• coklatx.blogspot.com

    www.coklatx.blogspot.com

  • berasx.blogspot.com

    www.berasx.blogspot.com

  • kacangx.blogspot.com

    www.kacangx.blogspot.com

kehidupan muhammad 1


dalam artikel nya yang berjudul Al-Hizb Al-Hashmi Wa Tasis Al-Dawla Al-Islamya 

(Kelompok Hasmit dan Dasar Negara Islam), Sayydi Mahamoud al-Qimmi [3] menelusuri 

asal-usul agama Islam dari tokoh bernama Abd Al-Mutalab, kakek Muhammad. “Jika 

Tuhan ingin mendirikan sebuah negara, maka Dia akan menciptakan orang² seperti ini,” 

kata Abd Al-Mutalab sambil menunjuk putra²nya (al-Qimmi 1996:51). Menurut al-

Qimmi, gagasan mendirikan negara dan agama Islam berasal dari kakek Muhammad. 

Abd Al-Mutalab mengerti bahwa suku² Arab tak mungkin bersatu di bawah satu 

kerajaan sebab  tiadanya unsur pemersatu suku² ini . Dalam sebuah kerajaan, suku 

yang berkuasa akan mendominasi suku² lain dan hal ini tentunya tak dapat diterima 

suku² yang tak berkuasa. sebab  itulah, satu²nya cara menyatukan suku² Arab yaitu  

dengan menciptakan Raja-Nabi yang berkuasa atas mereka semua. Kesatuan seperti ini 

tidak dapat ditolak sebab  dianggap sebagai perintah Illahi. saat  Abd Al-Mutalab 

mengerti permasalahannya, dia meminjam contoh kisah Raja-Nabi Yahudi yakni Raja 

Daud dan anaknya yakni Raja Salomo. sesudah  itu, dia menciptakan agamanya sendiri 

yakni Al-Hanafiya [4], yang dia telusuri asalnya dari kakek moyang warga  Arab 

yakni Ibrahim atau Abraham.  

 

 

Dalam menyelidiki asal-usul Negara Islam, al-Qimni juga menyelidiki tentang kakek 

buyut Muhammad, yakni Qusay Ibn Kilab. Di jaman pra-Islam, banyak suku² Arab yang 

bertikai untuk memiliki kontrol atas kota penting Mekah. Suku Ibn Najjar mengambil alih 

Mekah dari suku Guraban, dan lalu suku Madar mengalahkan Ibn Najjar dan mengambil 

alih kekuasaan Mekah. Dari Madar, kontrol kota Mekah diteruskan ke suku dari Yemen 

yakni Khazah. Dan akhirnya suku Quraish, di bawah pimpinan Qusay Ibn Kilab, 

menguasai Mekah. Melalui “tipu muslihat, Qusay Ibn Kilab membawa kunci² al-Ka’bah 

[5] dari Gebshan al-Khousa’I, melalui pertukaran dengan sebotol minuman anggur” (al-

Qimni 1996:115). [6] saat  dia menguasai kota Mekah dan Ka’bah, Qusay mendirikan 

Dar Al-Nadwa atau “Rumah Bersama” (ibid:82, mengutip dari Ibn Kathir, al Bedya wa al-

Nihaia, hal.192). Di bawah kekuasaan Qusay, Mekah jadi negara kecil dan Dar al-Nadwa 

menjadi tempat demokrasi bagi suku² Baduy Arab. Menurut Ibn Kathir, Qusay menjadi 

raja dan seluruh suku² Arab tunduk padanya 

 

Di masa itu, Mekah bukanlah satu²nya kota Arab yang memiliki ka’bah. ada ka’bah 

di Najran, ka’bah di Shadad al-Aiadi, dan ka’bah di Qatafan (ibid:65). Setiap ka’bah 

didirikan sebagai rumah bagi tokoh pemimpin besar suku, yang dijuluki sebagai Rabb 

atau “tuan”, atau rumah bagi batu suci. Batu² gunung berapi dan batu² meteor 

merupakan benda² yang disembah oleh warga  Arab Baduy. Mereka menganggap 

kedua jenis batu ini  keramat sebab  batu berapi datang dari dalam bumi dan 

batu meteor datang dari dinding² rumah Tuhan di surga. Richard Burton, bintang film 

terkenal AS, dulu pura² jadi Muslim dan mengunjungi Mekah, sambil mengambil sedikit 

bagian dari Batu Hitam (Hajar Aswad) dan lalu meneliti jenis batu ini . Penelitian 

membuktikan bahwa Batu Hitam merupakan serpihan dari batu meteor (ibid:25). 

ada berbagai versi dongeng² Islamiah tentang asal-usul Batu Hitam. Sebuah 

dongeng menyatakan bahwa Adam diusir keluar dari surga dan dia membawa Batu 

Hitam ini dari surga dan turun ke bumi. Batu itu dulu sangat cemerlang dan putih tapi 

menjadi hitam sebab  menyedot semua dosa orang² yang menciumnya setiap tahun di 

ibadah Haji. Dongeng lain mengatakan Batu Hitam ini milik Abraham dan putranya 

Ishmael. Dikatakan bahwa Abraham dan putranya menggunakan Batu Hitam ini sebagai 

tangga untuk membangun Ka’bah. 

 

 


 

Sebuah kejadian penting terjadi di tahun 569 atau 570 M, yang dikenal oleh warga  

Arab sebagai Tahun Gajah, yang menambah pentingnya bangunan Ka’bah di Mekkah 

(ibid:76, al Suhaili mengutip dari Ibn Hisyam, di artikel nya al-Rawd, hal.77). Pemimpin 

Ethiopia yang bernama Abraha berusaha untuk menghancurkan Ka’bah, tapi tidak 

berhasil. Legenda Islam mengatakan bahwa burung² dari surga yang disebut sebagai 

“Tair al-Aba’abil” menjatuhkan batu² pada tentara² penyerang. Akan namun , penulis 

Ethiopia bernama Abbas Mahmoud al-Agaad yakin bahwa tentara Abraha terserang 

penyakit cacar (ibid:76, mengutip dari Al-Agaad, T’awal’ai al-Bi’atha al-Muhammadia, 

hal.145-146). Al-Agaad mengambil kesimpulan ini dari catatan² sejarah Byzantium yang 

ditulis oleh ahli sejarah bernama Procope, yang mengunjungi Mekah di Tahun Gajah. 

Mundurnya pasukan Abraha membuat warga  Mekah yakin bahwa tuhan suku 

Quraish telah menang berperang bagi mereka.  

 

saat  Qusay Ibn Kilab meninggal, dia meninggalkan warisan Ka’bah dan pemimpinan 

Mekah pada putra pertamanya yaitu  Abd Al-Dar. Akan namun , putra keduanya yakni 

 13 

Abd Manaf menginginkan kedudukan abangnya dan mencoba merebut kekuasaan 

dengan kekerasan. Al-Qimni menganggap penulis² sejarah dan penafsir Islam tidak adil 

sebab  berpihak pada Abd Manaf dan bukannya berpihak pada Abd Al-Dar (ibid:89). 

Putra² Abd Manaf yakni Hasyim, Abd Shams, Abd Mutalab, dan Nawfal, semuanya ingin 

berperang melawan putra² Abd Al-Dar. Akan namun , putra² Abd Al-Dar mengambil 

keputusan untuk menghormati ayah mereka dengan menghindari pertumpahan darah 

dan perpecahan sehingga mereka menyerahkan kekuasaan pada saudara² misannya. Al-

Qimni menjelaskan perbuatan putra² Abd Manaf sebagai berikut: “Dan kepemimpinan 

yang diambil alih melalui kekerasan dari rumah Abd Al-Dar, akhirnya jatuh ke tangan 

Hasyim, putra Abd Manaf.” (ibid:90, mengutip al-Tabari, al-Tarikh, hal.123). Tak lama 

sesudah  Abd Shams wafat, putranya yakni Umayyah mencoba mengambil alih kekuasaan 

dari pamannya Hasyim dengan kekerasan. Suku Quraish sekali lagi mencegah 

peperangan dengan cara meminta keputusan adil dari seorang imam Khazai. Imam ini 

menetapkan bahwa Umayyah harus diasingkan secara sukarela selama 10 tahun. Cucu 

Umayyah yang bernama Mu’awiyya nantinya mencoba merebut kekuasaan yang 

dirampas dari kakek buyutnya, dan dia lalu mendirikan kekalifahan Umayyah dan 

membunuh habis keturunan Hasyim sampai tiada yang tersisa lagi (ibid).  

 

 

Keturunan Putra² Qusay Ibn Kilab 

 

…………………….Qusay Ibn Kilab……………………. 

 

Abd al-Dar ……………………………………Abd Manaf 

…………………………………..Hashim/ Abd Shams/ Al-Mutalab/ Nawfal 

……………………………………Abd al-Mutalab/ ………..Umayyah/ 

………………………………………………………………………Abu Sufyan Ibn Hareb 

………………………………………………………………………Mu’awiyya 

………………………………………………………………………(Kekalifaham Umayyah) 

 

 

 

Keturunan Putra² Abd al-Mutalab 

 

…………………….Abd al-Mutalab……………………. 

 

Abd al-‘Aizi [8] / Abd Allah/ Talib/ Abbas/ Hamzah 

Nabi Muhammad/ ‘Ali (Shi’a)/ (Kekalifahan Abbasid) 

 

 

[8] Muhammad memberinya nama ejekan Abu Lahab dalam Qur'an, Sura al-Masad (111), ayat 1.  

 

 

  

Abd Al-Mutalab 

sesudah  kematian Hasyim, kepemimpinan Mekah dan Ka’bah diwariskan pada Abd Al-

Mutalab (ibid:98). Tak lama sesudah  dia menjadi pemimpin, Abd Al-Mutalab mulai 

“meletakkan fondasi agama baru di mana semua hati harus disatukan bagi satu Tuhan” 

(ibid:99). Dia memerintahkan penghapusan berhala². Tuhan tidak akan menerima 

ibadah seseorang kecuali melalui perbuatan² baiknya. Tuhan yang dimaksudnya yaitu  

Tuhan Ibrahim atau Abraham, bapak segala suku² Arab dan Yahudi. Abd Al-Mutalab 

mendapat penglihatan saat  dia sedang tidur di halaman Ka’bah bahwa Tuhannya 

Ibrahim telah memerintahkannya untuk menggali sumur Zamzam [9] (ibid:100, 

mengutip dari Ibn Hisyam, al Sira, hal.136, 139). Dia lalu melarang semua penyembahan 

dan ibadah pada berhala² dan meminta warga  Mekah kembali pada agama 

Ibrahim, yang disebutnya sebagai agama Hanafiya. saat  bulan Ramadhan tiba, dia 

akan pergi ke gua Hira [10] untuk bertapa di sana. Abd Mutalab mulai mengajak 

warga  Mekah untuk berbuat baik dan menghindari kejahatan sebab  dia percaya 

akan kebangkitan jiwa² orang mati dan penghakiman di hari kiamat. Sebenarnya Abd Al-

Mutalab bukanlah pendiri pertama agama Hanafiya. Menurut al-Qimni, beberapa orang 

dari Yemen mendirikan agama ini di abad pertama Masehi sebelum kelahiran Yesus 

Kristus (ibid:111, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal.59, dan Thuria Manquosh, 

al-Tawhid, hal.159). Abd Al-Mutalab tidak tahu asal-usul agama Hanafiya dan sebab nya 

dia memilih saja nabi Yahudi yakni Ibrahim (ibid, mengutip dari al-Fakhr al-Razi). 

warga  Yemen sudah terbiasa menyembah satu tuhan yang mereka sebut sebagai 

Al-Rahman (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mufasal, hal.59).  

 

[9] Sumur suci di Mekah 

[10] Nabi Muhammad mengaku bahwa malaikat Jibril datang padanya untuk pertama kali di gua ini dan 

menyampaikan ayat pertama Qur'an. Di jaman pra-Islam, gua ini dikenal sebagai "Khar Khirah", yang 

merupakan julukan tempat warga  Mekah buang hajat alias berak. Di jaman itu warga  Arab 

tidak punya WC di dalam tenda mereka.  

 

 

Banyak orang yang lalu menerima agama Abd Al-Mutalab dan beberapa dari mereka 

juga mengembangkannya. Pengikut² agama Hanafi [11] yang paling utama yaitu :  

 

Qas Ibn Sa’ad al-Ia’adi 

Dia mengajak orang² untuk mengikuti “Satu Tuhan, yang tidak melahirkan dan 

dilahirkan, dan padaNyalah segala sesuatu akan kembali” (ibid:112, mengutip dari al-

Shahirstani, al-Milal wa al-Nihel 1951, hal.96). sebab nya, dialah orang pertama di 

Jazirah Arabia yang menyebut tentang Tauhid atau Tuhan yang Esa.  

 

Suaid Ibn A’amir al-Mustalaq 

Dia mengatakan “orang tidak berdaya mengalami hal yang jelek atau baik. Semuanya 

sudah ditakdirkan oleh Tuhan.” (ibid, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, hal.219, 

259). Maka al-Mustalaq menetapkan pengertian tentang takdir.  

 

 

‘Awkia Bin Zohir al-Ia’adi 

Dia mengaku sebagai Nabi (ibid, mengutip dari Ibn Habib, al-Mahbar, hal.136, and al-

Awasi, Boloq Alarab, hal.260). Dia dulu sering pergi ke tempat yang rendah di Mekah, 

lalu naik tangga, dan mengatakan pada orang² bahwa Tuhan berkata padanya dari 

tempat ini. Akan namun  ‘Awkia tidak berhasil dalam usahanya mengaku sebagai Nabi 

(ibid).  

 

Waraqa Ibn Nawfal 

Dia mengajak orang² untuk beribadah pada Tuhannya Ibrahim dan mengikuti agama 

Hanafiya pada mulanya, tapi dia lalu memeluk sebuah sekte/bidah dari agama Kristen. 

Dia yaitu  saudara sepupu istri pertama sang Nabi, yakni Khadijah. Melalui Nawfal, 

Khadijah jadi yakin bahwa suaminya yaitu  seorang Nabi (ibid: 114, mengutip Ibn 

Hisyam, al-Sira, hal. 511-512).  

 

Ala’af Ibn Shihab al-Tamimi 

Dia percaya keesaan Tuhan, kebangkitan jiwa² yang mati, dan pahala bagi perbuatan 

baik dan hukuman bagi perbuatan jahat (ibid:115, mengutip dari al-Awasi, Boloq Alarab, 

hal.277).  

 

Umat Hanafiya melakukan praktek² ibadah seperti “sunat, naik haji ke Mekah, wudhu 

sesudah  bersetubuh, menolak penyembahan berhala, percaya pada satu Tuhan yang 

menentukan nasib baik dan jelek, dan semua di jagad raya ini telah ditakdirkan dan 

ditulis nasibnya.” (ibid:116, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, al-Mafasal, hal.290). Menurut 

al-Qimni, satu²nya yang belum ada bagi umat Hanafiya yaitu  seorang Nabi (ibid:116). 

saat  umat Hanafiya sadar pentingnya memiliki seorang Nabi, mereka lalu bersaing 

satu sama lain untuk menentukan siapa diantara mereka yang layak jadi Nabi. Mereka 

mengira wahyu akan dinyatakan pada satu orang yang mencapai tingkat spiritual dan 

kesucian yang tinggi (ibid:117). Salah satu dari mereka, yakni Zayd Ibn ‘Umar Ibn Nafil, 

tenar akan kerohaniannya dan dia tidak minum minuman beralkohol, tidak makan 

bangkai, darah, babi dan semuanya yang disembelih tanpa menyebut nama Allâh atau 

apapun yang dipersembahkan pada berhala (ibid:118, mengutip Ibn Hisyam, hal.206). 

Umat Hanafiya lainnya yaitu  Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi al-Salt yang tidak pernah 

menerima Islam sebab  mengira dia sendiri akan jadi Nabi (ibid:121, mengutip Dr. Jawad 

‘Ali, hal.280-281, Ibn Hisham hal.208-209, dan Ibn Kathir hal.206, 208). saat  dia 

diberitahu bahwa Nabi Muhammad membunuh orang² Mekah dalam perang Badr, dia 

menyobek-nyobek bajunya dan meratap-tangis dan berkata jika dia yaitu  Nabi, maka 

dia tidak akan membunuhi keluarganya sendiri (ibid, mengutip dari Dr. Jawad ‘Ali, hal. 

377, 378, 383).  

 

Al-Qimni menyatakan banyak sajak² yang ditulis oleh kedua pemeluk Hanafiya, yang lalu 

dimasukkan ke dalam Qur’an (ibid, hal.118-123). Berikut yaitu  contoh ayat yang ditulis 

oleh Umaiyya Ibn Abd Allah Ibn Abi Salt dan dimasukkan ke dalam Qur’an: 

 16 

 

 

Tentang Ibrahim saat  dia bermimpi akan membunuh putranya Ismail, 

Umaiyya berkata, “Wahai putraku, aku telah memberikanmu sebagai persembahan 

pada Tuhan, bersabarlah sebab  Allah akan menggantimu. Putranya menjawab bahwa 

segalanya milik Allâh tanpa perkecualian. Lakukan apa yang telah kau janjikan pada 

Allah dan jangan melihat darahku yang menutupi bajuku. Dan saat dia menanggalkan 

baju anaknya, Allâh mengganti putranya dengan persembahan halal seekor domba.  

 

Tentang Maria dan putranya Yesus, Umaiyya berkata,  

Dan dalam agamamu sebab  Tuhannya Maria yaitu  sebuah tanda, yang tentang Yesus 

putra Maria. Seorang malaikat datang pada Maria pada saat orang² sedang tidur, dan 

malaikat itu tampil nyata dan tidak tersembunyi. Dia berkata, “Jangan takut atau tak 

percaya pada para malaikat Tuhan dari ‘Aad dan Jariham. Aku yaitu  utusan al-Rahman 

yang memberimu seorang putra.” Maria berkata, “Bagaimana mungkin aku punya putra 

sedangkan aku tidak pernah jadi wanita jalang atau mengandung? 

 

Tentang Musa dan Harun dan kisah mereka dengan Firaun, Umaiyya berkata,  

sebab  kebaikan dan pengampunanMu kau mengangkat Musa sebagai seorang Nabi. 

Kau berkata padanya, pergilah kau dan Harun menghadap Firaun yang congkak. Katakan 

padanya, apakah kau membuat bumi tanpa gunung² untuk melindunginya? Dan katakan 

padanya, apakah kau membuat langit tanpa pilar² pendukung? 

 

Tentang Hari Kiamat, Umaiyya berkata,  

saat  mereka menghadap pada Takhta Allâh, yang mengetahui yang tersembunyi dan 

yang nyata. saat  kami datang menghadapNya, Dia yaitu  Tuhan yang pengasih dan 

janjiNya dipenuhi. Dan kaum berdosa dibawa dengan telanjang ke tempat terkututk bagi 

mereka. Di sana mereka tidak mati untuk beristirahat, dan mereka tetap berada dalam 

lautan api.  

 

Al-Qimni mengutip pernyataan Dr. Jawad ‘Ali sebagai berikut: 

ada banyak kesamaan pendapat dalam ayat² puisi di atas dengan apa yang tertulis 

dalam Qur’an tentang Hari Kiamat, Surga, dan Neraka. Terlebih lagi, kita dapatkan dalam 

puisi² Umaiyya konstruksi dan isi kalimat yang sama seperti yang tercantum dalam 

Qur’an dan ahadis. Tentu saja tidak mungkin bahwa Umaiyya menjiplak puisi ini  

dari Qur’an sebab saat itu Qur’an belum diwahyukan. Meskipun dia meninggal di tahun 

ke 9 Hijriah, kita tidak bisa membuat kesimpulan bahwa dia mencuri ayat² Qur’an 

sebab  saat itupun Qur’an belum selesai diwahyukan. (ibid: 123-124, Dr. Jawad ‘Ali, al-

Mafsal, hal. 384-385).  

 

Selain tentang agama Hanafiya, al-Qimni juga membahas sedikit tentang agama Al-

Sabiah atau Sabian. Menurut dia, umat Sabian “biasa sembahyang berkali-kali setiap 

hari dan hal ini merupakan kewajiban ibadah. Dalam sembahyang mereka melakukan 

qiyam (berdiri) dan ruk’u (berlutut dan bersujud), melakukan wudhu sebelum 

 17 

sembahyang, dan mencuci tubuh mereka sesudah  berhubungan sex, dan mereka punya 

beberapa ketentuan yang membatalkan wudhu.” (ibid:111, mengutip dari Mahmoud al-

‘Aqaad 1967, hal.144).  

 

 

Munculnya Nabi yang Ditunggu-tunggu 

 

sesudah  penjelasan latar belakang keadaan, al-Qimni berkata, “dan sesudah  Muhamad 

SAW mulai mengikuti jejak langkah kakeknya Abd Al-Mutalab di gua Hira, dan gua ini 

berubah jadi tempat suci dan terkenal dalam sejarah … dan dia beriman pada agama 

Hanafiya, dan sebelum mencapai usia 40 tahun, dia menyatakan diri sebagai Nabi 

ummat [12], sesudah  Tuhan Ibrahim menyatakan diri padanya.” (ibid:132).  

 

[12] Qalam 68:13 “yang kaku kasar, selain dari itu, yang terkenal kejahatannya.” 

 

Pada mulanya, warga  Mekah tidak menentang atau menerima agama baru 

Muhammad. Akan namun , para pemimpin Mekah mulai protes saat  ayat² Qur’an mulai 

menghina mereka (ibid:134). Contohnya, dalam Sura Qalam ayat 68:13, Qur’an 

menyebut Al-Akhnas Ibn Shariq sebagai anak haram sebab  dia menyebut Muhammad 

sebagai orang sakit jiwa atau orang kesurupan (ibid, mengutip dari Ibn Kathir, 

hal.243).[13]  Dalam Surah Al-Muddaththir, ayat 74:50, Qur’an menyatakan bahwa para 

ketua warga  suku sebagai keledai² sebab  mereka menolak masuk Islam (ibid). [14] 

Dalam Sura Al-Masad 111 (Api), Qur’an membantah pernyataan paman Muhammad 

yang bernama Abd al-‘Aizi, dan menyebut dia sebagai Abu Lahab atau “Bapak Api,” dan 

menyebut istrinya yang merupakan saudara perempuan Abu Sufyan, sebagai pembawa 

kayu bakar di neraka. Dan di Sura Al-Kafirun 109, Qur’an menyebut warga  Mekah 

sebagai kafir (ibid:135). Akan namun , para ketua Mekah tidak melihat bahaya dari Islam 

sampai Muhammad mulai membujuk para budak untuk memberontak terhadap 

majikan² mereka. Pada saat ini kelompok Abd Al-Dar mulai bersekutu dengan suku² 

Mekah lainnya untuk mencegah Islam berkembang (ibid:141, mengutip Ibn Hisyam, hal. 

238, 241). Mereka sekarang melihat bahwa putra² Abd Manaf mencoba menguasai 

seluruh suku² Arab melalui cara sebagai Nabi baru.  


 

 

Persekutuan dengan Suku² Medina 

 

saat  Muhammad mulai kehilangan harapan untuk mendapat dukungan di Mekah, dia 

menerima ajakan orang² Yahtrib [15] dari suku Al-Khaoz dan Al-Khazrig untuk tinggal di 

Yathrib dan jadi ketua mereka (ibid:150). Suku² Yathrib ingin menguasai kota Mekah 

dengan cara menyerang dan mencegat kafilah² dagang Mekah yang datang dari Al-Sham 

 18 

atau Syria menuju ke Mekah. Perbuatan penyerangan ini dihalalkan dalam Islam (ibid). 

Suku² Yahudi yang saat itu tinggal di Yathrib menerima persetujuan dari suku² Al-Khaoz 

dan Al-Khazrig, dan berjanji untuk berperang bersama dengan mereka. Dengan begitu, 

ayat² Qur’an memuji-muji kaum Yahudi dan nabi²mereka mulai bermunculan. Ayat² ini 

menyatakan warga  Yahudi melebihi segala warga  lain di seluruh dunia [lihat 

Qur’an, Sura² Al-Baqarah 2:62, Al-Maidah 5:44, Al-A’raf 7:157, dan As-Saff 61:6] (Ibid: 

150). Akan namun , sikap ramah Muhammad terhadap kaum Yahudi ini tidak lama 

berlangsung. Sang Nabi “bersikap ramah untuk beberapa saat pada kaum Yahudi, lalu 

mulai berdebat dengan mereka, dan menunggu bertindak sampai datang kesempatan 

baik untuk mencabut kuku² mereka (menyiksa mereka), dan akhirnya menghancurkan 

mereka sepenuhnya” (ibid:151, mengutip dari Ahmed al-Sharif, Makka wa al-Madina, 

hal.415).  

 

[15] Kaum Anshar merupakan pendukung Nabi dari Medina, dan kaum Mujahirin yaitu  umat Muslim 

Mekah yang hijrah bersama Nabi ke Medina.  

 

Tak lama sesudah  sang Nabi pindah ke Yahtrib, yang lalu dinamakannya sebagai Medina, 

dia membuat perjanjian dengan kaum Yahudi dan mulai menyerang kafilah² dagang 

Mekah, yang datang dari Al-Sham atau Syria (ibid:153). Persekutuan antara suku² 

Medina dan Muhammad berperanan penting dalam mengalahkan suku² Mekah. Dan 

akhirnya memang Mekah jatuh dan kelompok keluarga Hashmi mengambil alih 

kekuasaan di kota Mekah dan Medina. saat  Muhammad menguasai Ka’bah, suku² 

Arab menerima agama baru Islam (ibid: 154). Akan namun , kekuasaan keluarga Hashmi 

tidak berlangsung lama sesudah  sang Nabi wafat. Putra² Umayyah, yang diasingkan ke 

Syria, menunggu saat yang tepat untuk membalas dendam terhadap keluarga Hashmi. 

Dan saat  kesempatan baik tiba, mereka tidak hanya mengambil alih kekuasaan, tapi 

juga membunuh semua anggota keluarga Hashmi. Mereka membunuh cucu² 

Muhammad yakni Hasan dan Husyein, dan memusnahkan seluruh keluarga Hashmi 

dari muka bumi. Mereka juga bahkan menghancurkan Ka’bah dengan ketepel² raksasa 

(ibid:154). Ma’uwiyah, yang merupakan kalifah pertama bani Umayyad menulis syair 

yang menyarikan artikel  yang ditulisnya yakni Al-Hizb Al-Hashmi: 

Suku Hashmi bermain-main dengan kepemimpinan \\ Tiada kabar atau wahyu yang 

datang dari surga. (ibid:154, mengutip dari Muhammad al-Qazuni, hal.9, dan Ibn Kathir, 

al-Bedayia wa al-Nihaia, hal.227). 

 

Akan namun , kisahnya tidak berhenti dengan kesimpulan itu, namun diteruskan dalam 

artikel  Al-Qimni dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi). 

 

 

 

  

 

 

dalam bab Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi), al-Qimni menelaah 

secara detail peperangan yang dilakukan Nabi Muhammad dan dasar utama negara 

Islam pertama. Penelaahan al-Qimni berbeda dengan apa yang biasanya diungkapkan 

penulis sejarah. Dia menyingkirkan segala kisah muzizat² atau campur tangan illahi 

dalam peperangan ini , yang dipercaya para sejarawan Muslim sebagai alasan 

utama kemenangan perang di Negara Islam milik Nabi. Sebaliknya, al-Qimni menilai 

kemenangan ini terjadi sebab  kepemimpinan dan taktik militer Nabi Muhammad. 

Terlebih lagi, al-Qimni yakin bahwa kemenangan inilah yang membuat Nabi Muhammad 

mengganti nama kota Yathrib menjadi Medina. Sebelum hijrah dari Mekah ke Medina, 

pesan Islam berdasar pada pendekatan damai tanpa pemaksaan. Saat itu, ajaran Islam 

mengajak umat Muslim untuk bersabar dan menunggu pahala mereka di surga. Akan 

namun , sesudah  hijrah ke Medina, “semua umat Muslim, baik Muslim Anshar maupun 

Muslim Muhajirin, [16] diubah jadi tukang perang, penyerang², dan prajurit Negara Islam 

di Medina. Semua perubahan ini terjadi sesudah  tujuan berubah dari warga  yang 

beribadah pada tuhan kakek moyang menjadi pendirian sebuah Negara , yang diwakili 

oleh prajurit perang dan darah.” (al-Qimni 2001:164). Dengan adanya perubahan itu, 

pengikut Nabi pun jadi melonjak lebih banyak jumlahnya dan hal ini mengakibatkan 

kemenangan di Badr, seperti yang dijelaskan al-Qimni sebagai berikut: 

 

Dan ini yaitu  perubahan materi yang paling berbahaya, yang berperan sangat penting 

untuk menarik minat bergabung para tukang perang dari suku² yang lebih lemah, 

sesudah  sang Nabi berusaha selama tiga belas tahun di Mekah mengajak orang² 

memeluk agamanya tanpa keberhasilan nyata. Dulu di Mekah, ajakan memeluk Islam 

dilakukan dengan janji nikmat dan hidup berkelimpahan nantinya di surga… Akan namun , 

sesudah  Allâh memberi ijin pada Nabi dan umat Muslim yang setia untuk mengambil 

harta kafir, maka tujuan yaitu  memiliki harta duniawi dan ini tentunya menarik 

minat orang² miskin. Iming² harta jarahan duniawi ini membuat orang² lemah miskin 

bergabung jadi prajurit di Negara Islam baru. (ibid:165). 

 

[16] Muslim Ansar yaitu  pendukung Nabi yang hidup di Medinah, sedangkan Muslim Muhajirin yaitu  

umat Muslim asal Mekah yang ikut hijrah bersama Nabi ke Medina.  

 

Menurut al-Qimni, sang Nabi berusaha bersekutu dengan tiga suku Yahudi utama yakni 

Quaynuqa, al-Nadir, dan Qurayzah di Medina, saat  dia masih lemah dan tidak punya 

banyak pengikut (al-Qimni: 141). Pada saat itu, ayat² Qur’an mengatakan “kedudukan 

umat Israel yang tinggi dalam sejarah politik di daerah kekuasaan Daud dan Salomo, dan 

tempatnya yang terhormat di sejarah agama Nabi² dari Nuh sampai Abraham dan Ishak 

 20 

dan Yusuf dan Musa, dll” (ibid). Qur’an dengan jelas menghormati dan mengakui Taurat 

milik umat Yahudi (ibid). Pada saat itu, Nabi puasa di hari Paskah Yahudi dan saat sholat 

berqibla [17] ke Yerusalem, kota suci umat Yahudi.  

[17] arah sholat.  

 

Al-Qimni yakin bahwa kaum Yahudi Medina menerima persekutuan dengan Muhammad 

sebab  adanya kemungkinan hal ini mendatangkan keuntungan pula bagi mereka di 

masa depan (ibid). Akan namun , “Yahudi Medina, yang mengharap peruntungan masa 

depan, mendapatkan bahwa mereka sangat salah duga, terutama sesudah  mengalahkan 

pasukan Quraish di Badr. Sudah jelas sekarang bahwa para Muslim merampas harta 

benda Quraish di Badr dan mereka jadi penuh percaya diri dan tidak butuh persekutuan 

dengan kaum Yahudi lagi” (ibid: 141-142). Tak lama sesudah  Nabi menang perang di 

Badr, “dia mengumpulkan orang² Yahudi di pasar Quaynuqa dan berkata pada mereka: 

‘wahai masayarakat Yahudi, terimalah Islam sebelum terjadi padamu apa yang telah 

terjadi pada suku Quraish’ “ (ibid:243, mengutip dari al-Bihaqi, hal. 173). Meskipun Nabi 

tidak memberi Yahudi Quaynuqa pilihan lain kecuali Islam atau mati, al-Qimni 

menjelaskan bahwa artikel ² Sira Islam [18] menunjukkan penghalalan sikap pembantalan 

perjanjian dengan kaum Yahudi (ibid: 244). Menurut para penulis sejarah di Sira Islam, 

seorang Muslimah datang ke pasar Quaynuqa untuk belanja dan sekelompok pemuda 

Yahudi menggodanya dan hal ini mengakibatkan bagian tubuhnya tersingkap. sebab  itu 

seorang Muslim membunuh salah seorang dari pemuda² Yahudi itu, dan para Yahudi 

lalu membalas bunuh Muslim ini . Al-Qimni menolak menerima keterangan ini 

sebagai penghalalan pengusiran seluruh suku Yahudi Quaynuqa dari Yathrib sehingga 

mereka terpaksa keluar dari Jazirah Arabia dan tinggal di al-Sham atau Syria 

 

Suku Yahudi yang kedua yaitu  suku al-Nadir, yang dituduh Nabi berencana untuk 

membunuhnya. Al-Qimni sekali lagi meragukan alasan seperti itu sebagai penghalalan 

pengusiran seluruh suku al-Nadir dari Arabia sesudah  merampas semua harta benda dan 

kekayaan mereka dan lalu membagi-bagikannya diantara umat Muslim. Akan namun , kali 

ini penghalalan dinyatakan dari surga sebab  “surga memberitahu sang Nabi melalui 

malaikat Jibril bahwa sebagian Yahudi berkata satu sama lain, ‘kau tidak akan 

mendapatkannya seperti dia sekarang ini,’ dan Rasul Allâh sedang duduk dekat salah 

satu tembok mereka, ‘seseorang harus naik ke atas rumah dan menjatuhkan batu 

padanya sehingga membunuhnya dan kita lalu bisa hidup dengan tenang” (ibid: 355, 

mengutip Ibn Kathir, al-Bedya, hal. 76). sesudah  malaikat Jibril menyatakan rencana 

pembunuhan itu pada Nabi, dia lalu menyerang suku Nadir dan memaksa mereka 

menyerah padanya. sesudah  itu, lagi² sang Nabi membagi-bagikan harta kekayaan kaum 

Yahudi diantara umat Muslim dan kaum Yahudi pun harus keluar dari Arabia dan 

akhirnya tinggal di Palestina 


Pembantaian Yahudi Qurayzah 

 

Suku Yahudi Qurayzah dituduh bersekongkol dengan musuh di Khazwat al-Khandaq 

atau Perang Parit. Menurut al-Qimni, pihak sekutu Mekah mengepung Medina dan 

berusaha menyerang Muhammad dan umat Muslim. saat  Muhammad tahu tentang 

penyerangan ini, dia menggali parit di sekeliling Medina untuk mencegah musuh masuk 

kota itu. Satu²nya tempat yang tidak dilindungi yaitu  tempat tinggal bani Qurayzah 

yang hidup dalam benteng² mereka yang kuat. Nabi tahu titik lemah persetujuannya 

dengan umat Yahudi. saat  pihak musuh sedang mengepung Medina, Muhammad 

mendengar berita bahwa kaum Yahudi setuju untuk membuka benteng² mereka 

sehingga pihak musuh dapat masuk dan menghancurkan pasukan Muslim. Akan namun , 

al-Qimni meragukan kebenaran rencana rahasia sebab  kenyataan suku Yahudi tidak 

pernah membuka benteng mereka untuk musuh. Al-Qimni berpendapat, jikalau 

sekalipun kaum Yahudi setuju untuk membuka benteng² mereka tapi pada kenyataan 

mereka tidak mekalukan hal itu, maka seharusnya mereka tidak bisa dituduh melanggar 

perjanjian dengan Nabi (ibid: 384).  

 

Dalam keterangan rinci yang tragis dan dramatis, al-Qimni mengisahkan bagaimana suku 

Qurayzah dipenggal tanpa ampun tak lama sesudah  tentara sekutu Mekah meninggalkan 

Medina. Sekali lagi, Jibril-lah yang membisiki sang Nabi untuk maju dengan pasukannya 

ke suku Qurayzah.  

 

Dikisahkan oleh Aisyah: saat  Rasul Allâh bebas dari serangan sekutu, dia masuk rumah 

lalu melakukan wudhu untuk sholat, Jibril datang padanya, kulihat kepala Nabi ditutupi 

debu. Jibril berkata pada Nabi ‘Oh Muhammad, apakah kau telah meletakkan 

senjatamu?’ Nabi berkata padanya, ‘Kami telah meletakkan senjata² kami.’ Jibril berkata 

padanya, ‘Kami belum meletakkan senjata² kami. Bangkit dan pergilah ke Banu 

Qurayzah…’ 

Rasul Allah memerintahkan muzzein [19] untuk memanggil orang², yang mendengar 

harus menurut untuk tidak melakukan sholat Asyar kecuali di tempat Banu Qurayzah 


 

Suku Qurayzah tidak punya pilihan kecuali menyerah pada pasukan Muslim dan 

menunggu nasib mereka. Mereka mengira Nabi akan mengsusir mereka seperti yang 

dilakukannya pada kedua suku Yahudi terdahulu, dan juga merampas semua harta 

kekayaan, ternak mereka. Akan namun  Muhammad menyerahkan keputusan akan nasib 

mereka pada seorang ketua Arab yang bernama Sa’ad bin Mu’aaz (yang luka parah 

akibat perang Khandaq). Sa’ad mengusulkan semua pria dibunuh dan wanita, anak², dan 

kekayaan dibagi-bagi diantara umat Muslim. Usul ini diterima Nabi dan dia berkata pada 

Sa’ad bin Mu’aaz, “Kau telah menghakimi mereka dengan penghakiman Allâh, yang 

diberikan padamu dari tujuh surga” . Al-

Qimni melanjutkan, “Dan kami mengetahui sesuatu yang baru dari pembantaian ini. 

 

Ternyata pembantaian tidak dilakukan hanya pada pria dewasa saja, tapi juga pada 

anak² laki yang masih kecil” 

Menurut penulis² sejarah Sira, Allâh menghadiahi Sa’ad bin Mu’aaz sebab  usul 

pembantaiannya dan dia mati sesaat  sesudah  pembantaian dilakukan. Malaikat Jibril 

datang kepada Nabi di tengah malam dan mengatakan padanya bahwa Sa’ad bin Mu’aaz 

mati dan takhta Allâh berguncang untuk menghormati Sa’ad. Upacara penguburan 

jenazah Sa’ad dikunjungi oleh tujuh puluh malaikat (ibid: 397, mengutip dari al-Bihaqi, 

hal. 28-29). Al-Qimni menyalahkan para penulis Sira terutama Ibn Hisyam sebab  

menambah-nambahi muzizat² di sana-sini guna menunjukkan penghalalan pembantaian 

warga  Yahudi Banu Qurayzah dan kegagalan tentara sekutu Mekah menduduki 

Medina. Al-Qimni menulis, “Meskipun Ibn Hisyam mengetahui di mana penipuan 

dilakukan, bagaimana penipuan itu dilaksanakan, dan siapa yang melaksanakan untuk 

mengikutsertakan Qurayzah dengan tentara sekutu Mekah, tapi Ibn Hisyam tetap saja 

sebagai Muslim mengatakan dengan yakinnya bahwa ‘Allâh menggagalkan rencana² 

mereka” (ibid: 388). Dan intervensi illahi ini dinyatakan pula di Qur’an 33:9 yang 

mengatakan; 

  

“Hai orang-orang yang beriman, ingatlah akan nikmat Allah (yang telah dikaruniakan) 

kepadamu saat  datang kepadamu tentara-tentara, lalu Kami kirimkan kepada mereka 

angin topan dan tentara yang tidak dapat kamu melihatnya. Dan yaitu  Allah Maha 

Melihat akan apa yang kamu kerjakan.” Para tentara malaikat tidak berperang di Perang 

Khandaq seperti di Perang Badr, tapi mereka menciptakan badai keras yang membuat 

pihak tentara sekutu kalah dan akhirnya mundur 

 

Menurut al-Qimni, kekalahan dan mundurnya tentara sekutu Mekah tidak ada 

hubungannya dengan segala muzizat illahi. Sang Nabi tahu akan hal ini. Sama seperti 

kaum Muslim punya titik lemah yakni perihal Banu Qurayzah, pihak sekutu pun punyha 

titik lemah yakni suku Gathafan, yang merupakan ranting suku² Fazari 

Melalui mata²nya, sang Nabi tahu bahwa suku Gathafan bergabung dengan pasukan 

sekutu Mekah untuk balas dendam sebab  Muhammad membunuh pemimpin wanita 

mereka yang bijak yakni Umm Qirfa dengan cara menarik tubuhnya dengan dua ekor 

unta sampai tubuhnya terbelah dua (ibid: 299, mengutip dari al-Tabari, hal. 643, dan al-

Suhaili, hal. 237). Umm Qirfa saat itu berusia 100 tahun dan dia dibunuh dengan cara 

sangat keji tanpa alasan apapun, kecuali sebab  dia terkenal sebagai wanita bijaksana di 

Arabia (ibid). Muhammad tahu bahwa dia dapat meredakan amarah suku Ghatafan 

dengan memberi mereka harta benda jika mereka mau meninggalkan tentara sekutu 

Mekah.  

 

Sang Nabi secara rahasia mengirim utusan kepada kedua tokoh pemimpin Ghatafan 

yakni Husn dan Haris bin ‘Awf, dan meminta mereka mengundurkan diri dari tentara 

sekutu dengan janji memberi mereka sepertiga hasil panen al-Medina. Tapi ‘Ainiah 

yang serakah meminta separuh hasil panen Medina. Sang Nabi setuju untuk 

memberikan separuh hasil panen dengan syarat para pemimpin Ghatafan harus 

 

memecah-belah suku Qurayzah dan tentara sekutu Mekah

 

Melalui perjanjian dan penipuan rahasia ini, ketua Ghatafan yang bernama Nai’am bin 

Mu’aaz, yang diam² jadi Muslim, berhasil menciptakan perpecahan antara tentara 

sekutu Mekah dan Qurayzah (ibid: 386-387). Dia berhasil meyakinkan Yahudi Qurayzah 

untuk tidak membuka benteng² mereka untuk tentara sekutu Mekah sebab  mereka 

tinggal di Medina dan akan berakibat buruk bagi mereka jika pasukan Quraish Mekah 

dan Ghatafan kembali ke kota asal mereka. Nai’am bin Mu’aaz juga berhasil meyakinkan 

pemimpin Quraish Mekah yakni Abu Sufyan bin Harb bahwa Yahudi Qurayzah menyesal 

atas keputusan mereka dan meminta ampun pada sang Nabi. Katanya, para Yahudi 

berkata pada sang Nabi, “Apakah kau akan senang jika kami menangkap kedua 

pemimpin suku² Quraish dan Ghatafan, dan menyerahkan mereka padamu agar kau bisa 

memenggal kepala mereka? Lalu, kami akan bergabung bersamamu di medan perang 

sampai kita berhasil menghancurkan tentara mereka. Sang Nabi menjawab pada 

mereka, ‘Ya’” (ibid: 387). Al-Qimni menyarikan kesimpulannya tentang Perang Khandaq 

dan pembantaian Banu Qurayzah dengan mengutip perkataan Nabi pada Nai’am bin 

Mu’aaz, “Tipulah mereka bagi kami jika kau bisa, sebab  perang merupakan penipuan” 


 

sesudah  pengusiran dua suku Yahudi Quaynuqa dan Nadir dan pembantaian suku Yahudi 

Qurayza, maka tak ada satu pun suku Yahudi yang tersisa di Medina. Yang masih ada 

hanyalah suku Yahudi yang tinggal di kota Khaybar. Seluruh kota dihuni warga  

Yahudi. Kota ini memiliki benteng² yang kuat. Sang Nabi memberitahu umatnya bahwa 

dia menerima wahyu surgawi untuk mengalahkan kota ini (ibid: 442, mengutip dari al-

Bihaqi, hal. 197). Tak lama sesudah  kejadian Perjanjian Hudaybiyah [20], Nabi mengambil 

keputusan menyerang Khaybar. Menurut al-Qimni, saat ini sang Nabi benar² telah 

memerangi warga  Yahudi dan agama mereka sepenuhnya dan mulai menerapkan 

ibadah² agama pagan Mekah ke dalam Islam. Tentang hal ini al-Qimni berkata, “Sang 

Nabi tahu sekali bahwa kaum Yahudi dengan kitab suci dan warisan budaya sejarah 

mereka, tidak akan pernah mengakuinya sebagai Nabi di kota Medina, di negara 

Islamnya yang kecil. sebab  itulah dia melakukan serangan cepat membersihkan Yathrib 

dari kaum Yahudi” (ibid: 367). Selain itu, al-Qimni yakin bahwa warga  pagan Mekah 

senang dengan kenyataan Muhammad memasukkan unsur ibadah pagan Mekah ke 

dalam Islam.  

 

Sekarang semua simbol² agama Yahudi dalam Islam ditanggalkan. Qibla ke Yerusalem 

diganti jadi qibla ke Ka’bah di Mekah. Sang Nabi lalu mulai memuji-muji Ka’bah yang 

senantiasa disembah kaum pagan Arab di sepanjang sejarah mereka di masa Jahiliyah. 

Perubahan ini diketahui oleh suku² Quraish di Mekah. Mereka tahu bahwa sesudah  

Perang Khandaq, Nabi menyingkirkan suku Yahudi terakhir di Yathrib, dan dengan 

perjanjian Hudaybiyah, hati Nabi kembali kepada asal-usulnya yakni Arab-Mekah-

Quraish. Dia lalu menyerap tatacara ibadah pagan Quraish (ibid: 437). 

 

 24 

 

 

Penyerangan Khaybar 

 

 

Duapuluh hari sesudah  Perjanjian Hudaybiyah, sang Nabi memimpin pasukan Muslim 

menyerang Khaybar. Khaybar yaitu  kota kedua, sesudah  Mekah, yang terpenting dan 

terbaik kekuatan militernya. warga  Yahudi Khaybar tidak mengira Muhammad 

akan menyerang mereka sehingga saat  tentara Muslim tiba, mereka sangat kaget. 

Akan namun , kota ini dilindungi oleh benteng² Khaybar yang kokoh dan mereka menolak 

tuntutan Nabi agar mereka menyerah (ibid: 444). saat  kota Khaybar menolak untuk 

menyerah, “Sang Nabi mengambil keputusan untuk menggunakan ketepel² raksasa” 

untuk menghancurkan benteng (ibid).  

 

Menurut al-Qimni, ketepel² seperti itu belum pernah digunakan sebelumnya di Arabia 

(ibid). saat  pasukan Yahudi melihat ketepel² ini , “mereka tahu kematian mereka 

sudah hampir tiba, dan jika Nabi menembak kota dengan ketepel² itu, maka kota itu 

akan hancur berantakan dan semua penduduk kota akan mati” (ibid). Untuk 

menghindari kehancuran hebat seperti itu, pemimpin Khaybar yakni Kinanah bin Abi al-

Haqiq muncul dari kota dan memegang bendera tanda menyerah. Dia menghadap Nabi 

dan mengatakan keinginan warga  Khaybar untuk menandatangani perjanjian 

damai dengan Nabi. Sang Nabi setuju untuk membuat perjanjian dengan syarat “mereka 

harus mengosongkan kota dan menyerahkan pada Nabi semua uang, benteng², dan 

tanah mereka, dan mereka tidak boleh membawa benda kuning atau putih kecuali baju 

yang menutupi tubuh mereka” (ibid, mengutip dari Ibn Kathir, al-Bedaia, hal. 200).  

 

Selain itu, Nabi mengatakan pada Kinanah jika dia berani menyembunyikan sesuatu dari 

Nabi maka Allâh dan RasulNya tidak lagi terikat perjanjian (ibid: 445, mengutip Ibn 

Kathir, hal. 204). Al-Qimni juga mengambil sumber lain tentang peristiwa ini dan menulis 

bahwa Nabi berkata pada Kinanah, “Dan jika kau menyembunyikan sesuatu dan aku 

nantinya mengetahui hal itu, maka darahmu dan wanita²mu halal bagi kami” (ibid: 

445, mengutip dari Ibn Sa’ad, al-Tabaqaat, hal. 81).  

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 25 

 

Ketepel raksasa kuno untuk melontarkan batu² besar ke benteng musuh. 

 

 

sesudah  Kinanah setuju untuk menyerahkan segala harta dan uang mereka, Nabi 

bertanya padanya tentang harta karun yang dimiliki Yahudi Khaybar (ibid). Kinanah 

menyangkal harta itu benar² ada. Menurut al-Qimni, pertanyaan Nabi hanyalah jebakan 

saja sebab  “Nabi sudah tahu tentang harta karun yang banyak itu dan di mana harta itu 

disembunyikan” (ibid: 445, mengutip Ibn Sa’ad, hal.77). Keterangan tentang harta karun 

itu telah diketahui Nabi dari seorang Yahudi yang “menjual warga nya dan 

mengungkapkan rahasia persembunyian harta karun itu” (ibid:446). Sang Nabi 

memerintahkan al-Zibiar bin al-’Awam untuk menyiksa Kinanah sampai dia menyatakan 

persembunyian harta karun ini . Menurut Ibn Hisyam, “Al-Zibair menggunakan 

obor api dan membakar pemimpin Yahudi itu sampai dia mati. sesudah  itu, Nabi 

menyuruh Muhammad bin Salamah memancung leher Kinanah dan leher saudara 

Kinanah yakni Mahamoud bin Muslamah” (ibid, mengutip dari Ibn Hisyam, hal.43).  

 

sesudah  Kinanah dan saudara lakinya dipancung, “pedang Islam membabati para Yahudi 

yang telah menyerah, dan membunuh sembilan puluh tiga orang Yahudi, begitu 

menurut penjelasan Ibn Sa’ad” (ibid:447, mengutip dari Ibn Sa’ad, hal.77). Harta 

rampokan dan para wanita Yahudi lalu dibagi-bagi diantara para Muslim (ibid: 448). 

Menurut “semua penulis Sira dan sejarah Islam, dalam penyerangan Khaybar ini, para 

Muslim memaksa wanita² Yahudi untuk berhubungan seks dengan mereka di tempat 

terbuka, dan wanita² Khaybar diperkosa beramai-ramai, sampai Nabi menghentikan 

perkosaan terhadap wanita² yang sedang hamil” (ibid, mengutip dari Ibn Said al-Nas, 

‘Uyun al-Athar, hal.176). Sang Nabi sendiri mengambil Safiya bint Huaya (istri ketua 

Yahudi Khaybar bernama Kinanah bin Abi al-Haqiq) sesudah  sang Nabi membunuh 

 26 

suaminya dan ayah Safiya (di pembantaian Yahudi Qurayza di pasar Medina) (ibid: 448-

449), mengutip dari Ibn Kathir, hal.197). Akan namun , seorang wanita Yahudi Khaybar 

bernama Zainab bint al-Harith berusaha membunuh Nabi dengan menyuguhkan daging 

kambing beracun di rumah Safiya bint Huaya (ibid:453, mengutip dari Ibn Kathir, 

hal.211). saat  Nabi menanyai Zainab mengapa dia berusaha membunuhnya, Zainab 

menjelaskan pada Nabi, “kau telah membunuh ayahku, pamanku, suamiku, dan 

saudara lakiku” (ibid: 454, mengutip dari al-Bihaqi, hal.257). Zainab dibunuh sesaat . 

Racun dari daging kambing ini  terus tinggal dalam tubnuh Nabi selama tiga tahun 

sampai akhirnya menyebabkan kematian Nabi (ibid: 454, mengutip Ibn Kathir, hal.211). 

Dengan demikian, umat Muslim yakin bahwa Nabi mati sebagai syahid (ibid: 454, 

mengutip Ibn Kathir, hal.216). 

 

 

 

Usaha Menyerang Kekaisaran Romawi 

 

Al-Qimni mengisahkan secara detail berbagai penyerangan yang dilakukan tentara 

Muslim terhadap suku² Arab, di bawah perintah dan komando sang Nabi. Serangan 

militer itu terus dilakukan sampai hampir seluruh suku² Arab dikalahkan dan tunduk di 

bawah kekuasaan negara Islam sang Nabi. Satu²nya kota yang masih belum dikuasai 

negara Islam yaitu  kota Mekah. Nabi mengatakan pada pasukannya bahwa Allâh telah 

berjanji untuk menyerahkan harta kekayaan Kekaisaran Romawi dan Persia. Untuk 

memenuhi janji ini, Nabi mengirimkan panglima militernya yakni Zayd bin Harith (bekas 

anak angkat Muhammad) untuk memimpin tiga ribu pasukan Muslim ke Syria untuk 

menyerang Kekaisaran Romawi, dan “Nabi tahu sekali bahwa pertempuran dengan 

pasukan Romawi akan terjadi, dan bagaimana hasil akhirnya” (ibid: 469, mengutip Ibn 

Kathir, hal. 241). saat  panglima perang Romawi yakni Hercules mendengar 

kedatangan tentara Muslim, “dia sendiri memimpin pasukan Romawi untuk menghadapi 

pasukan penyerang yang berani mendekati kekaisarannya, dengan jumlah 100.000 

tentara Romawi dan 100.000 tentara dari suku² Arab yang hidup dekat perbatasan Syria 

dan bersekutu dengan pihak Romawi” (ibid). Pasukan Hercules yang amat besar ini 

membunuh tiga panglima pasukan Muslim dan banyak tentara Muslim lainnya. saat  

Khalid bin al-Walid (salah satu pemimpin pasukan Muslim) mleihat tentara Muslim 

kalah, dia mengambil bendera Islam dan memerintahkan pasukan Muslim mundur dan 

kembali ke Medina. Di pintu gerbang kota Medina, umat Muslim melempari pasukan 

Muslim dengan pasir dan mengutuki mereka sebab  meninggalkan medan perang (ibid: 

470). Akan namun  sang Nabi memenangkan umat Muslim dan berkata pada mereka, 

“tentara Muslim tidak melarikan diri, tapi mengundurkan diri untuk sementara waktu” 

(ibid: 470). Perkataan Nabi ini mengungkapkan keinginannya untuk “terus menyerang 

kekuasaan Romawi dan Caesar)” (ibid).  

 

Dalam kesempatan selanjutnya, Nabi sendiri pergi memimpin 30.000 pasukan Muslim 

dengan 10.000 kuda untuk menyerang Syria. saat  pasukan Muslim tiba di perbatasan 

 27 

Kekaisaran Romawi di Syria, pasukan Romawi yang besar dan dipimpin Hercules telah 

siap menghadapi mereka. Sang Nabi berubah pikiran dan kembali ke Medina (ibid, 

mengutip Ibn Kathir, hal. 178 dan Ibn Said al-Nas, hal. 277). Untuk membenarkan 

tindakan Nadi mundur dari medan perang melawan Romawi, para penulis Sira 

menyalahkan Yahudi yang dituduh mereka melakukan rencana licik. Menurut al-Bihaqi, 

“alasan yang membuat Nabi pergi melawan Romawi yaitu  sebab  rencana licik 

Yahudi… tapi Allâh menyelamatkannya dari rencana licik ini ” (ibid). Rencana licik 

ini dinyatakan oleh Jibril pada Nabi saat  Nabi mencapai Tabuk, sehingga dia 

membatalkan penyerangan dan kembali ke Medina (ibid: 533, Qur’an, Sura Al-Israa (17), 

ayat 76, 77). Dengan demikian, janji Nabi untuk mengalahkan orang² Romawi dan 

mengambil harta kekayaan mereka dan para wanitanya tetap tidak terpenuhi di jaman 

Nabi. Malah sebenarnya nubuat Nabi dalam hadis berikut tetap tidak terpenuhi sampai 

hari ini: “Serang Tabuk agar kau bisa mengambil gadis² berwarna kuning dan wanita² 

kaum Romawi. Algid berkata, berikan ijinmu, tapi jangan goda kami dengan wanita²” (al-

Tabari menjelaskan ayat Qur’an di al-Tauba (9), ayat 49).  

 

saat  Nabi hampir tiba ajal, dia mengirim panglima militernya yakni Usama bin Zayd 

bin al-Harith (anak Zayd bin al-Harith yang yaitu  bekas anak angkat Nabi), untuk 

menyerang pasukan Romawi di al-Sham atau “Bulan Sabit Subur”. Bersama Usama, Nabi 

juga mengirim dua sahabatnya yakni menteri² Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab (ibid: 

553). Akan namun  kedua menteri Abu Bakr dan Umar tahu bahwa Nabi mengirim 

mereka berdua bersama tentara Islam agar mereka berdua tidak terpilih sebagai 

Kalifah pertama sebab  Nabi ingin Ali yang jadi Kalifah pertama menggantinya. Akan 

hal ini al-Qimni menulis, “Tapi mereka tahu rencana Nabi, dan sebab nya mereka 

menolak penunjukkan Usama bin Zayd. Mereka menunda pengiriman tentara di Jiraph 

[21] sampai Nabi wafat. Pada saat itu, mereka membatalkan rencana penyerangan dan 

mencopot kedudukan Usama sebagai panglima tentara Muslim” (ibid: 556).  

 

[21] Nama tempat di daerah sekitar Medina. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 28 

Penaklukan Mekah 

 

 

Menurut Perjanjian Hudaybiyah, seharusnya perdamaian antara umat Muslim dan 

warga  Quraish Mekah berlangsung selama 10 tahun. saat  perjanjian ini 

ditandatangani, suku² Arab lainnya diberi pilihan untuk bergabung bersama Muhammad 

atau Quraish (ibid: 473). sebab  itu, “suku Khoza’a bergabung bersama Muhammad … 

dan sewajarnya pula musuh suku Khoza’a yakni suku Bakr, bergabung bersama Quraish” 

(ibid). Permusuhan suku Khoza’a dan suku Bakr sudah berlangsung lama sebelum 

Perjanjian Hudaybiyah ditandatangani. Penjelasan dari artikel ² Sira: 

 

Kembali ke masa sebelum ajakan masuk Islam dimulai. artikel ² ini menyatakan pada kita 

rahasia di belakang pelanggaran Perjanjian Hudaybiyah … artikel ² ini menjelaskan pada 

kita permusuhan penuh dendam antara suku² Khoza’a dan suku² Bakr dimulai saat  

seorang pedagang Bakr melakukan perjalanan melewati daearah suku Khoza’a. saat  

dia tiba di perumahan Khoza’a, warga  Khoza’a membunuhnya dan merampas 

barang dagangnya (ibid).  

 

Pembunuhan pedagang Bakr ini mengakibatkan perang berdarah antara kedua suku 

ini  dan permusuhan terus terjadi saat  Perjanjian Hudaybiyah ditandatangani. 

Setahun sesudah  Perjanjian ditandatangani “terjadi perang antara suku² Bakr dan 

Khoza’a, dan penulis² Muslim menyalahkan suku Bakr … artikel ² Sira menyatakan: 

keadaan jadi lebih buruk saat  sejumlah orang Quraish memberi bantuan senjata pada 

suku Bakr, dan beberapa orang Quraish mungkin ikut berperang dengan suku Bakr 

melawan suku Khoza’a” (ibid: 474, mengutip dari Ibn Hisyam, hal. 84-85). saat  berita 

ini didengar Nabi, dia lalu mengumumkan perang melawan Quraish, dan 

memerintahkan pasukannya untuk bersiap menyerang Mekah (ibid: 477).  

 

saat  pihak Quraish mendengar akan rencana penyerangan ini, “mereka mengirim 

ketua suku Quraish dan pemegang bendera Quraish yakni Abu Sufyan Sakhar bin Harb 

untuk menemui pemimpin Medina” (ibid: 475-476). Pemimpin Quraish meminta Nabi 

untuk tidak menyerang sebab  Quraish tidak ikut campur dalam pertikaian kedua suku 

yang bermusuhan, dan masih tetap memegang teguh Perjanjian Hudaybiyah. Akan 

namun  Nabi menolak permintaan Abu Sufyan. Nabi bahkan tidak mau bicara dengan 

pemimpin Quraish.  

 

sebab  itu, Abu Sufyan mendatangi Abu Bakr dan Umar bin al-Khattab dan meminta 

mereka untuk mencegah perang. Tapi Abu Bakr dan Umar tidak bersedia melakukan itu 

sehingga pemimpin Quraish pergi ke rumah ‘Ali bin Talib dan meminta dia untuk 

mencegah perang, tapi ‘Ali pun tidak mau melakukannya. sesudah  itu Abu Sufyan 

mendatangi Fatima, istri ‘Ali dan juga putri Nabi, dan memohon Fatima untuk mencegah 

perang. Meskipun Abu Sufyan telah memohon dengan menyinggung perihal putranya 

yakni al-Hussein, Fatima tetap tidak mau membantu Abu Sufyan (ibid: 476-477).  

 29 

 

Pemimpin Quraish terus mengunjungi satu rumah ke rumah lainnya di Medina sampai 

dia bertemu dengan al-‘Abass, paman Muhammad. Akan namun  al-‘Abbas berkata 

padanya, “Hati²lah kau, terima Islam dan bersaksilah tiada tuhan selain Allâh, dan 

Muhammad yaitu  Rasul Allâh, sebelum lehermu dipotong. Sesaat  itu pula pemimpin 

Quraish mengucapkan Syahadah [22] dan menjadi Muslim” (ibid: 480, mengutip Ibn 

Hisyam, hal. 99). Menurut al-Qimni, pemimpin Quraish mengucapkan Syahadah sebab  

takut dibunuh, tapi dalam hati dia tetap mengikuti agama kakek moyangnya (ibid).  

 

[22] Syahada yaitu  pengakuan “aku bersaksi tiada illah lain selain Allâh, dan Muhammad yaitu  Rasul 

Allâh.” 

 

sesudah  Abu Sufyan mengucapkan Syahadah, dia bertanya pada Nabi, “Apa yang harus 

kulakukan dengan Dewiku ‘Uzza? Umar bin Khattab mendengar pertanyaan Abu Sufyan 

sebab  dia berada di sebelah tenda Nabi. Umar menjawab Abu Sufyan dengan suara 

keras penuh ejekan, “Kami akan buang hajat di atas Dewi itu.” Abu Sufyan berkata, 

“Hati²lah kau Umar. Kau yaitu  orang keji. Biarkan aku bersama dengan saudara 

sepupuku, sebab  dengan dialah aku berbicara” (ibid:481, mengutip Ibn Hisyam, hal.99).  

 

Sebelum kembali ke Mekah, Abu Sufyan ingin menyelamatkan warga  Quraish dari 

pembantaian oleh tentara Muslim yang bergerak mendekat. sebab nya, dia meminta 

paman Nabi yakni al-‘Abass untuk menghadap Muhammad untuk menjamin 

keselamatan warga  Mekah. Nabi menjawab permintaan ini sebagai berikut, 

“Siapapun yang masuk rumah Abu Sufyan akan selamat, siapapun yang menutup pintu 

rumahnya dan diam di dalam rumahnya akan selamat, dan siapapun yang masuk Mesjid 

suci akan selamat” (ibid: 481).  

 

Dengan demikian, sewaktu pasukan Muslim masuk Mekah, kota itu tampak kosong. 

Nabi langsung mengunjungi Ka’bah dan memerintahkan penghancuran patung² berhala 

di sekitarnya. Selain itu, dia memerintahkan pembunuhan beberapa pria dan wanita 

yang dulu menyakiti hatinya saat  dia masih tinggal di Mekah (ibid: 487). Sesuai dengan 

perintah Nabi, orang² ini tidak boleh diampuni, “bahkan jika mereka kedapatan 

bersembunyi di balik tirai² Ka’bah” (ibid). Akan namun , sebab  beberapa orang diampuni 

atas permintaan sahabat Nabi.  

 

Menurut al-Qimni, belas kasihan Nabi terhadap warga  Quraish di Mekah 

mengejutkan umat Muslim, terutama Muslim Ansar atau “pembantu²nya” dari Medina. 

 

Dengan demikian, Muslim Ansar terkejut, dan warga  Quraish pun terkejut, saat  

mereka melihat Nabi menahan tangan² Muslim Ansar terhadap warga  Mekah, dan 

menahan tangan orang² terhadap satu sama lain, mengumumkan kesucian Ka’bah untuk 

selamanya, membebaskan warga  Quraish tanpa syarat, dan boleh beribadah 

semua agama di Mekah, bahkan juga menghormati dan mengakui kesucian Batu Hitam 

(ibid: 489, mengutip Ibn Hisyam, hal.94-95).  

 30 

 

sesudah  menaklukkan Mekah tanpa pertumpahan darah, Nabi kembali ke ibukotanya 

yakni Medina, dan di sana dia terus mengirimkan Sariha-nya atau “penyerangan militer 

Islam” untuk menyerang suku² Arab lainnya dan memaksa mereka tunduk dengan 

pedang di bawah kekuasaan negara Islam. Dengan begitu, suku² Arab tak punya pilihan 

kecuali bergabung dengan negara Islam yang kuat dan menyelamatkan nyawa mereka 

dari ancaman bunuh tentara Muslim, dan juga menyelamatkan wanita² mereka agar 

tidak jadi Sabaia atau “tawanan perang wanita sebagai bagian dari jarahan perang.”  

 

sebab  itulah tahun penaklukkan Mekah dikenal sebagai tahun pelaksanaan (ibid: 543). 

Banyak suku² Arab yang mengirimkan wakil² mereka untuk menyatakan ingin bergabung 

dengan negara baru Islam dan memeluk Islam. Al-Qimni menyimpulkan dalam artikel nya 

Hurub Dawlat Al Rasul (Peperangan Negara Nabi) melalui perkataan Nabi yang 

dikatakannya di hari² menjelang kematiannya, “Allâh memberikan kemenangan² bagiku 

melalui teror (usaha membuat takut), dan memberikan padaku harta² jarahan perang” 

(ibid: 553, mengutip dari Ibn Kathir, hal.197). 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 31 

Bab 3 

Peperangan di Masa Awal  

Negara Islam 

 

 

JUMLAH peperangan di masa awal Negara Islam yaitu  banyak. “Ibu dari Segala Sumber 

Literatur Islam” menjabarkan dengan detail setiap perang. Untuk menghindari detail² 

mengerikan, maka kucantumkan daftar perang keji yang dilakukan Muhammad dan 

umatnya. Muhammad berkata, “Aku telah diperintahkan untuk memerangi orang² 

sampai mereka berkata “tiada illah lain selain Allâh dan Muhammad yaitu  Rasul Allâh”, 

melakukan sholat, dan bayar zakat. Jika mereka melakukan itu, maka nyawa dan harta 

mereka selamat.” (Sahih Muslim, #0033, dan Sahih al-Bukhari, volume 1, #387).  

 

Ini yaitu  isi surat Nabi Muhammad pada Julanda bersaudara yang disampaikan oleh 

utusan Nabi yakni ‘Amr bin al-‘As al-Sahmi dan Abu Zaid al-Ansari: 

 

Damai beserta dia yang mengikuti jalan yang benar! Aku memanggil kau untuk memeluk 

Islam. Terimalah panggilanku, dan kau tak akan dilukai. Aku yaitu  Rasul Allâh bagi 

umat manusia, dan dunia harus bebas dari para pengacau. Jika kau menerima Islam, aku 

akan beri kau kekuasaan. Tapi jika kau menolak Islam, kekuasaanmu akan hilang, 

kuda²ku akan bertambat di daerahmu dan nubuatku akan terjadi terhadap kerajaanmu.  

 

• 623 – Perang al-Nakhala 

• 623 - Perang Waddan 

• 623 - Perang Safwan 

• 623 - Perang Dul-Ashir 

• 624 - Muhammad mulai menyerang kafilah², suku² Arab dan Yahudi 

• 624 - Perang Badr 

• 624 - Perang Bani Salim 

• 624 – Perang Zee Amr 

• 624 - Perang Bani Qainuqa 

• 624 - Perang Sawiq 

• 624 - Perang Ghatfan 

• 624 - Perang Bahran 

• 625 - Perang Uhud 

• 625 – Perang Dumatul Jandal. 

• 625 - Perang Humra-ul-Asad 

• 625 - Perang Banu Nudair 

• 625 - Perang Dhatur-Riqa 

 32 

• 626 - Perang Badru-Ukhra 

• 626 - Perang Banu Mustalaq 

• 627 – Perang Parit/Khandaq 

• 627 - Perang Ahzab 

• 627 - Perang Bani Quraiza 

• 627 - Perang Bani Lahyan 

• 627 - Perang Ghaiba 

• 627 - Perang Khaibar 

• 628 – Perang Humain. 

• 628 - Muhammad menandatangani Perjanjian Hudaybiyah dengan suku Quraish. 

• 630 - Muhammad menaklukkan Makka. 

• 630 - Perang Hunayn 

• 630 – Usaha menyerang Tabuk 

• 632 - Muhammad wafat 

• 632 - Abu-Bakr, Kalifah pertama, bersama dengan Umar, Kalifah kedua, meneruskan 

penyerangan militer untuk menaklukan Arabia di bawah Islam.  

• 633 - Perang Oman 

• 633 - Perang Hadramaut 

• 633 - Perang Kazima 

• 633 - Perang Walaja 

• 633 - Perang Ulleis 

• 633 - Perang Anbar 

• 634 - Perang Basra 

• 634 - Perang Damascus 

• 634 - Perang Ajnadin 

• 634 - Kalifah Abu Bakr wafat. Umar Ibn al-Khattab jadi Kalifah kedua 

• 634 - Perang Namaraq 

• 634 - Perang Saqatia 

• 635 - Perang Jembatan 

• 635 - Perang Buwaib 

• 635 - Penaklukan Damascus 

• 635 - Perang Fahl 

• 636 - Perang Yermuk 

• 636 - Perang Qadsiyia 

• 636 - Penaklukan Madain 

• 637 - Perang Jalula 

• 638 - Perang Yarmouk 

• 638 – Tentara Muslims menaklukan tentara Romawi dan masuk ke Yerusalem 

• 638 - Penaklukan Jazirah 

• 639 - Penaklukan Khuizistan dan Usaha Menyerang Mesir 

• 642 - Perang Sinar di Persia 

• 643 - Penaklukan Azarbaijan 

• 644 - Penaklukan Fars 

• 644 - Penaklukan Kharan. 

 33 

• 644 - Umar dibunuh. Uthman Ibn ‘Affan jadi Kalifah ketiga 

• 647 - Penaklukan pulau Cypress 

• 648 – Perang terhadap Byzantium 

• 651 – Perang Naval melawan Byzantium. 

• 654 - Islam menyebar ke Afrika Utara 

• 656 - Uthman dibunuh. Ali jadi Kalifah keempat 

• 658 - Perang Nahrawan 

• 659 – Perang Mesir 

• 661 - Ali dibunuh 

• 662 - Mesir jatuh dalam kekuasaan Islam 

• 666 - Sisilia diserang Muslim 

• 677 - Pengepungan atas Constantinople 

• 687 - Perang Kufa 

• 691 - Perang Deir ul Jaliq 

• 700 - Perang Afrika Utara 

• 702 - Perang Deir ul Jamira 

• 711 – Muslim menyerang Gibraltar 

• 711 – Penaklukan Spanyol 

• 713 - Penaklukan Multan 

• 716 - Perang Konstantinopel 

• 732 - Perang Tours di Perancis 

• 740 - Perang Nobles. 

• 741 - Perang Bagdoura di Afrika Utara 

• 744 - Perang Ain al Jurr. 

• 746 - Perang Rupar Thutha 

• 748 - Perang Rayy. 

• 749 - Perang Isfahan 

• 749 - Perang Nihawand 

• 750 - Perang Zab 

• 772 - Perang Janbi di Afrika Utara 

• 777 - Perang Saragossa di Spanyol 

 

 

 

 

 

 

 

 

 34 

Peperangan Negara Nabi sesudah  Kafilah Uthman [23]  

[23] Timeline of Islamic History, 7th Century, “Wikipedia” Answers.com 

 

• 656 - Uthman dibunuh. Ali ibn Abi Talib menjadi Kalifah keempat. 

• 656 - Perang Onta. (Tentara Ali vs. tentara Aisyah).  

• 657 - Ali memindahkan ibukota dari Medina ke Kufa di Iraq, 170 km sebelah selatan 

Baghdad. 

• 657 - Perang Siffin 

• 658 - Perang Nahrawan. 

• 659 - Mesir ditaklukkan oleh Muawiyah I. 

• 660 - Ali menguasai kembali Hijaz dan Yemen dari kekuasaan Muawiyah. 

Muawiyah I mengumumkan sebagai Kalifah di Damascus. 

• 661 - Ali dibunuh. Digantikan oleh anaknya Hasan bin Ali dan pengikutnya. Muawiyah 

jadi satu²nya Kalifah. 

• 662 - Muslim Kharijit memberontak 

• 666 - Penyerangan atas Sicily 

• 670 - Maju terus ke Afrika Utara. Uqba bin Nafe menemukan kota Qairowan di Tunisia. 

Penaklukan atas Kabul.  

• 672 - Penaklukan kota Rhodes. Penyerangan atas Khurasan. 

• 674 - Tentara Muslim menyebrang ke Oxus. Bukhara menjadi negara kapal. 

• 677 - Penaklukan Samarkand dan Tirmiz. Pengepungan atas Konstantinopel. 

• 680 - Muawiyah wafat. Yazid I jadi Kalifah. 

• 680 - Perang Karbala dan Husayn bin Ali dibunuh. 

• 682 - Dari Afrika Utaram Uqba bin Nafe menyebrang samudra Atlantis dan diserang 

tiba² dan dibunuh di Biskra. Muslim meninggalkan Qairowan dan mundur ke Burqa. 

• 683 - Yazid wafat. Muawiya II jadi Kalifah. 

• 684 - Abd Allah ibn Zubayr mengumumkan diri sebagai Kalifah di Mekah. Marwan I jadi 

Kalifah di Damaskus. Perang Marj Rahat. 

• 685 - Marwan I wafat. Abd al-Malik jadi Kalifah di Damaskus. Perang Ain ul Wada. 

• 686 - Mukhtar mengumumkan diri sebagai Kalifah di Kufa. 

• 687 - Perang Kufa antara pasukan Mukhtar and Abd Allah ibn Zubayr. Mukhtar 

dibunuh. 

• 691 - Perang Deir ul Jaliq. Kufa jatuh ke tangan Abdul Malik. 

• 692 - Mekka jatuh. Kematian ibn Zubayr. Abdul Malik jadi satu²nya Kalifah 

• 695 - Muslim Kharijite memberontak di Jazira dan Ahwaz. Perang 

Karun. Penyerangan atas Kahina di Afrika Utara. Tentara Muslim lagi² mundur ke Barqa. 

Tentara Muslim memasuki Tranoxiana dan menduduki Kish.  

• 700 - Penyerangan terhadap kaum Berber di Afrika Utara. 

• 711 - Muslim mulai menaklukan Sindh di Afghanistan. 

• 717 - Muslims berusaha menguasai ibukota Byzantium dan gagal. 

• 732 - Di Perang Poitiers, serangan Islam ditahan di Perancis, tapi terus masuk ke Asia 

dan Afrika. 

 

 35 

 

 

 

 

 

Bab 4 

Kalifah Abu Bakr Al-Sidiq 

 

 

ABU BAKR merupakan Kalifah pertama yang menggantikan Muhammad. Dia yaitu  

ayah dari Aisyah, gadis cilik umur 6 tahun yang dikawini dan menjadi istri favorit Nabi 

Muhammad. Al-Qimni menulis tentang Abu Bakr dalam artikel nya yang berjudul: Shukran 

… Ibn Laden (Terima kasih… Ibn Laden), di bawah artikel yang berjudul “Murtad dalam 

Islam.”  Dia ingin membuktikan bahwa aturan murtad yaitu  hasil karangan Kafilah 

pertama Abu Bakr untuk menyingkirkan para saingan politiknya yang menentang 

kepemimpinannya. Para Muslim ahli Islam jaman sekarang bersikeras bahwa aturan 

murtad sah berdasarkan hadis Sahih Al-Bukhari, dengan demikian Abu Bakr hanyalah 

mengikuti apa yang ditetapkan Nabi, yakni membunuh Muslim yang murtad 

meninggalkan Islam. Dalam artikel ini, al-Qimni membantah pandangan itu.  

 

Sumber pertama bagi para ahli Islam yaitu  hadis di mana Nabi berkata, “Siapapun 

yang meninggalkan agamanya, bunuh dia” (Qimni 2004:202). Ini yaitu  hadis Sahih 

Bukhari [24] dan merupakan hadis terpercaya bagi umat Muslim dan para ahli Islam. 

Sumber kedua yaitu  kisah di mana para sahabat Nabi membunuh seseorang yang 

meninggalkan Islam. ‘Umar Ibn Al-Khatab protes terhadap pembunuhan itu sebab  para 

sahabat tidak memberi makan orang ini  selama tiga hari dan tidak memintanya 

untuk kembali memeluk Islam sebelum mereka membunuhnya. Sumber ketiga, yang 

bahkan lebih dipercaya para ahli Islam yaitu  Perang Murtad yang terkenal di mana Abu 

Bakr sebagai Kalifah Pertama memerangi beberapa suku Arab yang tidak mau bayar 

zakat sesudah  kematian Nabi. Al-Qimni mempertanyakan ketiga sumber ini dan juga 

mempermasalahkan penafsiran baru akan murtad yang diciptakan para ahli Islam dari 

Pusat Riset Islam Universitas Al-Azhar.  

 

 

Tafsir Baru Murtad 

 

Beberap