dalam artikel nya yang berjudul Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamya
(Kelompok Hasmit dan Dasar Negara Islam), Sayydi Mahamoud al-Qimmi [3] menelusuri
asal-usul agama Islam dari tokoh bernama Abd Al-Mutalab, kakek Muhammad. “Jika
Tuhan ingin mendirikan sebuah negara, maka Dia akan menciptakan orang² seperti ini,”
kata Abd Al-Mutalab sambil menunjuk putra²nya (al-Qimmi 1996:51). Menurut al-
Qimmi, gagasan mendirikan negara dan agama Islam berasal dari kakek Muhammad.
Abd Al-Mutalab mengerti bahwa suku² Arab tak mungkin bersatu di bawah satu
kerajaan sebab tiadanya unsur pemersatu suku² ini . Dalam sebuah kerajaan, suku
yang berkuasa akan mendominasi suku² lain dan hal ini tentunya tak dapat diterima
suku² yang tak berkuasa. sebab itulah, satu²nya cara menyatukan suku² Arab yaitu
dengan menciptakan Raja-Nabi yang berkuasa atas mereka semua. Kesatuan seperti ini
tidak dapat ditolak sebab dianggap sebagai perintah Illahi. saat Abd Al-Mutalab
mengerti permasalahannya, dia meminjam contoh kisah Raja-Nabi Yahudi yakni Raja
Daud dan anaknya yakni Raja Salomo. sesudah itu, dia menciptakan agamanya sendiri
yakni Al-Hanafiya [4], yang dia telusuri asalnya dari kakek moyang warga Arab
yakni Ibrahim atau Abraham.
Dalam menyelidiki asal-usul Negara Islam, al-Qimni juga menyelidiki tentang kakek
buyut Muhammad, yakni Qusay Ibn Kilab. Di jaman pra-Islam, banyak suku² Arab yang
bertikai untuk memiliki kontrol atas kota penting Mekah. Suku Ibn Najjar mengambil alih
Mekah dari suku Guraban, dan lalu suku Madar mengalahkan Ibn Najjar dan mengambil
alih kekuasaan Mekah. Dari Madar, kontrol kota Mekah diteruskan ke suku dari Yemen
yakni Khazah. Dan akhirnya suku Quraish, di bawah pimpinan Qusay Ibn Kilab,
menguasai Mekah. Melalui “tipu muslihat, Qusay Ibn Kilab membawa kunci² al-Ka’bah
[5] dari Gebshan al-Khousa’I, melalui pertukaran dengan sebotol minuman anggur” (al-
Qimni 1996:115). [6] saat dia menguasai kota Mekah dan Ka’bah, Qusay mendirikan
Dar Al-Nadwa atau “Rumah Bersama” (ibid:82, mengutip dari Ibn Kathir, al Bedya wa al-
Nihaia, hal.192). Di bawah kekuasaan Qusay, Mekah jadi negara kecil dan Dar al-Nadwa
menjadi tempat demokrasi bagi suku² Baduy Arab. Menurut Ibn Kathir, Qusay menjadi
raja dan seluruh suku² Arab tunduk padanya
Di masa itu, Mekah bukanlah satu²nya kota Arab yang memiliki ka’bah. ada ka’bah
di Najran, ka’bah di Shadad al-Aiadi, dan ka’bah di Qatafan (ibid:65). Setiap ka’bah
didirikan sebagai rumah bagi tokoh pemimpin besar suku, yang dijuluki sebagai Rabb
atau “tuan”, atau rumah bagi batu suci. Batu² gunung berapi dan batu² meteor
merupakan benda² yang disembah oleh warga Arab Baduy. Mereka menganggap
kedua jenis batu ini keramat sebab batu berapi datang dari dalam bumi dan
batu meteor datang dari dinding² rumah Tuhan di surga. Richard Burton, bintang film
terkenal AS, dulu pura² jadi Muslim dan mengunjungi Mekah, sambil mengambil sedikit
bagian dari Batu Hitam (Hajar Aswad) dan lalu meneliti jenis batu ini . Penelitian
membuktikan bahwa Batu Hitam merupakan serpihan dari batu meteor (ibid:25).
ada berbagai versi dongeng² Islamiah tentang asal-usul Batu Hitam. Sebuah
dongeng menyatakan bahwa Adam diusir keluar dari surga dan dia membawa Batu
Hitam ini dari surga dan turun ke bumi. Batu itu dulu sangat cemerlang dan putih tapi
menjadi hitam sebab menyedot semua dosa orang² yang menciumnya setiap tahun di
ibadah Haji. Dongeng lain mengatakan Batu Hitam ini milik Abraham dan putranya
Ishmael. Dikatakan bahwa Abraham dan putranya menggunakan Batu Hitam ini sebagai
tangga untuk membangun Ka’bah.
Sebuah kejadian penting terjadi di tahun 569 atau 570 M, yang dikenal oleh warga
Arab sebagai Tahun Gajah, yang menambah pentingnya bangunan Ka’bah di Mekkah
(ibid:76, al Suhaili mengutip dari Ibn Hisyam, di artikel nya al-Rawd, hal.77). Pemimpin
Ethiopia yang bernama Abraha berusaha untuk menghancurkan Ka’bah, tapi tidak
berhasil. Legenda Islam mengatakan bahwa burung² dari surga yang disebut sebagai
“Tair al-Aba’abil” menjatuhkan batu² pada tentara² penyerang. Akan namun , penulis
Ethiopia bernama Abbas Mahmoud al-Agaad yakin bahwa tentara Abraha terserang
penyakit cacar (ibid:76, mengutip dari Al-Agaad, T’awal’ai al-Bi’atha al-Muhammadia,
hal.145-146). Al-Agaad mengambil kesimpulan ini dari catatan² sejarah Byzantium yang
ditulis oleh ahli sejarah bernama Procope, yang mengunjungi Mekah di Tahun Gajah.
Mundurnya pasukan Abraha membuat warga Mekah yakin bahwa tuhan suku
Quraish telah menang berperang bagi mereka.
saat Qusay Ibn Kilab meninggal, dia meninggalkan warisan Ka’bah dan pemimpinan
Mekah pada putra pertamanya yaitu Abd Al-Dar. Akan namun , putra keduanya yakni
13
Abd Manaf menginginkan kedudukan abangnya dan mencoba merebut kekuasaan
dengan kekerasan. Al-Qimni menganggap penulis² sejarah dan penafsir Islam tidak adil
sebab berpihak pada Abd Manaf dan bukannya berpihak pada Abd Al-Dar (ibid:89).
Putra² Abd Manaf yakni Hasyim, Abd Shams, Abd Mutalab, dan Nawfal, semuanya ingin
berperang melawan putra² Abd Al-Dar. Akan namun , putra² Abd Al-Dar mengambil
keputusan untuk menghormati ayah mereka dengan menghindari pertumpahan darah
dan perpecahan sehingga mereka menyerahkan kekuasaan pada saudara² misannya. Al-
Qimni menjelaskan perbuatan putra² Abd Manaf sebagai berikut: “Dan kepemimpinan
yang diambil alih melalui kekerasan dari rumah Abd Al-Dar, akhirnya jatuh ke tangan
Hasyim, putra Abd Manaf.” (ibid:90, mengutip al-Tabari, al-Tarikh, hal.123). Tak lama
sesudah Abd Shams wafat, putranya yakni Umayyah mencoba mengambil alih kekuasaan
dari pamannya Hasyim dengan kekerasan. Suku Quraish sekali lagi mencegah
peperangan dengan cara meminta keputusan adil dari seorang imam Khazai. Imam ini
menetapkan bahwa Umayyah harus diasingkan secara sukarela selama 10 tahun. Cucu
Umayyah yang bernama Mu’awiyya nantinya mencoba merebut kekuasaan yang
dirampas dari kakek buyutnya, dan dia lalu mendirikan kekalifahan Umayyah dan
membunuh habis keturunan Hasyim sampai tiada yang tersisa lagi (ibid).
Keturunan Putra² Qusay Ibn Kilab
…………………….Qusay Ibn Kilab…………………….
Abd al-Dar ……………………………………Abd Manaf
…………………………………..Hashim/ Abd Shams/ Al-Mutalab/ Nawfal
……………………………………Abd al-Mutalab/ ………..Umayyah/
………………………………………………………………………Abu Sufyan Ibn Hareb
………………………………………………………………………Mu’awiyya
………………………………………………………………………(Kekalifaham Umayyah)
Keturunan Putra² Abd al-Mutalab
…………………….Abd al-Mutalab…………………….
Abd al-‘Aizi [8] / Abd Allah/ Talib/ Abbas/ Hamzah
Nabi Muhammad/ ‘Ali (Shi’a)/ (Kekalifahan Abbasid)
[8] Muhammad memberinya nama ejekan Abu Lahab dalam Qur'an, Sura al-Masad (111), ayat 1.
Abd Al-Mutalab
sesudah kematian Hasyim, kepemimpinan Mekah dan Ka’bah diwariskan pada Abd Al-
Mutalab (ibid:98). Tak lama sesudah dia menjadi pemimpin, Abd Al-Mutalab mulai
“meletakkan fondasi agama baru di mana semua hati harus disatukan bagi satu Tuhan”
(ibid:99). Dia memerintahkan penghapusan berhala². Tuhan tidak akan menerima
ibadah seseorang kecuali melalui perbuatan² baiknya. Tuhan yang dimaksudnya yaitu
Tuhan Ibrahim atau Abraham, bapak segala suku² Arab dan Yahudi. Abd Al-Mutalab
mendapat penglihatan saat dia sedang tidur di halaman Ka’bah bahwa Tuhannya
Ibrahim telah memerintahkannya untuk menggali sumur Zamzam [9] (ibid:100,
mengutip dari Ibn Hisyam, al Sira, hal.136, 139). Dia lalu melarang semua penyembahan
dan ibadah pada berhala² dan meminta warga Mekah kembali pada agama
Ibrahim, yang disebutnya sebagai agama Hanafiya. saat bulan Ramadhan tiba, dia
akan pergi ke gua Hira [10] untuk bertapa di sana. Abd Mutalab mulai mengajak
warga Mekah untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan sebab dia percaya
akan kebangkitan jiwa² orang mati dan penghakiman di hari kiamat. Sebenarnya Abd Al-
Mutalab bukanlah pendiri pertama agama Hanafiya. Menurut al-Qimni, beberapa orang
dari Yemen mendirikan agama ini di abad pertama Masehi sebelum kelahiran Yesus
Kristus (ibid:111, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal.59, dan Thuria Manquosh,
al-Tawhid, hal.159). Abd Al-Mutalab tidak tahu asal-usul agama Hanafiya dan sebab nya
dia memilih saja nabi Yahudi yakni Ibrahim (ibid, mengutip dari al-Fakhr al-Razi).
warga Yemen sudah terbiasa menyembah satu tuhan yang mereka sebut sebagai
Al-Rahman (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal.59).
[9] Sumur suci di Mekah
[10] Nabi Muhammad mengaku bahwa malaikat Jibril datang padanya untuk pertama kali di gua ini dan
menyampaikan ayat pertama Qur'an. Di jaman pra-Islam, gua ini dikenal sebagai "Khar Khirah", yang
merupakan julukan tempat warga Mekah buang hajat alias berak. Di jaman itu warga Arab
tidak punya WC di dalam tenda mereka.
Banyak orang yang lalu menerima agama Abd Al-Mutalab dan beberapa dari mereka
juga mengembangkannya. Pengikut² agama Hanafi [11] yang paling utama yaitu :
Qas Ibn Sa’ad al-Ia’adi
Dia mengajak orang² untuk mengikuti “Satu Tuhan, yang tidak melahirkan dan
dilahirkan, dan padaNyalah segala sesuatu akan kembali” (ibid:112, mengutip dari al-
Shahirstani, al-Milal wa al-Nihel 1951, hal.96). sebab nya, dialah orang pertama di
Jazirah Arabia yang menyebut tentang Tauhid atau Tuhan yang Esa.
Suaid Ibn A’amir al-Mustalaq
Dia mengatakan “orang tidak berdaya mengalami hal yang jelek atau baik. Semuanya
sudah ditakdirkan oleh Tuhan.” (ibid, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, hal.219,
259). Maka al-Mustalaq menetapkan pengertian tentang takdir.
‘Awkia Bin Zohir al-Ia’adi
Dia mengaku sebagai Nabi (ibid, mengutip dari Ibn Habib, al-Mahbar, hal.136, and al-
Awasi, Boloq Alarab, hal.260). Dia dulu sering pergi ke tempat yang rendah di Mekah,
lalu naik tangga, dan mengatakan pada orang² bahwa Tuhan berkata padanya dari
tempat ini. Akan namun ‘Awkia tidak berhasil dalam usahanya mengaku sebagai Nabi
(ibid).
Waraqa Ibn Nawfal
Dia mengajak orang² untuk beribadah pada Tuhannya Ibrahim dan mengikuti agama
Hanafiya pada mulanya, tapi dia lalu memeluk sebuah sekte/bidah dari agama Kristen.
Dia yaitu saudara sepupu istri pertama sang Nabi, yakni Khadijah. Melalui Nawfal,
Khadijah jadi yakin bahwa suaminya yaitu seorang Nabi (ibid: 114, mengutip Ibn
Hisyam, al-Sira, hal. 511-512).
Ala’af Ibn Shihab al-Tamimi
Dia percaya keesaan Tuhan, kebangkitan jiwa² yang mati, dan pahala bagi perbuatan
baik dan hukuman bagi perbuatan jahat (ibid:115, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab,
hal.277).
Umat Hanafiya melakukan praktek² ibadah seperti “sunat, naik haji ke Mekah, wudhu
sesudah bersetubuh, menolak penyembahan berhala, percaya pada satu Tuhan yang
menentukan nasib baik dan jelek, dan semua di jagad raya ini telah ditakdirkan dan
ditulis nasibnya.” (ibid:116, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mafasal, hal.290). Menurut
al-Qimni, satu²nya yang belum ada bagi umat Hanafiya yaitu seorang Nabi (ibid:116).
saat umat Hanafiya sadar pentingnya memiliki seorang Nabi, mereka lalu bersaing
satu sama lain untuk menentukan siapa diantara mereka yang layak jadi Nabi. Mereka
mengira wahyu akan dinyatakan pada satu orang yang mencapai tingkat spiritual dan
kesucian yang tinggi (ibid:117). Salah satu dari mereka, yakni Zayd Ibn ‘Umar Ibn Nafil,
tenar akan kerohaniannya dan dia tidak minum minuman beralkohol, tidak makan
bangkai, darah, babi dan semuanya yang disembelih tanpa menyebut nama Allâh atau
apapun yang dipersembahkan pada berhala (ibid:118, mengutip Ibn Hisyam, hal.206).
Umat Hanafiya lainnya yaitu Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi al-Salt yang tidak pernah
menerima Islam sebab mengira dia sendiri akan jadi Nabi (ibid:121, mengutip Dr. Jawad
‘Ali, hal.280-281, Ibn Hisham hal.208-209, dan Ibn Kathir hal.206, 208). saat dia
diberitahu bahwa Nabi Muhammad membunuh orang² Mekah dalam perang Badr, dia
menyobek-nyobek bajunya dan meratap-tangis dan berkata jika dia yaitu Nabi, maka
dia tidak akan membunuhi keluarganya sendiri (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, hal.
377, 378, 383).
Al-Qimni menyatakan banyak sajak² yang ditulis oleh kedua pemeluk Hanafiya, yang lalu
dimasukkan ke dalam Qur’an (ibid, hal.118-123). Berikut yaitu contoh ayat yang ditulis
oleh Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi Salt dan dimasukkan ke dalam Qur’an:
16
Tentang Ibrahim saat dia bermimpi akan membunuh putranya Ismail,
Umaiyya berkata, “Wahai putraku, aku telah memberikanmu sebagai persembahan
pada Tuhan, bersabarlah sebab Allah akan menggantimu. Putranya menjawab bahwa
segalanya milik Allâh tanpa perkecualian. Lakukan apa yang telah kau janjikan pada
Allah dan jangan melihat darahku yang menutupi bajuku. Dan saat dia menanggalkan
baju anaknya, Allâh mengganti putranya dengan persembahan halal seekor domba.
Tentang Maria dan putranya Yesus, Umaiyya berkata,
Dan dalam agamamu sebab Tuhannya Maria yaitu sebuah tanda, yang tentang Yesus
putra Maria. Seorang malaikat datang pada Maria pada saat orang² sedang tidur, dan
malaikat itu tampil nyata dan tidak tersembunyi. Dia berkata, “Jangan takut atau tak
percaya pada para malaikat Tuhan dari ‘Aad dan Jariham. Aku yaitu utusan al-Rahman
yang memberimu seorang putra.” Maria berkata, “Bagaimana mungkin aku punya putra
sedangkan aku tidak pernah jadi wanita jalang atau mengandung?
Tentang Musa dan Harun dan kisah mereka dengan Firaun, Umaiyya berkata,
sebab kebaikan dan pengampunanMu kau mengangkat Musa sebagai seorang Nabi.
Kau berkata padanya, pergilah kau dan Harun menghadap Firaun yang congkak. Katakan
padanya, apakah kau membuat bumi tanpa gunung² untuk melindunginya? Dan katakan
padanya, apakah kau membuat langit tanpa pilar² pendukung?
Tentang Hari Kiamat, Umaiyya berkata,
saat mereka menghadap pada Takhta Allâh, yang mengetahui yang tersembunyi dan
yang nyata. saat kami datang menghadapNya, Dia yaitu Tuhan yang pengasih dan
janjiNya dipenuhi. Dan kaum berdosa dibawa dengan telanjang ke tempat terkututk bagi
mereka. Di sana mereka tidak mati untuk beristirahat, dan mereka tetap berada dalam
lautan api.
Al-Qimni mengutip pernyataan Dr. Jawad ‘Ali sebagai berikut:
ada banyak kesamaan pendapat dalam ayat² puisi di atas dengan apa yang tertulis
dalam Qur’an tentang Hari Kiamat, Surga, dan Neraka. Terlebih lagi, kita dapatkan dalam
puisi² Umaiyya konstruksi dan isi kalimat yang sama seperti yang tercantum dalam
Qur’an dan ahadis. Tentu saja tidak mungkin bahwa Umaiyya menjiplak puisi ini
dari Qur’an sebab saat itu Qur’an belum diwahyukan. Meskipun dia meninggal di tahun
ke 9 Hijriah, kita tidak bisa membuat kesimpulan bahwa dia mencuri ayat² Qur’an
sebab saat itupun Qur’an belum selesai diwahyukan. (ibid: 123-124, Dr. Jawad ‘Ali, al-
Mafsal, hal. 384-385).
Selain tentang agama Hanafiya, al-Qimni juga membahas sedikit tentang agama Al-
Sabiah atau Sabian. Menurut dia, umat Sabian “biasa sembahyang berkali-kali setiap
hari dan hal ini merupakan kewajiban ibadah. Dalam sembahyang mereka melakukan
qiyam (berdiri) dan ruk’u (berlutut dan bersujud), melakukan wudhu sebelum
17
sembahyang, dan mencuci tubuh mereka sesudah berhubungan sex, dan mereka punya
beberapa ketentuan yang membatalkan wudhu.” (ibid:111, mengutip dari Mahmoud al-
‘Aqaad 1967, hal.144).
Munculnya Nabi yang Ditunggu-tunggu
sesudah penjelasan latar belakang keadaan, al-Qimni berkata, “dan sesudah Muhamad
SAW mulai mengikuti jejak langkah kakeknya Abd Al-Mutalab di gua Hira, dan gua ini
berubah jadi tempat suci dan terkenal dalam sejarah … dan dia beriman pada agama
Hanafiya, dan sebelum mencapai usia 40 tahun, dia menyatakan diri sebagai Nabi
ummat [12], sesudah Tuhan Ibrahim menyatakan diri padanya.” (ibid:132).
[12] Qalam 68:13 “yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.”
Pada mulanya, warga Mekah tidak menentang atau menerima agama baru
Muhammad. Akan namun , para pemimpin Mekah mulai protes saat ayat² Qur’an mulai
menghina mereka (ibid:134). Contohnya, dalam Sura Qalam ayat 68:13, Qur’an
menyebut Al-Akhnas Ibn Shariq sebagai anak haram sebab dia menyebut Muhammad
sebagai orang sakit jiwa atau orang kesurupan (ibid, mengutip dari Ibn Kathir,
hal.243).[13] Dalam Surah Al-Muddaththir, ayat 74:50, Qur’an menyatakan bahwa para
ketua warga suku sebagai keledai² sebab mereka menolak masuk Islam (ibid). [14]
Dalam Sura Al-Masad 111 (Api), Qur’an membantah pernyataan paman Muhammad
yang bernama Abd al-‘Aizi, dan menyebut dia sebagai Abu Lahab atau “Bapak Api,” dan
menyebut istrinya yang merupakan saudara perempuan Abu Sufyan, sebagai pembawa
kayu bakar di neraka. Dan di Sura Al-Kafirun 109, Qur’an menyebut warga Mekah
sebagai kafir (ibid:135). Akan namun , para ketua Mekah tidak melihat bahaya dari Islam
sampai Muhammad mulai membujuk para budak untuk memberontak terhadap
majikan² mereka. Pada saat ini kelompok Abd Al-Dar mulai bersekutu dengan suku²
Mekah lainnya untuk mencegah Islam berkembang (ibid:141, mengutip Ibn Hisyam, hal.
238, 241). Mereka sekarang melihat bahwa putra² Abd Manaf mencoba menguasai
seluruh suku² Arab melalui cara sebagai Nabi baru.
Persekutuan dengan Suku² Medina
saat Muhammad mulai kehilangan harapan untuk mendapat dukungan di Mekah, dia
menerima ajakan orang² Yahtrib [15] dari suku Al-Khaoz dan Al-Khazrig untuk tinggal di
Yathrib dan jadi ketua mereka (ibid:150). Suku² Yathrib ingin menguasai kota Mekah
dengan cara menyerang dan mencegat kafilah² dagang Mekah yang datang dari Al-Sham
18
atau Syria menuju ke Mekah. Perbuatan penyerangan ini dihalalkan dalam Islam (ibid).
Suku² Yahudi yang saat itu tinggal di Yathrib menerima persetujuan dari suku² Al-Khaoz
dan Al-Khazrig, dan berjanji untuk berperang bersama dengan mereka. Dengan begitu,
ayat² Qur’an memuji-muji kaum Yahudi dan nabi²mereka mulai bermunculan. Ayat² ini
menyatakan warga Yahudi melebihi segala warga lain di seluruh dunia [lihat
Qur’an, Sura² Al-Baqarah 2:62, Al-Maidah 5:44, Al-A’raf 7:157, dan As-Saff 61:6] (Ibid:
150). Akan namun , sikap ramah Muhammad terhadap kaum Yahudi ini tidak lama
berlangsung. Sang Nabi “bersikap ramah untuk beberapa saat pada kaum Yahudi, lalu
mulai berdebat dengan mereka, dan menunggu bertindak sampai datang kesempatan
baik untuk mencabut kuku² mereka (menyiksa mereka), dan akhirnya menghancurkan
mereka sepenuhnya” (ibid:151, mengutip dari Ahmed al-Sharif, Makka wa al-Madina,
hal.415).
[15] Kaum Anshar merupakan pendukung Nabi dari Medina, dan kaum Mujahirin yaitu umat Muslim
Mekah yang hijrah bersama Nabi ke Medina.
Tak lama sesudah sang Nabi pindah ke Yahtrib, yang lalu dinamakannya sebagai Medina,
dia membuat perjanjian dengan kaum Yahudi dan mulai menyerang kafilah² dagang
Mekah, yang datang dari Al-Sham atau Syria (ibid:153). Persekutuan antara suku²
Medina dan Muhammad berperanan penting dalam mengalahkan suku² Mekah. Dan
akhirnya memang Mekah jatuh dan kelompok keluarga Hashmi mengambil alih
kekuasaan di kota Mekah dan Medina. saat Muhammad menguasai Ka’bah, suku²
Arab menerima agama baru Islam (ibid: 154). Akan namun , kekuasaan keluarga Hashmi
tidak berlangsung lama sesudah sang Nabi wafat. Putra² Umayyah, yang diasingkan ke
Syria, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam terhadap keluarga Hashmi.
Dan saat kesempatan baik tiba, mereka tidak hanya mengambil alih kekuasaan, tapi
juga membunuh semua anggota keluarga Hashmi. Mereka membunuh cucu²
Muhammad yakni Hasan dan Husyein, dan memusnahkan seluruh keluarga Hashmi
dari muka bumi. Mereka juga bahkan menghancurkan Ka’bah dengan ketepel² raksasa
(ibid:154). Ma’uwiyah, yang merupakan kalifah pertama bani Umayyad menulis syair
yang menyarikan artikel yang ditulisnya yakni Al-Hizb Al-Hashmi:
Suku Hashmi bermain-main dengan kepemimpinan \\ Tiada kabar atau wahyu yang
datang dari surga. (ibid:154, mengutip dari Muhammad al-Qazuni, hal.9, dan Ibn Kathir,
al-Bedayia wa al-Nihaia, hal.227).
Akan namun , kisahnya tidak berhenti dengan kesimpulan itu, namun diteruskan dalam
artikel Al-Qimni dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi).
dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi), al-Qimni menelaah
secara detail peperangan yang dilakukan Nabi Muhammad dan dasar utama negara
Islam pertama. Penelaahan al-Qimni berbeda dengan apa yang biasanya diungkapkan
penulis sejarah. Dia menyingkirkan segala kisah muzizat² atau campur tangan illahi
dalam peperangan ini , yang dipercaya para sejarawan Muslim sebagai alasan
utama kemenangan perang di Negara Islam milik Nabi. Sebaliknya, al-Qimni menilai
kemenangan ini terjadi sebab kepemimpinan dan taktik militer Nabi Muhammad.
Terlebih lagi, al-Qimni yakin bahwa kemenangan inilah yang membuat Nabi Muhammad
mengganti nama kota Yathrib menjadi Medina. Sebelum hijrah dari Mekah ke Medina,
pesan Islam berdasar pada pendekatan damai tanpa pemaksaan. Saat itu, ajaran Islam
mengajak umat Muslim untuk bersabar dan menunggu pahala mereka di surga. Akan
namun , sesudah hijrah ke Medina, “semua umat Muslim, baik Muslim Anshar maupun
Muslim Muhajirin, [16] diubah jadi tukang perang, penyerang², dan prajurit Negara Islam
di Medina. Semua perubahan ini terjadi sesudah tujuan berubah dari warga yang
beribadah pada tuhan kakek moyang menjadi pendirian sebuah Negara , yang diwakili
oleh prajurit perang dan darah.” (al-Qimni 2001:164). Dengan adanya perubahan itu,
pengikut Nabi pun jadi melonjak lebih banyak jumlahnya dan hal ini mengakibatkan
kemenangan di Badr, seperti yang dijelaskan al-Qimni sebagai berikut:
Dan ini yaitu perubahan materi yang paling berbahaya, yang berperan sangat penting
untuk menarik minat bergabung para tukang perang dari suku² yang lebih lemah,
sesudah sang Nabi berusaha selama tiga belas tahun di Mekah mengajak orang²
memeluk agamanya tanpa keberhasilan nyata. Dulu di Mekah, ajakan memeluk Islam
dilakukan dengan janji nikmat dan hidup berkelimpahan nantinya di surga… Akan namun ,
sesudah Allâh memberi ijin pada Nabi dan umat Muslim yang setia untuk mengambil
harta kafir, maka tujuan yaitu memiliki harta duniawi dan ini tentunya menarik
minat orang² miskin. Iming² harta jarahan duniawi ini membuat orang² lemah miskin
bergabung jadi prajurit di Negara Islam baru. (ibid:165).
[16] Muslim Ansar yaitu pendukung Nabi yang hidup di Medinah, sedangkan Muslim Muhajirin yaitu
umat Muslim asal Mekah yang ikut hijrah bersama Nabi ke Medina.
Menurut al-Qimni, sang Nabi berusaha bersekutu dengan tiga suku Yahudi utama yakni
Quaynuqa, al-Nadir, dan Qurayzah di Medina, saat dia masih lemah dan tidak punya
banyak pengikut (al-Qimni: 141). Pada saat itu, ayat² Qur’an mengatakan “kedudukan
umat Israel yang tinggi dalam sejarah politik di daerah kekuasaan Daud dan Salomo, dan
tempatnya yang terhormat di sejarah agama Nabi² dari Nuh sampai Abraham dan Ishak
20
dan Yusuf dan Musa, dll” (ibid). Qur’an dengan jelas menghormati dan mengakui Taurat
milik umat Yahudi (ibid). Pada saat itu, Nabi puasa di hari Paskah Yahudi dan saat sholat
berqibla [17] ke Yerusalem, kota suci umat Yahudi.
[17] arah sholat.
Al-Qimni yakin bahwa kaum Yahudi Medina menerima persekutuan dengan Muhammad
sebab adanya kemungkinan hal ini mendatangkan keuntungan pula bagi mereka di
masa depan (ibid). Akan namun , “Yahudi Medina, yang mengharap peruntungan masa
depan, mendapatkan bahwa mereka sangat salah duga, terutama sesudah mengalahkan
pasukan Quraish di Badr. Sudah jelas sekarang bahwa para Muslim merampas harta
benda Quraish di Badr dan mereka jadi penuh percaya diri dan tidak butuh persekutuan
dengan kaum Yahudi lagi” (ibid: 141-142). Tak lama sesudah Nabi menang perang di
Badr, “dia mengumpulkan orang² Yahudi di pasar Quaynuqa dan berkata pada mereka:
‘wahai masayarakat Yahudi, terimalah Islam sebelum terjadi padamu apa yang telah
terjadi pada suku Quraish’ “ (ibid:243, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 173). Meskipun Nabi
tidak memberi Yahudi Quaynuqa pilihan lain kecuali Islam atau mati, al-Qimni
menjelaskan bahwa artikel ² Sira Islam [18] menunjukkan penghalalan sikap pembantalan
perjanjian dengan kaum Yahudi (ibid: 244). Menurut para penulis sejarah di Sira Islam,
seorang Muslimah datang ke pasar Quaynuqa untuk belanja dan sekelompok pemuda
Yahudi menggodanya dan hal ini mengakibatkan bagian tubuhnya tersingkap. sebab itu
seorang Muslim membunuh salah seorang dari pemuda² Yahudi itu, dan para Yahudi
lalu membalas bunuh Muslim ini . Al-Qimni menolak menerima keterangan ini
sebagai penghalalan pengusiran seluruh suku Yahudi Quaynuqa dari Yathrib sehingga
mereka terpaksa keluar dari Jazirah Arabia dan tinggal di al-Sham atau Syria
Suku Yahudi yang kedua yaitu suku al-Nadir, yang dituduh Nabi berencana untuk
membunuhnya. Al-Qimni sekali lagi meragukan alasan seperti itu sebagai penghalalan
pengusiran seluruh suku al-Nadir dari Arabia sesudah merampas semua harta benda dan
kekayaan mereka dan lalu membagi-bagikannya diantara umat Muslim. Akan namun , kali
ini penghalalan dinyatakan dari surga sebab “surga memberitahu sang Nabi melalui
malaikat Jibril bahwa sebagian Yahudi berkata satu sama lain, ‘kau tidak akan
mendapatkannya seperti dia sekarang ini,’ dan Rasul Allâh sedang duduk dekat salah
satu tembok mereka, ‘seseorang harus naik ke atas rumah dan menjatuhkan batu
padanya sehingga membunuhnya dan kita lalu bisa hidup dengan tenang” (ibid: 355,
mengutip Ibn Kathir, al-Bedya, hal. 76). sesudah malaikat Jibril menyatakan rencana
pembunuhan itu pada Nabi, dia lalu menyerang suku Nadir dan memaksa mereka
menyerah padanya. sesudah itu, lagi² sang Nabi membagi-bagikan harta kekayaan kaum
Yahudi diantara umat Muslim dan kaum Yahudi pun harus keluar dari Arabia dan
akhirnya tinggal di Palestina
Pembantaian Yahudi Qurayzah
Suku Yahudi Qurayzah dituduh bersekongkol dengan musuh di Khazwat al-Khandaq
atau Perang Parit. Menurut al-Qimni, pihak sekutu Mekah mengepung Medina dan
berusaha menyerang Muhammad dan umat Muslim. saat Muhammad tahu tentang
penyerangan ini, dia menggali parit di sekeliling Medina untuk mencegah musuh masuk
kota itu. Satu²nya tempat yang tidak dilindungi yaitu tempat tinggal bani Qurayzah
yang hidup dalam benteng² mereka yang kuat. Nabi tahu titik lemah persetujuannya
dengan umat Yahudi. saat pihak musuh sedang mengepung Medina, Muhammad
mendengar berita bahwa kaum Yahudi setuju untuk membuka benteng² mereka
sehingga pihak musuh dapat masuk dan menghancurkan pasukan Muslim. Akan namun ,
al-Qimni meragukan kebenaran rencana rahasia sebab kenyataan suku Yahudi tidak
pernah membuka benteng mereka untuk musuh. Al-Qimni berpendapat, jikalau
sekalipun kaum Yahudi setuju untuk membuka benteng² mereka tapi pada kenyataan
mereka tidak mekalukan hal itu, maka seharusnya mereka tidak bisa dituduh melanggar
perjanjian dengan Nabi (ibid: 384).
Dalam keterangan rinci yang tragis dan dramatis, al-Qimni mengisahkan bagaimana suku
Qurayzah dipenggal tanpa ampun tak lama sesudah tentara sekutu Mekah meninggalkan
Medina. Sekali lagi, Jibril-lah yang membisiki sang Nabi untuk maju dengan pasukannya
ke suku Qurayzah.
Dikisahkan oleh Aisyah: saat Rasul Allâh bebas dari serangan sekutu, dia masuk rumah
lalu melakukan wudhu untuk sholat, Jibril datang padanya, kulihat kepala Nabi ditutupi
debu. Jibril berkata pada Nabi ‘Oh Muhammad, apakah kau telah meletakkan
senjatamu?’ Nabi berkata padanya, ‘Kami telah meletakkan senjata² kami.’ Jibril berkata
padanya, ‘Kami belum meletakkan senjata² kami. Bangkit dan pergilah ke Banu
Qurayzah…’
Rasul Allah memerintahkan muzzein [19] untuk memanggil orang², yang mendengar
harus menurut untuk tidak melakukan sholat Asyar kecuali di tempat Banu Qurayzah
Suku Qurayzah tidak punya pilihan kecuali menyerah pada pasukan Muslim dan
menunggu nasib mereka. Mereka mengira Nabi akan mengsusir mereka seperti yang
dilakukannya pada kedua suku Yahudi terdahulu, dan juga merampas semua harta
kekayaan, ternak mereka. Akan namun Muhammad menyerahkan keputusan akan nasib
mereka pada seorang ketua Arab yang bernama Sa’ad bin Mu’aaz (yang luka parah
akibat perang Khandaq). Sa’ad mengusulkan semua pria dibunuh dan wanita, anak², dan
kekayaan dibagi-bagi diantara umat Muslim. Usul ini diterima Nabi dan dia berkata pada
Sa’ad bin Mu’aaz, “Kau telah menghakimi mereka dengan penghakiman Allâh, yang
diberikan padamu dari tujuh surga” . Al-
Qimni melanjutkan, “Dan kami mengetahui sesuatu yang baru dari pembantaian ini.
Ternyata pembantaian tidak dilakukan hanya pada pria dewasa saja, tapi juga pada
anak² laki yang masih kecil”
Menurut penulis² sejarah Sira, Allâh menghadiahi Sa’ad bin Mu’aaz sebab usul
pembantaiannya dan dia mati sesaat sesudah pembantaian dilakukan. Malaikat Jibril
datang kepada Nabi di tengah malam dan mengatakan padanya bahwa Sa’ad bin Mu’aaz
mati dan takhta Allâh berguncang untuk menghormati Sa’ad. Upacara penguburan
jenazah Sa’ad dikunjungi oleh tujuh puluh malaikat (ibid: 397, mengutip dari al-Bihaqi,
hal. 28-29). Al-Qimni menyalahkan para penulis Sira terutama Ibn Hisyam sebab
menambah-nambahi muzizat² di sana-sini guna menunjukkan penghalalan pembantaian
warga Yahudi Banu Qurayzah dan kegagalan tentara sekutu Mekah menduduki
Medina. Al-Qimni menulis, “Meskipun Ibn Hisyam mengetahui di mana penipuan
dilakukan, bagaimana penipuan itu dilaksanakan, dan siapa yang melaksanakan untuk
mengikutsertakan Qurayzah dengan tentara sekutu Mekah, tapi Ibn Hisyam tetap saja
sebagai Muslim mengatakan dengan yakinnya bahwa ‘Allâh menggagalkan rencana²
mereka” (ibid: 388). Dan intervensi illahi ini dinyatakan pula di Qur’an 33:9 yang
mengatakan;
“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan)
kepadamu saat datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka
angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan yaitu Allah Maha
Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” Para tentara malaikat tidak berperang di Perang
Khandaq seperti di Perang Badr, tapi mereka menciptakan badai keras yang membuat
pihak tentara sekutu kalah dan akhirnya mundur
Menurut al-Qimni, kekalahan dan mundurnya tentara sekutu Mekah tidak ada
hubungannya dengan segala muzizat illahi. Sang Nabi tahu akan hal ini. Sama seperti
kaum Muslim punya titik lemah yakni perihal Banu Qurayzah, pihak sekutu pun punyha
titik lemah yakni suku Gathafan, yang merupakan ranting suku² Fazari
Melalui mata²nya, sang Nabi tahu bahwa suku Gathafan bergabung dengan pasukan
sekutu Mekah untuk balas dendam sebab Muhammad membunuh pemimpin wanita
mereka yang bijak yakni Umm Qirfa dengan cara menarik tubuhnya dengan dua ekor
unta sampai tubuhnya terbelah dua (ibid: 299, mengutip dari al-Tabari, hal. 643, dan al-
Suhaili, hal. 237). Umm Qirfa saat itu berusia 100 tahun dan dia dibunuh dengan cara
sangat keji tanpa alasan apapun, kecuali sebab dia terkenal sebagai wanita bijaksana di
Arabia (ibid). Muhammad tahu bahwa dia dapat meredakan amarah suku Ghatafan
dengan memberi mereka harta benda jika mereka mau meninggalkan tentara sekutu
Mekah.
Sang Nabi secara rahasia mengirim utusan kepada kedua tokoh pemimpin Ghatafan
yakni Husn dan Haris bin ‘Awf, dan meminta mereka mengundurkan diri dari tentara
sekutu dengan janji memberi mereka sepertiga hasil panen al-Medina. Tapi ‘Ainiah
yang serakah meminta separuh hasil panen Medina. Sang Nabi setuju untuk
memberikan separuh hasil panen dengan syarat para pemimpin Ghatafan harus
memecah-belah suku Qurayzah dan tentara sekutu Mekah
Melalui perjanjian dan penipuan rahasia ini, ketua Ghatafan yang bernama Nai’am bin
Mu’aaz, yang diam² jadi Muslim, berhasil menciptakan perpecahan antara tentara
sekutu Mekah dan Qurayzah (ibid: 386-387). Dia berhasil meyakinkan Yahudi Qurayzah
untuk tidak membuka benteng² mereka untuk tentara sekutu Mekah sebab mereka
tinggal di Medina dan akan berakibat buruk bagi mereka jika pasukan Quraish Mekah
dan Ghatafan kembali ke kota asal mereka. Nai’am bin Mu’aaz juga berhasil meyakinkan
pemimpin Quraish Mekah yakni Abu Sufyan bin Harb bahwa Yahudi Qurayzah menyesal
atas keputusan mereka dan meminta ampun pada sang Nabi. Katanya, para Yahudi
berkata pada sang Nabi, “Apakah kau akan senang jika kami menangkap kedua
pemimpin suku² Quraish dan Ghatafan, dan menyerahkan mereka padamu agar kau bisa
memenggal kepala mereka? Lalu, kami akan bergabung bersamamu di medan perang
sampai kita berhasil menghancurkan tentara mereka. Sang Nabi menjawab pada
mereka, ‘Ya’” (ibid: 387). Al-Qimni menyarikan kesimpulannya tentang Perang Khandaq
dan pembantaian Banu Qurayzah dengan mengutip perkataan Nabi pada Nai’am bin
Mu’aaz, “Tipulah mereka bagi kami jika kau bisa, sebab perang merupakan penipuan”
sesudah pengusiran dua suku Yahudi Quaynuqa dan Nadir dan pembantaian suku Yahudi
Qurayza, maka tak ada satu pun suku Yahudi yang tersisa di Medina. Yang masih ada
hanyalah suku Yahudi yang tinggal di kota Khaybar. Seluruh kota dihuni warga
Yahudi. Kota ini memiliki benteng² yang kuat. Sang Nabi memberitahu umatnya bahwa
dia menerima wahyu surgawi untuk mengalahkan kota ini (ibid: 442, mengutip dari al-
Bihaqi, hal. 197). Tak lama sesudah kejadian Perjanjian Hudaybiyah [20], Nabi mengambil
keputusan menyerang Khaybar. Menurut al-Qimni, saat ini sang Nabi benar² telah
memerangi warga Yahudi dan agama mereka sepenuhnya dan mulai menerapkan
ibadah² agama pagan Mekah ke dalam Islam. Tentang hal ini al-Qimni berkata, “Sang
Nabi tahu sekali bahwa kaum Yahudi dengan kitab suci dan warisan budaya sejarah
mereka, tidak akan pernah mengakuinya sebagai Nabi di kota Medina, di negara
Islamnya yang kecil. sebab itulah dia melakukan serangan cepat membersihkan Yathrib
dari kaum Yahudi” (ibid: 367). Selain itu, al-Qimni yakin bahwa warga pagan Mekah
senang dengan kenyataan Muhammad memasukkan unsur ibadah pagan Mekah ke
dalam Islam.
Sekarang semua simbol² agama Yahudi dalam Islam ditanggalkan. Qibla ke Yerusalem
diganti jadi qibla ke Ka’bah di Mekah. Sang Nabi lalu mulai memuji-muji Ka’bah yang
senantiasa disembah kaum pagan Arab di sepanjang sejarah mereka di masa Jahiliyah.
Perubahan ini diketahui oleh suku² Quraish di Mekah. Mereka tahu bahwa sesudah
Perang Khandaq, Nabi menyingkirkan suku Yahudi terakhir di Yathrib, dan dengan
perjanjian Hudaybiyah, hati Nabi kembali kepada asal-usulnya yakni Arab-Mekah-
Quraish. Dia lalu menyerap tatacara ibadah pagan Quraish (ibid: 437).
24
Penyerangan Khaybar
Duapuluh hari sesudah Perjanjian Hudaybiyah, sang Nabi memimpin pasukan Muslim
menyerang Khaybar. Khaybar yaitu kota kedua, sesudah Mekah, yang terpenting dan
terbaik kekuatan militernya. warga Yahudi Khaybar tidak mengira Muhammad
akan menyerang mereka sehingga saat tentara Muslim tiba, mereka sangat kaget.
Akan namun , kota ini dilindungi oleh benteng² Khaybar yang kokoh dan mereka menolak
tuntutan Nabi agar mereka menyerah (ibid: 444). saat kota Khaybar menolak untuk
menyerah, “Sang Nabi mengambil keputusan untuk menggunakan ketepel² raksasa”
untuk menghancurkan benteng (ibid).
Menurut al-Qimni, ketepel² seperti itu belum pernah digunakan sebelumnya di Arabia
(ibid). saat pasukan Yahudi melihat ketepel² ini , “mereka tahu kematian mereka
sudah hampir tiba, dan jika Nabi menembak kota dengan ketepel² itu, maka kota itu
akan hancur berantakan dan semua penduduk kota akan mati” (ibid). Untuk
menghindari kehancuran hebat seperti itu, pemimpin Khaybar yakni Kinanah bin Abi al-
Haqiq muncul dari kota dan memegang bendera tanda menyerah. Dia menghadap Nabi
dan mengatakan keinginan warga Khaybar untuk menandatangani perjanjian
damai dengan Nabi. Sang Nabi setuju untuk membuat perjanjian dengan syarat “mereka
harus mengosongkan kota dan menyerahkan pada Nabi semua uang, benteng², dan
tanah mereka, dan mereka tidak boleh membawa benda kuning atau putih kecuali baju
yang menutupi tubuh mereka” (ibid, mengutip dari Ibn Kathir, al-Bedaia, hal. 200).
Selain itu, Nabi mengatakan pada Kinanah jika dia berani menyembunyikan sesuatu dari
Nabi maka Allâh dan RasulNya tidak lagi terikat perjanjian (ibid: 445, mengutip Ibn
Kathir, hal. 204). Al-Qimni juga mengambil sumber lain tentang peristiwa ini dan menulis
bahwa Nabi berkata pada Kinanah, “Dan jika kau menyembunyikan sesuatu dan aku
nantinya mengetahui hal itu, maka darahmu dan wanita²mu halal bagi kami” (ibid:
445, mengutip dari Ibn Sa’ad, al-Tabaqaat, hal. 81).
25
Ketepel raksasa kuno untuk melontarkan batu² besar ke benteng musuh.
sesudah Kinanah setuju untuk menyerahkan segala harta dan uang mereka, Nabi
bertanya padanya tentang harta karun yang dimiliki Yahudi Khaybar (ibid). Kinanah
menyangkal harta itu benar² ada. Menurut al-Qimni, pertanyaan Nabi hanyalah jebakan
saja sebab “Nabi sudah tahu tentang harta karun yang banyak itu dan di mana harta itu
disembunyikan” (ibid: 445, mengutip Ibn Sa’ad, hal.77). Keterangan tentang harta karun
itu telah diketahui Nabi dari seorang Yahudi yang “menjual warga nya dan
mengungkapkan rahasia persembunyian harta karun itu” (ibid:446). Sang Nabi
memerintahkan al-Zibiar bin al-’Awam untuk menyiksa Kinanah sampai dia menyatakan
persembunyian harta karun ini . Menurut Ibn Hisyam, “Al-Zibair menggunakan
obor api dan membakar pemimpin Yahudi itu sampai dia mati. sesudah itu, Nabi
menyuruh Muhammad bin Salamah memancung leher Kinanah dan leher saudara
Kinanah yakni Mahamoud bin Muslamah” (ibid, mengutip dari Ibn Hisyam, hal.43).
sesudah Kinanah dan saudara lakinya dipancung, “pedang Islam membabati para Yahudi
yang telah menyerah, dan membunuh sembilan puluh tiga orang Yahudi, begitu
menurut penjelasan Ibn Sa’ad” (ibid:447, mengutip dari Ibn Sa’ad, hal.77). Harta
rampokan dan para wanita Yahudi lalu dibagi-bagi diantara para Muslim (ibid: 448).
Menurut “semua penulis Sira dan sejarah Islam, dalam penyerangan Khaybar ini, para
Muslim memaksa wanita² Yahudi untuk berhubungan seks dengan mereka di tempat
terbuka, dan wanita² Khaybar diperkosa beramai-ramai, sampai Nabi menghentikan
perkosaan terhadap wanita² yang sedang hamil” (ibid, mengutip dari Ibn Said al-Nas,
‘Uyun al-Athar, hal.176). Sang Nabi sendiri mengambil Safiya bint Huaya (istri ketua
Yahudi Khaybar bernama Kinanah bin Abi al-Haqiq) sesudah sang Nabi membunuh
26
suaminya dan ayah Safiya (di pembantaian Yahudi Qurayza di pasar Medina) (ibid: 448-
449), mengutip dari Ibn Kathir, hal.197). Akan namun , seorang wanita Yahudi Khaybar
bernama Zainab bint al-Harith berusaha membunuh Nabi dengan menyuguhkan daging
kambing beracun di rumah Safiya bint Huaya (ibid:453, mengutip dari Ibn Kathir,
hal.211). saat Nabi menanyai Zainab mengapa dia berusaha membunuhnya, Zainab
menjelaskan pada Nabi, “kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, dan
saudara lakiku” (ibid: 454, mengutip dari al-Bihaqi, hal.257). Zainab dibunuh sesaat .
Racun dari daging kambing ini terus tinggal dalam tubnuh Nabi selama tiga tahun
sampai akhirnya menyebabkan kematian Nabi (ibid: 454, mengutip Ibn Kathir, hal.211).
Dengan demikian, umat Muslim yakin bahwa Nabi mati sebagai syahid (ibid: 454,
mengutip Ibn Kathir, hal.216).
Usaha Menyerang Kekaisaran Romawi
Al-Qimni mengisahkan secara detail berbagai penyerangan yang dilakukan tentara
Muslim terhadap suku² Arab, di bawah perintah dan komando sang Nabi. Serangan
militer itu terus dilakukan sampai hampir seluruh suku² Arab dikalahkan dan tunduk di
bawah kekuasaan negara Islam sang Nabi. Satu²nya kota yang masih belum dikuasai
negara Islam yaitu kota Mekah. Nabi mengatakan pada pasukannya bahwa Allâh telah
berjanji untuk menyerahkan harta kekayaan Kekaisaran Romawi dan Persia. Untuk
memenuhi janji ini, Nabi mengirimkan panglima militernya yakni Zayd bin Harith (bekas
anak angkat Muhammad) untuk memimpin tiga ribu pasukan Muslim ke Syria untuk
menyerang Kekaisaran Romawi, dan “Nabi tahu sekali bahwa pertempuran dengan
pasukan Romawi akan terjadi, dan bagaimana hasil akhirnya” (ibid: 469, mengutip Ibn
Kathir, hal. 241). saat panglima perang Romawi yakni Hercules mendengar
kedatangan tentara Muslim, “dia sendiri memimpin pasukan Romawi untuk menghadapi
pasukan penyerang yang berani mendekati kekaisarannya, dengan jumlah 100.000
tentara Romawi dan 100.000 tentara dari suku² Arab yang hidup dekat perbatasan Syria
dan bersekutu dengan pihak Romawi” (ibid). Pasukan Hercules yang amat besar ini
membunuh tiga panglima pasukan Muslim dan banyak tentara Muslim lainnya. saat
Khalid bin al-Walid (salah satu pemimpin pasukan Muslim) mleihat tentara Muslim
kalah, dia mengambil bendera Islam dan memerintahkan pasukan Muslim mundur dan
kembali ke Medina. Di pintu gerbang kota Medina, umat Muslim melempari pasukan
Muslim dengan pasir dan mengutuki mereka sebab meninggalkan medan perang (ibid:
470). Akan namun sang Nabi memenangkan umat Muslim dan berkata pada mereka,
“tentara Muslim tidak melarikan diri, tapi mengundurkan diri untuk sementara waktu”
(ibid: 470). Perkataan Nabi ini mengungkapkan keinginannya untuk “terus menyerang
kekuasaan Romawi dan Caesar)” (ibid).
Dalam kesempatan selanjutnya, Nabi sendiri pergi memimpin 30.000 pasukan Muslim
dengan 10.000 kuda untuk menyerang Syria. saat pasukan Muslim tiba di perbatasan
27
Kekaisaran Romawi di Syria, pasukan Romawi yang besar dan dipimpin Hercules telah
siap menghadapi mereka. Sang Nabi berubah pikiran dan kembali ke Medina (ibid,
mengutip Ibn Kathir, hal. 178 dan Ibn Said al-Nas, hal. 277). Untuk membenarkan
tindakan Nadi mundur dari medan perang melawan Romawi, para penulis Sira
menyalahkan Yahudi yang dituduh mereka melakukan rencana licik. Menurut al-Bihaqi,
“alasan yang membuat Nabi pergi melawan Romawi yaitu sebab rencana licik
Yahudi… tapi Allâh menyelamatkannya dari rencana licik ini ” (ibid). Rencana licik
ini dinyatakan oleh Jibril pada Nabi saat Nabi mencapai Tabuk, sehingga dia
membatalkan penyerangan dan kembali ke Medina (ibid: 533, Qur’an, Sura Al-Israa (17),
ayat 76, 77). Dengan demikian, janji Nabi untuk mengalahkan orang² Romawi dan
mengambil harta kekayaan mereka dan para wanitanya tetap tidak terpenuhi di jaman
Nabi. Malah sebenarnya nubuat Nabi dalam hadis berikut tetap tidak terpenuhi sampai
hari ini: “Serang Tabuk agar kau bisa mengambil gadis² berwarna kuning dan wanita²
kaum Romawi. Algid berkata, berikan ijinmu, tapi jangan goda kami dengan wanita²” (al-
Tabari menjelaskan ayat Qur’an di al-Tauba (9), ayat 49).
saat Nabi hampir tiba ajal, dia mengirim panglima militernya yakni Usama bin Zayd
bin al-Harith (anak Zayd bin al-Harith yang yaitu bekas anak angkat Nabi), untuk
menyerang pasukan Romawi di al-Sham atau “Bulan Sabit Subur”. Bersama Usama, Nabi
juga mengirim dua sahabatnya yakni menteri² Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab (ibid:
553). Akan namun kedua menteri Abu Bakr dan Umar tahu bahwa Nabi mengirim
mereka berdua bersama tentara Islam agar mereka berdua tidak terpilih sebagai
Kalifah pertama sebab Nabi ingin Ali yang jadi Kalifah pertama menggantinya. Akan
hal ini al-Qimni menulis, “Tapi mereka tahu rencana Nabi, dan sebab nya mereka
menolak penunjukkan Usama bin Zayd. Mereka menunda pengiriman tentara di Jiraph
[21] sampai Nabi wafat. Pada saat itu, mereka membatalkan rencana penyerangan dan
mencopot kedudukan Usama sebagai panglima tentara Muslim” (ibid: 556).
[21] Nama tempat di daerah sekitar Medina.
28
Penaklukan Mekah
Menurut Perjanjian Hudaybiyah, seharusnya perdamaian antara umat Muslim dan
warga Quraish Mekah berlangsung selama 10 tahun. saat perjanjian ini
ditandatangani, suku² Arab lainnya diberi pilihan untuk bergabung bersama Muhammad
atau Quraish (ibid: 473). sebab itu, “suku Khoza’a bergabung bersama Muhammad …
dan sewajarnya pula musuh suku Khoza’a yakni suku Bakr, bergabung bersama Quraish”
(ibid). Permusuhan suku Khoza’a dan suku Bakr sudah berlangsung lama sebelum
Perjanjian Hudaybiyah ditandatangani. Penjelasan dari artikel ² Sira:
Kembali ke masa sebelum ajakan masuk Islam dimulai. artikel ² ini menyatakan pada kita
rahasia di belakang pelanggaran Perjanjian Hudaybiyah … artikel ² ini menjelaskan pada
kita permusuhan penuh dendam antara suku² Khoza’a dan suku² Bakr dimulai saat
seorang pedagang Bakr melakukan perjalanan melewati daearah suku Khoza’a. saat
dia tiba di perumahan Khoza’a, warga Khoza’a membunuhnya dan merampas
barang dagangnya (ibid).
Pembunuhan pedagang Bakr ini mengakibatkan perang berdarah antara kedua suku
ini dan permusuhan terus terjadi saat Perjanjian Hudaybiyah ditandatangani.
Setahun sesudah Perjanjian ditandatangani “terjadi perang antara suku² Bakr dan
Khoza’a, dan penulis² Muslim menyalahkan suku Bakr … artikel ² Sira menyatakan:
keadaan jadi lebih buruk saat sejumlah orang Quraish memberi bantuan senjata pada
suku Bakr, dan beberapa orang Quraish mungkin ikut berperang dengan suku Bakr
melawan suku Khoza’a” (ibid: 474, mengutip dari Ibn Hisyam, hal. 84-85). saat berita
ini didengar Nabi, dia lalu mengumumkan perang melawan Quraish, dan
memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerang Mekah (ibid: 477).
saat pihak Quraish mendengar akan rencana penyerangan ini, “mereka mengirim
ketua suku Quraish dan pemegang bendera Quraish yakni Abu Sufyan Sakhar bin Harb
untuk menemui pemimpin Medina” (ibid: 475-476). Pemimpin Quraish meminta Nabi
untuk tidak menyerang sebab Quraish tidak ikut campur dalam pertikaian kedua suku
yang bermusuhan, dan masih tetap memegang teguh Perjanjian Hudaybiyah. Akan
namun Nabi menolak permintaan Abu Sufyan. Nabi bahkan tidak mau bicara dengan
pemimpin Quraish.
sebab itu, Abu Sufyan mendatangi Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab dan meminta
mereka untuk mencegah perang. Tapi Abu Bakr dan Umar tidak bersedia melakukan itu
sehingga pemimpin Quraish pergi ke rumah ‘Ali bin Talib dan meminta dia untuk
mencegah perang, tapi ‘Ali pun tidak mau melakukannya. sesudah itu Abu Sufyan
mendatangi Fatima, istri ‘Ali dan juga putri Nabi, dan memohon Fatima untuk mencegah
perang. Meskipun Abu Sufyan telah memohon dengan menyinggung perihal putranya
yakni al-Hussein, Fatima tetap tidak mau membantu Abu Sufyan (ibid: 476-477).
29
Pemimpin Quraish terus mengunjungi satu rumah ke rumah lainnya di Medina sampai
dia bertemu dengan al-‘Abass, paman Muhammad. Akan namun al-‘Abbas berkata
padanya, “Hati²lah kau, terima Islam dan bersaksilah tiada tuhan selain Allâh, dan
Muhammad yaitu Rasul Allâh, sebelum lehermu dipotong. Sesaat itu pula pemimpin
Quraish mengucapkan Syahadah [22] dan menjadi Muslim” (ibid: 480, mengutip Ibn
Hisyam, hal. 99). Menurut al-Qimni, pemimpin Quraish mengucapkan Syahadah sebab
takut dibunuh, tapi dalam hati dia tetap mengikuti agama kakek moyangnya (ibid).
[22] Syahada yaitu pengakuan “aku bersaksi tiada illah lain selain Allâh, dan Muhammad yaitu Rasul
Allâh.”
sesudah Abu Sufyan mengucapkan Syahadah, dia bertanya pada Nabi, “Apa yang harus
kulakukan dengan Dewiku ‘Uzza? Umar bin Khattab mendengar pertanyaan Abu Sufyan
sebab dia berada di sebelah tenda Nabi. Umar menjawab Abu Sufyan dengan suara
keras penuh ejekan, “Kami akan buang hajat di atas Dewi itu.” Abu Sufyan berkata,
“Hati²lah kau Umar. Kau yaitu orang keji. Biarkan aku bersama dengan saudara
sepupuku, sebab dengan dialah aku berbicara” (ibid:481, mengutip Ibn Hisyam, hal.99).
Sebelum kembali ke Mekah, Abu Sufyan ingin menyelamatkan warga Quraish dari
pembantaian oleh tentara Muslim yang bergerak mendekat. sebab nya, dia meminta
paman Nabi yakni al-‘Abass untuk menghadap Muhammad untuk menjamin
keselamatan warga Mekah. Nabi menjawab permintaan ini sebagai berikut,
“Siapapun yang masuk rumah Abu Sufyan akan selamat, siapapun yang menutup pintu
rumahnya dan diam di dalam rumahnya akan selamat, dan siapapun yang masuk Mesjid
suci akan selamat” (ibid: 481).
Dengan demikian, sewaktu pasukan Muslim masuk Mekah, kota itu tampak kosong.
Nabi langsung mengunjungi Ka’bah dan memerintahkan penghancuran patung² berhala
di sekitarnya. Selain itu, dia memerintahkan pembunuhan beberapa pria dan wanita
yang dulu menyakiti hatinya saat dia masih tinggal di Mekah (ibid: 487). Sesuai dengan
perintah Nabi, orang² ini tidak boleh diampuni, “bahkan jika mereka kedapatan
bersembunyi di balik tirai² Ka’bah” (ibid). Akan namun , sebab beberapa orang diampuni
atas permintaan sahabat Nabi.
Menurut al-Qimni, belas kasihan Nabi terhadap warga Quraish di Mekah
mengejutkan umat Muslim, terutama Muslim Ansar atau “pembantu²nya” dari Medina.
Dengan demikian, Muslim Ansar terkejut, dan warga Quraish pun terkejut, saat
mereka melihat Nabi menahan tangan² Muslim Ansar terhadap warga Mekah, dan
menahan tangan orang² terhadap satu sama lain, mengumumkan kesucian Ka’bah untuk
selamanya, membebaskan warga Quraish tanpa syarat, dan boleh beribadah
semua agama di Mekah, bahkan juga menghormati dan mengakui kesucian Batu Hitam
(ibid: 489, mengutip Ibn Hisyam, hal.94-95).
30
sesudah menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan darah, Nabi kembali ke ibukotanya
yakni Medina, dan di sana dia terus mengirimkan Sariha-nya atau “penyerangan militer
Islam” untuk menyerang suku² Arab lainnya dan memaksa mereka tunduk dengan
pedang di bawah kekuasaan negara Islam. Dengan begitu, suku² Arab tak punya pilihan
kecuali bergabung dengan negara Islam yang kuat dan menyelamatkan nyawa mereka
dari ancaman bunuh tentara Muslim, dan juga menyelamatkan wanita² mereka agar
tidak jadi Sabaia atau “tawanan perang wanita sebagai bagian dari jarahan perang.”
sebab itulah tahun penaklukkan Mekah dikenal sebagai tahun pelaksanaan (ibid: 543).
Banyak suku² Arab yang mengirimkan wakil² mereka untuk menyatakan ingin bergabung
dengan negara baru Islam dan memeluk Islam. Al-Qimni menyimpulkan dalam artikel nya
Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi) melalui perkataan Nabi yang
dikatakannya di hari² menjelang kematiannya, “Allâh memberikan kemenangan² bagiku
melalui teror (usaha membuat takut), dan memberikan padaku harta² jarahan perang”
(ibid: 553, mengutip dari Ibn Kathir, hal.197).
31
Bab 3
Peperangan di Masa Awal
Negara Islam
JUMLAH peperangan di masa awal Negara Islam yaitu banyak. “Ibu dari Segala Sumber
Literatur Islam” menjabarkan dengan detail setiap perang. Untuk menghindari detail²
mengerikan, maka kucantumkan daftar perang keji yang dilakukan Muhammad dan
umatnya. Muhammad berkata, “Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang²
sampai mereka berkata “tiada illah lain selain Allâh dan Muhammad yaitu Rasul Allâh”,
melakukan sholat, dan bayar zakat. Jika mereka melakukan itu, maka nyawa dan harta
mereka selamat.” (Sahih Muslim, #0033, dan Sahih al-Bukhari, volume 1, #387).
Ini yaitu isi surat Nabi Muhammad pada Julanda bersaudara yang disampaikan oleh
utusan Nabi yakni ‘Amr bin al-‘As al-Sahmi dan Abu Zaid al-Ansari:
Damai beserta dia yang mengikuti jalan yang benar! Aku memanggil kau untuk memeluk
Islam. Terimalah panggilanku, dan kau tak akan dilukai. Aku yaitu Rasul Allâh bagi
umat manusia, dan dunia harus bebas dari para pengacau. Jika kau menerima Islam, aku
akan beri kau kekuasaan. Tapi jika kau menolak Islam, kekuasaanmu akan hilang,
kuda²ku akan bertambat di daerahmu dan nubuatku akan terjadi terhadap kerajaanmu.
• 623 – Perang al-Nakhala
• 623 - Perang Waddan
• 623 - Perang Safwan
• 623 - Perang Dul-Ashir
• 624 - Muhammad mulai menyerang kafilah², suku² Arab dan Yahudi
• 624 - Perang Badr
• 624 - Perang Bani Salim
• 624 – Perang Zee Amr
• 624 - Perang Bani Qainuqa
• 624 - Perang Sawiq
• 624 - Perang Ghatfan
• 624 - Perang Bahran
• 625 - Perang Uhud
• 625 – Perang Dumatul Jandal.
• 625 - Perang Humra-ul-Asad
• 625 - Perang Banu Nudair
• 625 - Perang Dhatur-Riqa
32
• 626 - Perang Badru-Ukhra
• 626 - Perang Banu Mustalaq
• 627 – Perang Parit/Khandaq
• 627 - Perang Ahzab
• 627 - Perang Bani Quraiza
• 627 - Perang Bani Lahyan
• 627 - Perang Ghaiba
• 627 - Perang Khaibar
• 628 – Perang Humain.
• 628 - Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaybiyah dengan suku Quraish.
• 630 - Muhammad menaklukkan Makka.
• 630 - Perang Hunayn
• 630 – Usaha menyerang Tabuk
• 632 - Muhammad wafat
• 632 - Abu-Bakr, Kalifah pertama, bersama dengan Umar, Kalifah kedua, meneruskan
penyerangan militer untuk menaklukan Arabia di bawah Islam.
• 633 - Perang Oman
• 633 - Perang Hadramaut
• 633 - Perang Kazima
• 633 - Perang Walaja
• 633 - Perang Ulleis
• 633 - Perang Anbar
• 634 - Perang Basra
• 634 - Perang Damascus
• 634 - Perang Ajnadin
• 634 - Kalifah Abu Bakr wafat. Umar Ibn al-Khattab jadi Kalifah kedua
• 634 - Perang Namaraq
• 634 - Perang Saqatia
• 635 - Perang Jembatan
• 635 - Perang Buwaib
• 635 - Penaklukan Damascus
• 635 - Perang Fahl
• 636 - Perang Yermuk
• 636 - Perang Qadsiyia
• 636 - Penaklukan Madain
• 637 - Perang Jalula
• 638 - Perang Yarmouk
• 638 – Tentara Muslims menaklukan tentara Romawi dan masuk ke Yerusalem
• 638 - Penaklukan Jazirah
• 639 - Penaklukan Khuizistan dan Usaha Menyerang Mesir
• 642 - Perang Sinar di Persia
• 643 - Penaklukan Azarbaijan
• 644 - Penaklukan Fars
• 644 - Penaklukan Kharan.
33
• 644 - Umar dibunuh. Uthman Ibn ‘Affan jadi Kalifah ketiga
• 647 - Penaklukan pulau Cypress
• 648 – Perang terhadap Byzantium
• 651 – Perang Naval melawan Byzantium.
• 654 - Islam menyebar ke Afrika Utara
• 656 - Uthman dibunuh. Ali jadi Kalifah keempat
• 658 - Perang Nahrawan
• 659 – Perang Mesir
• 661 - Ali dibunuh
• 662 - Mesir jatuh dalam kekuasaan Islam
• 666 - Sisilia diserang Muslim
• 677 - Pengepungan atas Constantinople
• 687 - Perang Kufa
• 691 - Perang Deir ul Jaliq
• 700 - Perang Afrika Utara
• 702 - Perang Deir ul Jamira
• 711 – Muslim menyerang Gibraltar
• 711 – Penaklukan Spanyol
• 713 - Penaklukan Multan
• 716 - Perang Konstantinopel
• 732 - Perang Tours di Perancis
• 740 - Perang Nobles.
• 741 - Perang Bagdoura di Afrika Utara
• 744 - Perang Ain al Jurr.
• 746 - Perang Rupar Thutha
• 748 - Perang Rayy.
• 749 - Perang Isfahan
• 749 - Perang Nihawand
• 750 - Perang Zab
• 772 - Perang Janbi di Afrika Utara
• 777 - Perang Saragossa di Spanyol
34
Peperangan Negara Nabi sesudah Kafilah Uthman [23]
[23] Timeline of Islamic History, 7th Century, “Wikipedia” Answers.com
• 656 - Uthman dibunuh. Ali ibn Abi Talib menjadi Kalifah keempat.
• 656 - Perang Onta. (Tentara Ali vs. tentara Aisyah).
• 657 - Ali memindahkan ibukota dari Medina ke Kufa di Iraq, 170 km sebelah selatan
Baghdad.
• 657 - Perang Siffin
• 658 - Perang Nahrawan.
• 659 - Mesir ditaklukkan oleh Muawiyah I.
• 660 - Ali menguasai kembali Hijaz dan Yemen dari kekuasaan Muawiyah.
Muawiyah I mengumumkan sebagai Kalifah di Damascus.
• 661 - Ali dibunuh. Digantikan oleh anaknya Hasan bin Ali dan pengikutnya. Muawiyah
jadi satu²nya Kalifah.
• 662 - Muslim Kharijit memberontak
• 666 - Penyerangan atas Sicily
• 670 - Maju terus ke Afrika Utara. Uqba bin Nafe menemukan kota Qairowan di Tunisia.
Penaklukan atas Kabul.
• 672 - Penaklukan kota Rhodes. Penyerangan atas Khurasan.
• 674 - Tentara Muslim menyebrang ke Oxus. Bukhara menjadi negara kapal.
• 677 - Penaklukan Samarkand dan Tirmiz. Pengepungan atas Konstantinopel.
• 680 - Muawiyah wafat. Yazid I jadi Kalifah.
• 680 - Perang Karbala dan Husayn bin Ali dibunuh.
• 682 - Dari Afrika Utaram Uqba bin Nafe menyebrang samudra Atlantis dan diserang
tiba² dan dibunuh di Biskra. Muslim meninggalkan Qairowan dan mundur ke Burqa.
• 683 - Yazid wafat. Muawiya II jadi Kalifah.
• 684 - Abd Allah ibn Zubayr mengumumkan diri sebagai Kalifah di Mekah. Marwan I jadi
Kalifah di Damaskus. Perang Marj Rahat.
• 685 - Marwan I wafat. Abd al-Malik jadi Kalifah di Damaskus. Perang Ain ul Wada.
• 686 - Mukhtar mengumumkan diri sebagai Kalifah di Kufa.
• 687 - Perang Kufa antara pasukan Mukhtar and Abd Allah ibn Zubayr. Mukhtar
dibunuh.
• 691 - Perang Deir ul Jaliq. Kufa jatuh ke tangan Abdul Malik.
• 692 - Mekka jatuh. Kematian ibn Zubayr. Abdul Malik jadi satu²nya Kalifah
• 695 - Muslim Kharijite memberontak di Jazira dan Ahwaz. Perang
Karun. Penyerangan atas Kahina di Afrika Utara. Tentara Muslim lagi² mundur ke Barqa.
Tentara Muslim memasuki Tranoxiana dan menduduki Kish.
• 700 - Penyerangan terhadap kaum Berber di Afrika Utara.
• 711 - Muslim mulai menaklukan Sindh di Afghanistan.
• 717 - Muslims berusaha menguasai ibukota Byzantium dan gagal.
• 732 - Di Perang Poitiers, serangan Islam ditahan di Perancis, tapi terus masuk ke Asia
dan Afrika.
35
Bab 4
Kalifah Abu Bakr Al-Sidiq
ABU BAKR merupakan Kalifah pertama yang menggantikan Muhammad. Dia yaitu
ayah dari Aisyah, gadis cilik umur 6 tahun yang dikawini dan menjadi istri favorit Nabi
Muhammad. Al-Qimni menulis tentang Abu Bakr dalam artikel nya yang berjudul: Shukran
… Ibn Laden (Terima kasih… Ibn Laden), di bawah artikel yang berjudul “Murtad dalam
Islam.” Dia ingin membuktikan bahwa aturan murtad yaitu hasil karangan Kafilah
pertama Abu Bakr untuk menyingkirkan para saingan politiknya yang menentang
kepemimpinannya. Para Muslim ahli Islam jaman sekarang bersikeras bahwa aturan
murtad sah berdasarkan hadis Sahih Al-Bukhari, dengan demikian Abu Bakr hanyalah
mengikuti apa yang ditetapkan Nabi, yakni membunuh Muslim yang murtad
meninggalkan Islam. Dalam artikel ini, al-Qimni membantah pandangan itu.
Sumber pertama bagi para ahli Islam yaitu hadis di mana Nabi berkata, “Siapapun
yang meninggalkan agamanya, bunuh dia” (Qimni 2004:202). Ini yaitu hadis Sahih
Bukhari [24] dan merupakan hadis terpercaya bagi umat Muslim dan para ahli Islam.
Sumber kedua yaitu kisah di mana para sahabat Nabi membunuh seseorang yang
meninggalkan Islam. ‘Umar Ibn Al-Khatab protes terhadap pembunuhan itu sebab para
sahabat tidak memberi makan orang ini selama tiga hari dan tidak memintanya
untuk kembali memeluk Islam sebelum mereka membunuhnya. Sumber ketiga, yang
bahkan lebih dipercaya para ahli Islam yaitu Perang Murtad yang terkenal di mana Abu
Bakr sebagai Kalifah Pertama memerangi beberapa suku Arab yang tidak mau bayar
zakat sesudah kematian Nabi. Al-Qimni mempertanyakan ketiga sumber ini dan juga
mempermasalahkan penafsiran baru akan murtad yang diciptakan para ahli Islam dari
Pusat Riset Islam Universitas Al-Azhar.
Tafsir Baru Murtad
Beberap




