya. Misalnya, Neh 12:26; 12:47, yang tampaknya mengacu balik kepada 

zaman Nehemia, dilakukan sebagai tindakan penyesuaian dengan zaman orang lain. Untuk tujuan 

keseragaman gaya penulisan, yaitu  lebih baik memakai kata ganti orang ketiga daripada 

mengatakan, "Pada zaman X dan pada zaman saya." Lagi pula, Nehemia mungkin sudah purna bakti 

sebagai gubernur dan di sini dia sedang mengenang masa pemerintahannya.  

 

Keberatan serius terhadap kesatuan kitab ini telah diutarakan oleh beberapa orang pakar sebab  

penyebutan Yadua sebanyak dua kali di dalam satu pasal (Neh 12:11,22) sebagai buyut dari imam 

besar Elyasib dan sebagai Darius orang Persia (Neh 12:22). Berbagai argumen yang mendukung 

pandangan bahwa Yadua hidup mendekati akhir abad kelima sM dan yang mengidentifikasi Darius 

orang Persia sebagai Darius II (423-404 sM) dikemukakan pada tafsiran Neh 12:2.  

 

Kesesuaian sejarah dari kitab ini telah dibuktikan oleh penemuan kumpulan papirus dari Elefantin 

yang menyebut bahwa Yohanan (Neh 12:22,23) merupakan imam besar di Yerusalem dan putra-putra 

Sanbalat (musuh besar Nehemia) merupakan gubernur Samaria pada tahun 408 sM. Kita juga 

mengetahui Bari kumpulan papirus ini  bahwa Nehemia sudah berhenti sebagai gubernur Yudea 

sebelum tahun ini , sebab Bagoas disebut sebagai memegang jabatan ini .  

 

Artahsasta I, yang kepadanya Nehemia melayani sebagai juru minuman, yaitu  putra Ahasyweros 

yang menikahi Ester sebagai ratunya. Perayaan Purim (Est 9:20-32) diresmikan pada tanggal 8 Maret 

473 sM, hanya delapan tahun sebelum Artahsasta I menjadi raja. Pada musim semi tahun 457 sM, 

Ezra memimpin sebuah ekspedisi orang Yahudi kembali ke Yerusalem dengan restu Artahsasta; dan 

pada musim semi berikutnya dia sudah menyelesaikan pengujian orang-orang Yudea yang menikahi 

wanita  asing (lih. tafsiran-tafsiran Ezr 10).  

 

Salah satu hasil sampingan dari kebangunan rohani di bawah Ezra rupanya yaitu  usaha di pihak 

orang Yahudi untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Kejadian ini menimbulkan amarah 

Rehum dan Simsai yang menulis sebuah surat tuduhan kepada Artahsasta (Ezr 4:7-16). Raja 

memerintahkan untuk menghentikan pekerjaan itu hingga dikeluarkan ketetapan lain (Ezr 4:21). 

Sesudah Rehum dan Simsai menerima keputusan ini  dari sang raja mereka langsung bergegas 

menuju ke Yerusalem dan "dengan kekerasan mereka memaksa orang-orang itu menghentikan" 

pekerjaan mereka, mungkin dengan merobohkan kembali tembok yang telah mulai dibangun dan 

membakar pintu-pintu gerbang (Ezr 4:23;  Neh 1:3). Berita tentang malapetaka inilah yang 

mengejutkan Nehemia dan membuatnya berlutut di hadapan Allah.  

 

Kitab Nehemia meliput jangka waktu sekitar paling sedikit dua puluh tahun dari Desember 445 sM 

hingga 425 sM pada saat Nehemia meninggalkan Babel untuk membersihkan Yerusalem dan seluruh 

provinsi itu dari berbagai kejahatan yang merajalela sejak ditinggalkan olehnya pada tahun 432 sM. 

Karier Ezra dan Nehemia bertumpang tindih, sebagaimana dapat dilihat dari Neh 7:73-8:8; 12:26. 

Sangat mungkin bahwa Maleakhi bernubuat pada zaman Nehemia menjadi gubernur, sebab banyak 

kejahatan yang dikecam olehnya dijumpai menonjol di dalam Kitab Nehemia.  

 

Akhirnya harus dikemukakan bahwa tidak ada bagian dalam Kitab Perjanjian Lama yang lebih hebat 

memberi kita dorongan untuk mengabdi serta semangat yang kuat untuk melakukan pekerjaan Tuhan 

daripada Kitab Nehemia. Teladan dari kerinduan Nehemia pada kebenaran Firman Allah, apa pun 

harga atau akibatnya, merupakan teladan yang sangat dibutuhkan saat ini. Kiranya studi yang disertai 

doa atas kitab ini membuat makin banyak umat Allah "tetap berjuang untuk mempertahankan iman 

yang telah disampaikan kepada orang-orang kudus."  

 

 

NEHEMIA 

 

I. NEHEMIA TIBA DI YERUSALEM (NEH 1:1-2:20) 

A. Berita Menyedihkan dari Yerusalem dan Doa Nehemia (Neh 1:1-11). 

B. Permohonan Nehemia Dikabulkan (Neh 2:1-8). 

C. Survei Nehemia Atas Tembok-tembok dan Laporannya (Neh 2:9-20). 

 

II. PEMBANGUNAN TEMBOK (NEH 3:1-6:19). 

A. Para Pekerja dan Tugas-tugas Mereka (Neh 3:1-32). 

B. Perlawanan dari Musuh (Neh 4:1-23) 

C. Aneka Pembaharuan yang Dilakukan Nehemia Selaku Gubernur (Neh 5:1-19). 

D. Pembangunan Tembok Selesai Sekalipun Ada beberapa  Intrik (Neh 6:1-7:4). 

 

III. ANEKA PEMBAHARUAN SIPIL DAN RELIGIUS DI YERUSALEM (NEH 7:5-10:39). 

A. Daftar Orang Yahudi yang Kembali Bersama Zerubabel (Neh 7:5-73). 

B. Pembacaan Hukum Allah dan Ketaatan pada Hukum Allah (Neh 7:73-8:17). 

C. Sebuah Pengakuan Umum dan Perjanjian (Neh 9:1-10:39). 

 

IV. DAFTAR PENDUDUK (NEH 11:1-12:26). 

V. PENAHBISAN TEMBOK DAN PENGATURAN PELAYANAN BAIT ALLAH (NEH 12:27-

47). 

VI. ANEKA PEMBAHARUAN TERAKHIR NEHEMIA (NEH 13:1-30). 



ESTER 

 

 

Judul kitab ini disesuaikan dengan nama tokoh utamanya, Ester. Nama ini merupakan sebuah nama 

Persia yang artinya Bintang. Nama Ibraninya yaitu  Hadasa, Bunga Pacar Belanda (lih. Est 2:7).  

 

TANGGAL PENULISAN DAN KEPENULISAN.  

 

Dapat dipastikan bahwa kitab ini ditulis sesudah 465 sM sebab masa pemerintahan Ahasyweros (486-

465 sM) diungkapkan dengan memakai istilah dalam bentuk waktu lampau (Est 10:2). Namun 

penulis kitab ini menunjukkan pengetahuan yang sangat mendalam mengenai masa pemerintahan raja 

ini  serta perabotan di dalam istana di Susan (yang musnah akibat kebakaran pada sekitar tahun 

535 sM) sehingga tidak mungkin kitab ini ditulis sesudah masa pemerintahan Artahsasta I (464-424 

sM). Sekalipun Yosefus menduga bahwa yang menulis kitab ini yaitu  Mordekhai, tampaknya Est 

10:2,3 menutup kemungkinan ini . Sekalipun demikian, penulis kitab ini pastilah seorang Yahudi 

yang tinggal di Persia pada saat terjadinya rangkaian peristiwa yang dikisahkan di dalam kitab ini dan 

yang boleh membaca catatan resmi dari para raja Media dan Persia (Est 2:23; 9:20; 10:2). beberapa  

istilah dan nama Persia murni muncul di dalam kitab ini, dan gaya Ibraninya sangat mirip dengan 

gaya yang ada  di dalam Kitab Ezra, Nehemia dan Tawarikh.  

 

KESESUAIAN SEJARAH DAN TUJUAN PENULISAN.  

 

Sekalipun telah diajukan beberapa  keberatan terhadap kesesuaian sejarah dari kitab ini, kisah yang 

dikemukakan di dalamnya sangat masuk akal sehingga mungkin kejadiannya yaitu  pada masa 

pemerintahan Ahasyweros. Pernyataan tentang jangkauan kekuasaan Ahasyweros (Est 1:1; 8:9) 

sesuai dengan pernyataan sejarah yang dikemukakan oleh Herodotus (Histories, 3.97, 98; 7.0),  dan 

fakta itu tidak cocok untuk raja Persia lainnya. Perayaan besar yang diadakan pada tahun ketiga 

pemerintahan Ahasyweros (Est 1:3) sesuai dengan tanggal yang dikemukakan Herodotus (7.8) 

sebagai saat sang raja Persia membuat rencana untuk mengirim pasukan ke Yunani. Gambaran 

mengenai istananya (Est 1:6) telah dibenarkan oleh penemuan arkeologi. Pengambilan seorang istri 

baru dalam tahun ketujuh pemerintahannya (Est 2:16) sesuai dengan gambaran Herodotus tentang 

perhatian baru sang raja terhadap haremnya sesudah serangan ke Yunani gagal total (9.108, 109).  

 

Perayaan Purim yang disebut dalam 2 Makabe 15:36 sebagai dilaksanakan pada tahun 160 sM tidak 

mungkin diadakan tanpa alasan tertentu. Penjelasan yang paling masuk akal ialah bahwa perayaan 

ini  dilaksanakan sebagai peringatan akan rangkaian peristiwa yang dikisahkan dalam kitab ini. 

Orang-orang Yahudi senantiasa menerima kitab ini sebagai kitab kanonik.  

 

Bila kita memperhatikan tujuan dari penulisan kitab ini, langsung timbul pertanyaan mengapa tidak 

ada sebutan tentang doa, ibadah, Yerusalem dan Bait Allah serta nama Allah, kecuali sedikit petunjuk 

tentang doa dan pemeliharaan ilahi (Est 4:14; 4:16; 9:31). Ada yang mengemukakan pendapat bahwa 

pada masa itu terlalu berbahaya untuk menyembah Yehova secara terbuka sehingga semua sebutan 

yang berkenaan dengan Dia secara cermat ditiadakan. Akan namun  pandangan semacam ini 

menunjukkan adanya pemahaman yang rendah mengenai pengilhaman Alkitab. Tampaknya lebih 

tepat untuk berkesimpulan bahwa "sebab  orang Yahudi, katakanlah, tidak lagi berada di dalam garis 

teokrasi, maka Nama Allah Perjanjian tidak lagi dikaitkan dengan mereka. Jadi, Kitab Ester ini ditulis 

untuk menunjukkan bagaimana Pengaturan Ilahi mengatasi segala sesuatu, bahkan di negeri yang jauh 

dan asing sekalipun umat Allah tetap berada dalam tangan Allah. namun  sebab  mereka berada di 

negeri jauh ini dan bukan di Tanah Perjanjian maka Nama-Nya tidak disebutkan" (Edward J. Young, 

An Introduction to the Old Testament, hlm. 349).  

Page 44 of 130

LATAR BELAKANG SEJARAH.  

 

Sejak 722 sM, suku-suku Israel utara dipindahkan sebagai tawanan ke, antara lain, "kota-kota orang 

Media" (2Raj 17:6). Selanjutnya, sesudah Babel ditaklukkan oleh Koresy pada tahun 539 sM, 

sebagian orang Yahudi yang telah dibawa ke label oleh I Nebukadnezar mungkin berpindah ke arah 

timur menuju ke Susan dan kota-kota lain di Medo-Persia, seperti yang dilakukan oleh Mordekhai 

(Est 2:5,6). Namun dari jutaan orang Yahudi yang terserak di seluruh wilayah Timur Dekat, hanya 

sekitar 50.000 orang yang memilih untuk kembali ke Tanah Perjanjian bersama Zerubabel dan Yesua 

pada tahun 536 sM (Ezr 2:64-67).  

 

Menurut Ezr 6:15,  Bait Suci yang kedua selesai dibangun pada tahun 515 sM pada tahun keenam 

pemerintahan Raja Darius I. Baru tiga puluh dua tabun kemudian, Ahasyweros, putra Darius I, 

mengadakan "perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya" (Est 1:3). Rangkaian peristiwa yang 

dikisahkan kitab ini meliputi periode sepuluh tahun sejak perjamuan ini  (thn. 483 sM) hingga 

perayaan Purim (thn. 473 sM). Enam belas tahun sesudah perayaan Purim yang,, pertama, Ezra 

membawa rombongannya kembali ke Yerusalem (Ezr 7:9). Jadi, rangkaian peristiwa di dalam kitab 

ini cocok di antara pasal enam dan tujuh dari Kitab Ezra.  

 

ESTER 

 


I. RATU WASTI DICERAIKAN (EST 1:1-22). 

II. ESTER DIJADIKAN RATU (EST 2:1-23). 

III. MUSLIHAT HAMAN MEMUSNAHKAN ORANG YAHUDI (EST 3:1-15). 

IV. KEPUTUSAN ESTER (EST 4:1-17). 

V. PERJAMUAN PERTAMA ESTER (EST 5:1-14). 

VI. HAMAN DIRENDAHKAN DI HADAPAN MORDEKHAI (EST 6:1-14). 

VII. PERJAMUAN KEDUA ESTER (EST 7:1-10). 

VIII. KETETAPAN TANDINGAN DARI MORDEKHAI (EST 8:1-17). 

IX. ORANG YAHUDI MENANG, DAN PURIM DILEMBAGAKAN (EST 9:1-10:3). 

 



AYUB 

 


Nama dari kitab ini maupun tokoh utamanya, iyyob muncul di dalam naskah-naskah non-alkitabiah 

sejak tahun 2000 sM. Judul Ayub ini diambil dari versi Vulgata yang berbahasa Latin.  

 

JENIS PENULISAN  

 

Inti dari kitab ini yaitu  puisi, yang disusun bagaikan sebuah permata di antara pendahuluan dan 

penutup yang berupa prosa epik. Struktur A B A semacam itu sering dijumpai di dalam naskah-

naskah kuno. Sebagai contoh, Hamurabi menempatkan hukum-hukumnya di antara sebuah 

pendahuluan dan penutup berupa puisi. Sebuah karya sastra Mesir, The Eloguent Peasant, berisi 

sembilan buah protes sang petani yang berbentuk semi puisi di antara pendahuluan dan penutup 

berbentuk prosa.  

 

Bersama dengan Amsal, Pengkhotbah dan di dalam beberapa hal tertentu, Kidung Agung, Ayub 

tergolong jenis sastra Hikmat (hokma),  yaitu jenis penulisan yang banyak contohnya dengan aneka 

bentuk dalam sastra Timur Dekat. Di dalam kanon Perjanjian Lama, sumbangan khas dari kitab-kitab 

sastra Hikmat ialah uraian kitab-kitab ini  tentang relevansi penyataan perjanjian pokok melalui 

Musa dengan isu-isu besar kehidupan manusia di dalam dunia ini, lebih khusus lagi, isu-isu kehidupan 

manusia terlepas dari konteks teokratis sejarah Israel yang khas itu. ada  banyak kesamaan formal 

di antara Kitab Ayub ini dengan berbagai tulisan sastra Hikmat non-alkitabiah; misalnya, gaya dialog 

dan berbagai pokok pembahasan seperti masalah penderitaan dan keinginan untuk mati. Sekalipun 

demikian, ajaran yang hakiki dari Kitab Ayub sama sekali berbeda dengan sastra Hikmat non-

alkitabiah sebab Kitab Ayub menyajikan pesan khusus tentang penyataan penebusan, hikmat Allah 

yang menjadikan hikmat manusia itu kebodohan. Bahkan struktur penulisannya, jika dipandang secara 

menyeluruh, merupakan struktur yang unik-sebuah karya agung yang diakui secara universal.  

 

Terkait erat dengan bentuk penulisan ialah masalah kesesuaian dengan sejarah. Ayub jelas merupakan 

tokoh sejarah (bdg Yeh 14:14,20; Yak 5:11), dan apa yang dialami olehnya pada dasarnya yaitu  

sebagaimana yang dikisahkan di dalam kitab ini. Sekalipun demikian, puisi yang indah dalam 

beberapa bagian telah mendorong adanya kesepakatan umum untuk menyimpulkan bahwa laporan 

kisah pengalaman Ayub itu tidak bersifat harfiah, namun  tulisan bebas. Lagi pula, gaya epik semi puitis 

dari pendahuluan dan penutup (dengan susunan bait dan pengulangannya), walaupun tidak berarti 

bahwa narasi ini harus dianggap sebagai legenda, menunjukkan kemungkinan bahwa beberapa  rincian 

dibahas secara kiasan dengan bebas.  

 

KEPENULISAN DAN TANGGAL PENULISAN 

 

Pembahasan mengenai kepenulisan Kitab Ayub oleh sebagian besar kritikus modem diperumit oleh 

keraguan mereka tentang kesatuan kitab ini sebagaimana adanya sekarang. Bukti-bukti yang ada 

bukan terutama dari luar kitab ini, sebab sekalipun teks LXX tentang Ayub lebih pendek sekitar 

seperlima dari teks Masoret, bagian-bagian yang dihilangkan jelas tidak penting. Bagian-bagian yang 

secara luas dianggap sebagai tambahan terhadap karya asli yaitu  bagian pendahuluan dan penutup, 

syair tentang hikmat (ps. 28), bahan dari Elihu (ps. 32-37) dan bagian atau seluruh wejangan Tuhan 

(ps. 38-41). Demikian pula pasal Ayb 24; 25; 26; 27 dianggap sangat rancu. Sekalipun demikian, 

pembelaan yang kuat terhadap integritas dari teks yang ada pada kita saat ini ada  dalam kesatuan 

struktural yang mengagumkan dari keseluruhan dan aneka ragam hubungan timbal balik di antara 

semua bagiannya.  

Masalah tanggal penulisan telah memperoleh berbagai jawaban yang menunjukkan bahwa tanggal 

penulisan yang tepat sulit untuk diketahui. Tanggal penulisan kitab ini jangan dikacaukan dengan 

tanggal terjadinya peristiwa yang dikisahkan. Tokoh Ayub rupanya hidup pada awal zaman leluhur 

Israel. Dapat dilihat, misalnya, lamanya hidup Ayub dan juga banyaknya pelaksanaan agama yang 

sejati (sebagaimana ditandai dengan beberapa  penyataan adikodrati) di luar batas-batas perjanjian 

dengan Abraham serta aneka perkembangan ekonomi dan politik masa dini di dalam kitab ini. Jadi, 

pertanyaan mengenai tanggal penulisan kitab ini yaitu : Berapa lamakah’kisah tentang Ayub itu 

dikisahkan-baik secara lisan atau setidak-tidaknya sebagian secara tertulis-sebelum seorang penulis 

Israel yang tidak diketahui namanya, dengan ilham ilahi, mengubah tradisi ini  menjadi Kitab 

Ayub yang kanonik. Sebagian besar kritikus yang negatif memilih tanggal zaman Pembuangan atau 

pasca-Pembuangan. Kesimpulan ini dipengaruhi oleh cara mereka menafsirkan keterikatan di antara 

Ayub, Yesaya dan Yeremia-serta oleh tanggal yang mereka berikan untuk penulisan beberapa  bagian 

dari Kitab Yesaya. Tanggal yang paling ekstrem (abad ke-2 sM) tampaknya tidak mungkin sebab 

bertentangan sekali dengan fragmen-fragmen naskah Kitab Ayub yang ditemukan di antara temuan di 

Laut Mati, khususnya fragmen dalam naskah berbahasa Ibrani kuno. Kemegahan dan spontanitas 

kitab ini dan penciptaan ulangnya yang sangat tegas akan berbagai sentimen manusia yang berada 

pada awal dalam perkembangan penyataan ilahi menunjuk’ kepada permulaan zaman pra-

Pembuangan, yaitu zaman sebelum adanya sumbangan doktrin, khususnya eskatologi, dari para nabi. 

Banyak pakar konservatif memilih sebuah tanggal pada zaman Salomo, yaitu pada zaman Sastra 

Hikmat Alkitabiah (bdg. misalnya kemiripan-kemiripan di antara kitab ini dengan Mzm 88;  89 yang 

berasal dari zaman Salomo; bdg. 1Raj 4:31).  

 

T E M A 

 

Dengan perantaraan masalah teodise, Kitab Ayub mengumandangkan kembali tuntutan religius yang 

pokok dari Perjanjian. Kitab ini meminta manusia untuk menyerahkan diri tanpa syarat kepada Tuhan. 

Dan cara dari Perjanjian ini, yaitu penyerahan diri kepada Sang Pencipta yang transenden dan tidak 

terpahami ini sama dengan jalan hikmat. sebab  itu, Kitab Ayub memberi  kepada Gereja 

kesaksian yang tepat tentang penyataan penebusan di hadapan berbagai aliran hikmat dunia.  

 

AYUB 

 

.I MALAPETAKA HIKMAT AYUB DICOBAI (AYB 1:1-2:10) 

A. Hikmat Ayub Diutarakan (Ayb 1:1-5) 

B. Hikmat Ayub Disangkal dan Diperagakan (Ayb 1:6-2:10) 

1. Permusuhan oleh Iblis (Ayb 1:6-12) 

2. Integritas Ayub (Ayb 1:13-22) 

3. Kegigihan Iblis (Ayb 2:1-6) 

4. Kesabaran Ayub ( Ayb 2:7-10) 

 

.II KELUHAN: JALAN HIKMAT HILANG (AYB 2:11-3:26) 

A. Kedatangan Orang-orang Berhikmat (Ayb 2:11-13) 

B. Ketidaksabaran Ayub (Ayb 3:1-26) 

 

.III PENGHAKIMAN: JALAN HIKMAT DIBUAT KABUR DAN DIJELASKAN (AYB 4:1-

41:34) 

A. Keputusan-keputusan Manusia (Ayb 4:1-37:24) 

1. Putaran Pertama Perdebatan (Ayb 4:1-14:22) 

a. Kata-kata Nasihat Pertama dari Elifas (Ayb 4:1-5:27) 

b. Jawaban Ayub kepada Elifas (Ayb 6:1-7:21) 

c. Kata-kata Nasihat Pertama dari Bildad (Ayb 8:1-22) 

d. Jawaban Ayub kepada Bildad (Ayb 9:1-10:22) 

e. Kata-kata Nasihat Pertama dari Zofar (Ayb 11:1-20) 

f. Jawaban Ayub kepada Zofar (Ayb 12:1-14:22) 

2. Putaran Kedua Perdebatan (Ayb 15:1-21:34) 

a. Kata-kata Nasihat Kedua dari Elifas (Ayb 15:1-35) 

b.  Jawaban Kedua Ayub kepada Elifas (Ayb 16:1-17:16) 

c. Kata-kata Nasihat Kedua dari Bildad (Ayb 18:1-21) 

d. Jawaban Kedua Ayub kepada Bildad (Ayb 19:1-29) 

e. Kata-kata Nasihat Kedua dari Zofar (Ayb 20:1-29) 

f. Jawaban Ayub kepada Zofar (Ayb 21:1-34) 

3. Putaran Ketiga Perdebatan (Ayb 22:1-31:40) 

a. Kata-kata Nasihat Ketiga dari Elifas (Ayb 22:1-30) 

b. Jawaban Ketiga Ayub kepada Elifas (Ayb 23:1-24:25) 

c. Kata-kata Nasihat Ketiga dari Bildad (Ayb 25:1-6) 

d. Jawaban Ketiga Ayub kepada Bildad (Ayb 26:1-14) 

e. Pengajaran Ayub kepada Rekan-rekan yang Membisu (Ayb 27:1-28:28) 

f. Protes Terakhir Ayub (Ayb 29:1-31:40) 

B. Suara Allah (#/TB Ayb 38:1-41:34) 

1. Tantangan Ilahi (Ayb 38:1-40:2) 

2. Ayub Menyerah (Ayb 40:3-5) 

3. Tantangan Ilahi Diulangi (Ayb 40:6-41:34