• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

Tuhan Tritunggal

 


A. Capaian Pembelajaran Mata Kegiatan 

Menguasai pola pikir dan struktur keilmuan serta materi ajar Pendidikan Agama 

Kristen dalam perspektif Alkitabiah maupun  ilmu pengetahuan lainnya sehingga dapat 

menjawab apa, siapa, bagaimana dan mengapa  Sifat Tuhan  Tritunggal dan KasihNya 

harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

 

B. Subcapaian Pembelajaran Mata Kegiatan 

1. Menganalisis ajaran Alkitab tentang Tuhan  Tritunggal 

2. Menganalisis sejarah terbentuknya dokrin Ketritunggalan Tuhan  

 

C. Pokok-Pokok Materi 

1. Ajaran Alkitab tentang Tritunggal 

2. Sejarah terbentuknya dokrin Ketritunggalan Tuhan  

 

D. Uraian Materi 

1. Ajaran Alkitab Tentang Tuhan  Tritunggal 

Dokrin KeTritunggalan Tuhan  atau Trinitas merupakan salah satu dokrin yang 

istimewa dan unik bagi umat Kristen. Dikatakan istimewa dan unik sebab iman 

Kristen berkayakinan bahwa Tuhan  itu esa, namun juga ada tiga yang yaitu  Tuhan . 

Dokrin ini sangat penting bagi perkembangan iman Kristen sebab  berkaitan dengan 

siapakah Tuhan  yang disembah, bagaimana cara kerjaNya, bagaimana manusia harus 

mendekatiNya. namun  sekaligus juga menjawab beberapa pertanyaan praktis yang 

sering muncul dalam kehidupan umat Kristen maupun dalam kehidupan bersama 

dengan sesama yang beragama lain, misalnya siapakah yang harus disembah, apakah 

Tuhan  Bapa, Tuhan  Anak atau Tuhan  Roh Kudus, apakah Tuhan  Bapa lebih tinggi 

kedudukanNya dari Tuhan  Anak dan Tuhan  Roh Kudus ?. sebab  itu pada kegiatan 

belajar satu ini kita akan meneliti dokrin TriTunggal Tuhan  dengan berusaha 

menemukan ajaran Alkitab tentang dokrin ini. 

 

a. Keesaan Tuhan  

Agama orang Ibrani Kuno sangat mempertahankan iman yang monoteistis, dan 

telah berkali-kali dinyatakan kepeda Israel dengan berbagai cara. Misalnya dalam 

Keluaran 20:2-3. Kata Ibrani yang diterjemahkan sebagai “dihadapanKu” yaitu  ‘al 

panai yang secara harafiah berarti “di Muka-Ku”. Hal ini mengungkapkan bahwa 

Tuhan  telah menunjukkan realitas-Nya yang unik melalui apa yang telah dilakukan-

Nya, sehingga Ia berhak menuntut penyembahan, pengabdian dan ketaatan mutlak dari 

bangsa Israel. Tuhan  melarang untuk menyembah berhala (ay. 4) sebab  Dia sajalah 

Tuhan . 

Selain itu sebuah petunjuk yang jelas tentang Tuhan  itu tunggal atau esa terdapat 

dalam Syema Israel di Kitab Ulangan 6. Ini yaitu  kebenaran yang luar biasa dari 

Tuhan  yang harus diajarkan oleh para orang tua Israel kepada anak-anak mereka. 

Dalam Ulangan 6:13,14 menunjukkan bahwa Tuhan  itu Esa, dan tidak ada dewa-dewa 

bangsa lain di sekitar Israel yang harus dianggap benar dan layak untuk dilayani dan 

disembah (bdg. Kel 15:11; Zakh. 14:9). Selain dalam Perjanjian Lama, maka dalam 

Perjanjian Baru  Yakobus 2:19 menganjurkan untuk percaya kepada Tuhan  yang Esa. 

Dalam 1 Korintus 8:4,6 Rasul Paulus juga menggarisbawahi keunikkan Tuhan  dengan 

mengemukakan “…tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Tuhan  lain daripada Tuhan  

yang esa…bagi kita hanya ada satu Tuhan  saja, yaitu Bapa, yang daripadaNya berasal 

segala sesuatu dan untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan saja yaitu Yesus Kristus, yang 

olehNya segala sesuatu telah dijadikan dan yang sebab  Dia kita hidup”. 

Keesaan Tuhan  berarti bahwa, pertama,  hanya ada satu Tuhan  saja dan bahwa 

sifat dasar atau watak Tuhan  tidak dapat dipisah-pisahkan atau dibagi (Ul. 4:35; I Raja. 

8:60; Yes. 45:5-6). Tuhan  tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu atau dapat diuraikaan 

menjadi bagian-bagian tertentu. Tuhan  itu sederhana, menurut angka Ia hanya satu, 

bebas dari segala bentuk paduan. Tuhan  itu Roh adanya sehingga tidak dapat diurai. 

Yang berinkarnasi menjadi manusia dan mati disalibkan yaitu  Anak, namun tidak 

berarti bahwa Bapa yang mengutus Anak ke dalam dunia dan Roh Kudus yang 

membaharui orang percaya kepada Anak, tidak bersama-sama dengan Dia. 

Kedua, Tuhan  itu esa sebab  ketiga Oknum tersebut memiliki satu hakikat atau 

substansi yang tidak saja sama namun  satu. Hakikat yang satu ini yaitu  hidup, terang, 

kasih, kebenaran, kemuliaan, kekuasaan, kekekalan, dan lain-lain. Seperti Bapa 

sempurna demikian juga Anak dan Roh Kudus. Suatu keesaan tidak sama dengan 

suatu kesatuan. Satu kesatuan ditandai dengan sifat tunggal. namun  keesaan Tuhan  

memberikan peluang bagi adanya perbedaan-perbedaan pribadi di dalam sifat dasar 

ilahi. Dengan demikian keesaan Tuhan  menyatakan secara tidak langsung bahwa ketiga 

Oknum Tritunggal bukanlah hakikat-hakikat yang terpisah di dalam hakikat Ilahi itu. 


 

b. Konsep Keilahian Tiga Oknum 

Tritunggal dalam teologi  Kristen berarti bahwa ada tiga Oknum kekal  dalam 

hakikat Ilahi yang satu itu, yang masing-masing dikenal  sebagai Tuhan  Bapa, Tuhan  

Anak dan Tuhan  Roh Kudus, yang dapat dikatakan sebagai tiga kepribadian Tuhan . 

saat  berbicara tentang adanya Tiga Oknum yang merupakan Tuhan  maka juga perlu 

dipelajari dari kesaksian Alkitab. Selain Bapa yang telah disebut sebagai Tuhan  dalam 

Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, maka dalam 1 Korintus 8:4; 1 Timotius 

2:5-6, dapat ditemukan berbagai kasus di mana Yesus menyebut Bapa sebagai Tuhan . 

sedang  ayat kunci menurut Millard Erikson yang menunjukkan keilahian Yesus 

terdapat dalam Filipi  2:5-11. Kata Yunani yang diterjemahkan sebagai “rupa” yaitu  

kata μορφη (morphe) yang berarti seperangkat ciri khas yang membentuk keadaan 

sesuatu. Bagi Paulus yang yaitu  seorang ortodoks dan dibina dalam ajarana Yahudi 

yang ketat ini merupakan pernyataan yang mengherankan sebab  mencerminkan iman 

gereja mula-mula, dan mengemukakan penyerahan yang mendalam terhadap 

keilahian Yesus. Bukan hanya soal penggunaan kata μορφη, namun  juga oleh 

ungkaopan “setara” ισα” dengan Tuhan . Ayat 6 ini melukiskan bahwa Yesus itu setara 

dengan Tuhan , namun  tidak berusaha untuk mempertahankannya. Selain itu saat 

menghadap kayafas, Yesus sangat menekankan keilahian-Nya, dan juga saat Thomas 

menyapaNya dalam Yohanes 20:28. 

Selain Yesus dalam Alkitab juga menunjukkan Roh Kudus yaitu  Tuhan . 

Misalnya dalam kisah Ananis dan Safira (KPR. 5:3-4) yang menekankan bahwa 

berdusta kepada Roh Kudus (ay.3) disamakan dengan berdusta kepada Tuhan  (ay.4). 

Roh Kudus juga dilukiskan memiliki sifat-sifat Tuhan  dan dapat melakukan apa yang 

dilakukan Tuhan . Misalnya menginsyafkan manusia akan dosa, kebenaran dan 

penghakiman (Yoh. 16:8-11), melahirkan kembali atau memberi hidup baru (Yoh. 

3:8). Dalam 1 Petrus 1:2, Petrus menyebut para pembaca suratnya sebagai orang-

orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Tuhan , Bapa kita, dan dikuduskan oleh Roh 

untuk taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. 

 

c. Ke-Tritunggalan Tuhan  

Perjanjian lama mencatat bahwa Tuhan  berkali-kali memakai kata ganti jamak 

(Kej. 1:26; 3:22; 11:7; Yes. 6:8) serta kata kerja jamak (Kej. 1: 26; 11:7) untuk 

menunjuk kepada diri-Nya sendiri. Nama Tuhan  yang dipakai dalam ayat-ayat ini 


yaitu  Elohim yakni sebuah istilah jamak. Keadaan jamak yang melukiskan 

KeTritunggalan ini dapat ditemukan dalam kenyataaan berikut : 

a. Tuhan dibeda-bedakan dari Tuhan Tuhan  (Kej. 19:24; Hos. 1:7; Zach 3:2). 

b. Anak Tuhan  dibeda-bedakan dari Tuhan  Bapa (Yes 48:16 bdg. Maz. 45:7-8; Yes. 

63:9-10) 

c. Roh juga dibedakan dari Tuhan  Bapa (Kej. 1:1; 6:3; Bil. 27:18). 

Selain itu dalam Perjanjian Lama dikemukakan Malaikat Tuhan yang bukan 

malaikat biasa, sebab  Malaikat Tuhan itu berfirman atas namaNya sendiri dan mau 

disembah (Kej. 16:10; Yos.5; Hak.21). Istilah Malaikat Tuhan dalam Perjanjian 

Lama merupakan petunjuk khusus kepada pribadi kedua dalam ke-Tuhan an sebelum 

penjelmaan-Nya, dan merupakan pertanda dari kedatangan-Nya sebagai manusia di 

kemudian hari. Malaikat Tuhan disamakan dengan Tuhan, namun berbeda dengan 

Tuhan. Dalam Perjanjian Lama ditemukan juga pernyataan tentang Roh Tuhan  yang 

memberi ilham kepada manusia (Yeh. 11:5). Kadang juga diperlihatkaan Oknum 

yang lebih dari satu (Maz. 33:6; 45:6-8; Yes. 63:8-10). Dalam beberapa ayat Alkitab 

juga ketiga Oknum Ilahi dihubungkan satu dengan yang lain dan ditampilkan setara. 

Misalnya dalam formula baptisan dalam Amanat Yesus (Mat. 28:19-20). Nama yang 

digunakan dalam ayat-ayat ini yaitu  dalam bentuk tunggal, meskipun ada tiga 

Oknum yang termasuk. Selain itu hubungan ketiga Oknum ini juga terdapat dalam 

berkat Paulus (2 Kor. 13:13). Pada saat pembaptisan Yesus, ketiga Oknum 

Tritunggal hadir. Sang Anak dibaptis, Roh Tuhan  turun seperti burung merpati, serta 

Tuhan  Bapa mengucapkan kata-kata pujian tentang Sang Anak. Petrus juga 

menekankan hubungan ketiga Oknum Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam khotbahnya 

pada hari Pentakosta (Kis. 2:33,38).  

Injil Yohanes juga memberikan bukti yang kuat tentang kesetaraan Tritunggal. 

Rumusan rangkap 3 dijumpai berkali-kali sebagaimana diamati oleh George Hendry 

yang dikutip Erikson, yakni Anak diutus oleh Bapa (14:24), dan berasal dari Dia 

(16:28). Roh diberikan oleh Bapa (14:16), diutus oleh Bapa (14:26) dan berasal dari 

Bapa (15:16). Sekalipun demikian , Anak sangat terlibat dalam kedatangan Roh 

Kudus; Anak mendoakan kedatangan-Nya (14:6), Bapa mengutus Roh dalan nama 

Anak (14:26), Anak akan mengutus Roh dari Bapa (15:26). Pelayanan Roh Kudus 

dipahami sebagai kelanjutan dari pelayanan Anak. 

Yesus dalam pelayanan-Nya pun menunjukkan persatuan-Nya dengan Bapa, 

dengan mengatakaan “Aku dan Bapa yaitu  satu “(10:30) dan “Barangsiapa telah 

melihat Aku, ia telah melihat Bapa”(14:9). Dia berdoa agar para murid-Nya bersatu 

sebagaimana Dia dan Bapa yaitu  satu juga (17:21). 

 

2. Latar Belakang Munculnya Dokrin Tritunggal 

Sepanjang dua abad pertama tarikh Masehi tidak ada usaha yang serius untuk 

menggumuli masalah-masalah teologis dan filosofis yang berkaitan dengan ajaran 

Tritunggal. Ditemukan penggunaan formula Bapa, Anak dan Roh Kudus, namun  tidak 

ada usaha untuk menjelaskannya secara rinci. Misalnya Yustinus dan Tatian 

menekankan kesatuan hakikat antara Firman dan Bapa dengan perumpamaan tidak 

mungkin memisahkan terang dari sumbernya, yakni matahari. Yang menunjukkan 

bahwa sekalipun Firman dan Bapa itu berbeda, keduanya tidak dapat dipisahkan. 

Istilah Tritunggal tidak pernah dipergunakan dalam Alkitab. Orang yang pertama 

menggunakan istilah ini yaitu  Tertulianus. Menurut Tertulianus, terdapat tiga wujud 

dari Tuhan  yang Esa. Sekalipun ketiga wujud itu berbeda menurut angka, sehingga 

dapat dihitung, namun merupakan penyataan dari suatu kekuatan tunggal yang tidak 

terpisahkan. Sebagai ilustrasi dari persatuan di dalam Ke-Tuhan an, Tertulianus 

menunjuk pada persatuan antara akar dan tunasnya., sumber air dengan sungainya, 

matahari dengan terangnya. Bapa, Anak, dan Roh merupakan zat yang sama, 

diperluas menjadi tiga perwujudan, namun tidak terbagi. Tertulianus menggunakan 

istilah Tritunggal berdasarkan apa yang dikemukan dalam 1 Yohanes 5:7. Kata-kata 

“…Ketiganya yaitu  satu” menjadi indikasi dari Tritunggal. Istilah Tritunggal 

dipergunakan Tertulianus dengan pengertian bahwa substansi Tuhan  yaitu  satu, 

namun ada tiga Oknum, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Penjelasan Tertulianus 

memiliki kelemahan sebab  ia membedakan Oknum I dan Oknum II dalam 

derajatNya. Menurut Tertulianus Oknum II, yakni Anak lebih rendah derajatnya dari 

Oknum I sebagai Bapa. Setelah Tertulianus muncul Origenes yang mengemukakan 

bahwa  bukan hanya Anak yang lebih rendah dari Bapa, namun  Oknum III, yaitu Roh 

Kudus lebih rendah dari Anak dan Bapa. Bahkan Arians menyangkali keilahian Anak 

dan Roh Kudus. 

Pada akhir abad ke-2 dan permulaan abad ke-3, muncul dua usaha untuk 

menghasilkan definisi yang lebih tepat tentang hubungan antara Kristus dengan Tuhan . 

Pandangan ini disebut Monarkhianisme (harafiah,”satu-satunya kekuasaan tertinggi”), 

sebab  menekankan keunikan dan persatuan Tuhan . Usaha yang pertama dikenal 

dengan pandangan monarkhianisme dinamis, pencetusnya yaitu  seorang pedagang 

kulit hitam dari Bizantium yang bernama Theodotus. Ia memperkenalkan pandangan 

ini di Roma sekitar tahun 190. Theodotus berpendapat bahwa sebelum dibaptis Yesus 

yaitu  manusia biasa, walaupun benar-benar saleh. Dan pada saat dibaptis, Roh atau 

Kristus hinggap diatas-Nya dan Yesus dapat melakukan berbagai mujizat. Dan bagi 

Theodotus Yesus yaitu  manusia biasa, diilhami, namun  tidak didiami oleh Roh 

Kudus. 

Pada parohan kedua abad ke-3, tampil Paulus dari Samosata yang 

mempertahankan bahwa Firman (Logos) tidak merupakan wujud yang berkepribadian 

dan mampu hidup sendiri. Hal ini berarti Yesus Kristus bukan Firman. Tapi menurut 

Paulus dari Samosata, Firman itu merujuk pada perintah dan ketetapan Tuhan . Tuhan  

memerintahkan dan melaksanakan apa yang dikehendaki-Nya dengan perantaraan 

manusia yang namanya Yesus. Inilah yang dimaksudkan dengan logos dalam 

Yohanes 1.  Dengan demikian terdapat unsur kesamaan antara Tertulianus dengan 

Paulus dari Samosata, yaitu kenyataan bahwa Tuhan  hadir secara dinamis di dalam 

kehidupan manusia yang namanya Yesus, namun sama sekali tidak terdapat kehadiran 

Tuhan  yang benar-benar nyata di dalam diri Yesus. 

Usaha kedua dikenal dengan pandangan monarkhianisme modalis yang berusaha 

meneguhkan dokrin Tritunggal. Monarkhianisme modalis juga berusaha 

mempertahankan dokrin kesatuan Tuhan , namun  juga mengakui keilahan penuh Yesus 

Kristus. Menurut pandangan monarkhianisme modalis istilah Bapa menunjuk kepada 

Ke-Tuhan an itu sendiri, dan setiap gagasan bahwa Firman atau Anak itu kepribadian 

yang lain dari Bapa agak sulit diterima oleh golongan ini. Adapun tokoh dari gerakan 

ini yang menonjol yaitu  Noetus dari Smirna, yang aktif pada akhir abad ke-2 dan 

Sabellius yang menulis dan mengajar di bagian awal abad ke-3 dan yang 

mengembangkan pemikiran dokrin gerakan ini sehingga memperoleh bentuk yang 

lengkap dan cangkih.  

Gagasan pokok dari golongan ini yaitu  hanya ada satu Ke-Tuhan an yang dapat 

disebut dengan berbagai cara sebagai Bapa, Anak dan Roh Kudus. Istilah-istilah ini 

tidak menunjukkan kepada pembedaan yang nyata, namun  sekedar merupakan nama 

yang dianggap cocok dan dapat digunakan pada saat-saat yang berbeda. Bapa, Anak 

dan Roh Kudus itu identik, ketiganya merupakan penyataan yang berturut-turut dari 

Oknum yang sama. Hal ini berarti pemecahan monarkhianisme  modalis terhadap 

paradox ketigaan dan keesaan yang digagaskan bukanlah bahwa Tuhan  yaitu  tiga 

Oknum dengan tiga nama, namun  satu Oknum dengan tiga nama, tiga peranan, atau 

tiga kegiatan yang berbeda. 

Selain itu gagasan lainnya dari modalisme ialah Sang Bapa ikut menderita 

bersama dengan Kristus, sebab Bapa benar-benar hadir di dalam dan secara pribadi 

identik dengan Yesus, Sang Anak. Pandangan ini dikenal sebagai Patripassianisme”, 

dan pandangan ini dianggap sesat sebab  dianggap bertentangan dengan filsafat 

Yunani bahwa Tuhan  tidak dapat merasakan penderitaan atau kesakitan. 

Pendapat yang beragam dan saling bertentangan ini dianggap mengganggu 

keberadaan dan pertumbuhan gereja sehingga diabad ke-4 gereja mengadakan siding 

dengan tujuan merumuskan rumusan yang benar bagi Tritunggal. Pada siding gereja 

di Nicea (Tahun 325 Ses M) dibuat kesimpulan bahwa hanya ada satu bukan tiga 

Tuhan , dan bahwa Anak dilahirkan secara kekal dari subsatansi Bapa, sebab  itu Anak 

sederajat dengan Bapa. Dan pada siding gereja berikutnya tahun 381 di Kontantinopel 

lebih dipertegas lagi rumusan tentang Oknum Roh Kudus dengan dikemukakan 

bahwa Roh Kudus juga sederajat dengan Anak dan Bapa. 

Pada masa reformasi dan sesudahnya kesalahpamahamn tentang dokrin Tritunggal 

muncul lagi secara berulang-ulang. Misalnya golongan Arminians demi menegaskan 

kesatuan Tuhan , cenderung merendahkan Oknum Anak dan Roh Kudus, dan Oknum 

Bapa dianggap derajatNya lebih tinggi. Selain  itu dari golongan Lutheran juga 

mengikuti modalisme dengan menganggap keberadaan Bapa, Anak dan Roh Kudus 

hanyalah model yang berbeda dari Tuhan  yang satu. 

Pemahaman tentang hakikat Tuhan   merupakan sumbangan pemikiran Origenes 

tentang keesaan Tritunggal. Dan pada sidang gereja tahun 325 di Necia status 

dogmatis tentang keesaan Tuhan  diterima dengan menggunakan istilah homo-usios 

(satu hakekat), sehingga bermakna satu hakekat, keberadaan dasar, essens atau 

substansi. 

Salah satu tokoh yang paling kreatif dalam sejarah teologi Kristen yaitu  

Augustinus dalam karyanya De Trinitate, ini merupakan karyanya yang terbesar di 

mana ia memperkerjakan kecerdasan berpikirnya yang luar biasa untuk memecahkan 

persoalan Tritunggal. Augustinus lebih menekankan persatuan Tuhan  dari pada 

ketigaan Tuhan . Menurut Augustinus Tiga anggota Tritunggal bukanlah Oknum-

Oknum yang tersendiri, namun  setiap Oknum mempunyai hakekat yang identik dengan 

Oknum yang lain atau dengan substansi ilahi itu sendiri. Oknum-Oknum tersebut 

berbeda berkenaan dengan hubungan mereka di dalam Ke-Tuhan an. Dalam De 

Trinitate analogi yang didasarkan pada kegiatan pikiran disajikan dalam tiga tahap 

atau tiga Trinitas, yaitu : 

1. Pikiran, pengetahuan tentang dirinya, dan cintanya pada dirinya; 

2. Daya ingat, pengertian dan kehendak; 

3. Pikiran yang mengingat Tuhan , mengetahui Tuhan  dan mengasihi Tuhan . 

  Augustinus menarik kesimpulan bahwa manusia secara sadar memusatkan perhatian 

pada Tuhan , ia sepenuhnya memperlihatkan gambar Penciptanya. 

Dengan demikian dokrin Tritunggal merupakan bagian yang sangat penting dari 

iman Kristen. Masing-masing dari ketiga Oknum ini harus disembah sebagai Tuhan  

Tritunggal. Dokrin tersebut tidak masuk akal dari sudut pandang manusia sehingga 

tidak seorang akan menciptakannya. Menurut Millard J. Erikson, Orang Kristen tidak 

menganut dokrin Tritunggal sebab  dokrin itu nyata dan secara logis kuat dan 

meyakinkan, namun  menganutnya sebab Tuhan  telah menyatakan bahwa demikianlah 

keadaan-Nya. Erikson mengutip pernyataan seseorang demikian : 

Cobalah menjelaskan, dan anda akan hilang akal; namun  cobalah 

mengingkarinya, maka jiwa anda akan hilang. 

 

Dalam sebauh artikel yang ditulis oleh Samuel T. Gunawan dikemukakan beberapa 

pandangan yang keliru tentang Tritunggal atau Trinitas, sebagaai berikut : 

1. Triteisme, yakni pandangan yang menolak keesaan Tuhan  dan percaya pada tiga 

Tuhan . 

2. Monarkkianisme, yang menekankan bahwa Tuhan  anak hanyalah merupakan mode 

lain dari pernyataan Tuhan  Bapa. 

3. Sabellianisme. Sabelius dari Ptolomais yang menyatakan bahwa Bapa, Anak dan 

Roh Kudus yaitu  tiga bentuk eksistensi atau manifestasi dari satu Tuhan . Dalam 

pandangan ini , Tritunggal bukan berkaitan dengan natur Tuhan , namun  hanya cara 

Tuhan  menyatakan diriNya. 

4. Arianisme, Arius seorang penatua yang anti Trinitarian dari Alexandria 

mengajarkan Tuhan  yang kekal yang esa dari Anak yang diperanakkan oleh Bapa, 

dank arena itu, Anak memiliki permulaan (diciptakan). Jadi Arius 

mengsubordinasikan anak pada Bapa. sedang  Roh Kudus yaitu  yang pertama 

diciptakan oleh Anak. Dan Tuhan  Bapa satu-satunya yang sama sekali tidak 

mempunyai permulaan. 

5. Socinianisme, Socinus pada abad ke enam belas mengajarkan bahwa yaitu  keliru 

untuk mempercayai pribadi-pribadi dari Trinitas memiliki satu hakekat yang esa. 

Paham mengajarkan bahwa hanya ada satu zat yang ilahi yang terdiri hanya satu 

pribadi. Socinus melakukan penyangkalan terhadap pra eksistensi Anak dan 

menganggap Anak hanya seorang manusia. Dan ia mendefinisikan Roh Kudus 

sebagai kebajikan atau tenaga yang mengalir dari Tuhan  kepada manusia.